I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 112


__ADS_3

Alexa berdiri diantara para dokter yang akan bersiap menuju ke camp 5. ada 2 orang dokter yang diminta untuk datang saat ini dan salah satunya adalah dokter An. Alexa yang memang dekat dengan dokter wanita tersebut karena memang berada di tenda yang sama tentu ikut mengantarkannya.


Selain sibuk dan tempat yang tepat untuk menebar kebaikan. Camp 5 juga merupakan tempat paling menakutkan yang mereka tahu. Kebanyakan penghuni disana adalah tentara dan relawan perang. Warga sipil sudah banyak yang diungsikan sejak konflik pertama kali pecah.


"Jaga diri dokter, jangan lupa istirahat dan makan sesibuk apapun itu." Alexa memeluk erat tubuh wanita manis yang juga sedang memeluknya kini.


"Tentu. Kau juga jangan lupa melakukan hal yang sama. Jangan takut pada apapun dan tetaplah berjalan ditempat yang menurutmu memang terbaik dan kau inginkan."


Dokter An dan dokter Stev memasuki mobil yang akan membawa mereka ke camp 5 berkumpul dengan rekan lainnya yang sudah lebih dulu berada disana.


Sementara Alexa masih terpaku ditempatnya berdiri meski mobil telah menghilang dari pandangannya. Hingga Arya datang dan mengajaknya kembali.


"Kita juga akan kesana nanti."


"Aku tahu. Hanya saja aku merasa sedikit aneh dengan pesan dokter An. Tapi sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja."


Camp 3 dimana Alexa berada kini masih termasuk camp yang tak begitu sibuk sama dengan cam 2 dan 1. Sedangkan dua camp yang lainnya yakni camp 4 dan 5 adalah tempat paling sibuk dan paling ngeri.


*

__ADS_1


*


*


Kediaman Bram.


Suta berjalan tergesa, wajah datarnya membuat orang lain yang kebetulan berpapasan dengannya enghan untuk sekedar berbasa-basi menyapa. Mereka hanya menganggukan kepala hormat pada asisten Bram tersebut.


Tak jarang orang yang belum mengenal karakter Suta akan menganggap nya berlebihan. Karena jika dilihat, Bram lah yang seharusnya bersikap demikian. Namun alih alih seperti itu, Bram yang Notabenya adalah Bos besar Suta malah menunjukkan hal sebaliknya. Senyum lelaki tampan itu selalu bertengger di bibirnya yang tebal.


"Tuan muda." Suta masuk ke ruang kerja Bram. Keduanya kini berada di kantor Ayodya company.


Bram yang memang menunggu kedatangan Suta segera bangkit dan berpindah menuju sofa.


"Benar Tuan. Bahkan diperkirakan sudah sampai disana kemarin sore. Maaf, saya benar-benar kecolongan." Suta menunduk.


Bram memijit pelipisnya pelan. Dirinya memang marah waktu itu. Namun bukan berarti Williams bisa mengambil keputusan dan tindakan yang terbilang nekat kali ini. Bram hanya menyarankan agar sahabatnya tersebut mengambil cuti dirumah sakit agar bisa berpikir jernih. Akan tetapi hal mengejutkan yang sebaliknya terjadi saat dirinya mengetahui kemana sahabatnya itu pergi.


"Bagaimana keadaan disana?"

__ADS_1


"Menurut berita, konflik belumlah mereda. Saya tidak dapat memastikannya tuan." Bram mengangguk mengerti.


"Tapi ada kabar lain yang saya terima. Gadis kecil itu juga berada disana. Tadi pagi, saudara angkat dokter menghubungi saya. Pada kesempatan itu saya juga bertanya tentang dokter dan itulah yang dia jelaskan."


"Gadis kecil?" Suta mengangguk.


Edwin menghubunginya pagi tadi hanya sekedar membuat janji temu dan membicarakan kerja sama yang memang sudah terjalin diantara keduanya. Namun dengan otak cepatnya Suta sekalian bertanya tentang Williams yang dia yakini Edwin mengetahuinya.


Dan benar saja dugaannya, Will mengambil keputusan untuk pergi setelah mengetahui bahwa Alexa juga berada disana.


"Huuft, I see!!" Senyum kecil tersungging di bibir Bram.


Dugaannya tak pernah meleset. Perubahan yang terjadi pada Williams bulan bulan terakhir pasti ada hubungannya dengan gadis kecil itu. Dan Bram semakin yakin jika sang sahabat menyimpan rasa pada gadis yang ditolongnya dulu.


"Ya sudah, biarkan dia berusaha kalau begitu. Kita hanya perlu menunggu kabar nya." Cetusnya kemudian.


.


.

__ADS_1


.


"Sepertinya aku membutuhkan bantuan Jeffri." Gumamnya pelan.


__ADS_2