
Hari ini rencananya Alexa akan pergi bersama dengan Williams ke rumah sakit.Profesi keduanya yang sama sama sebagai dokter tentu membuat keduanya paham dan sejalan dalam hal mengenai kesehatan.
Alexa yang memang memilih menjadi dokter umum tentu lebih bebas dan biasa langsung membantu melayani pasien yang datang. Tak seperti Williams yang adalah seorang dokter ahli paru-paru. Ditambah lagi karena dirinyalah yang bertanggungjawab dan menjabat sebagai pemimpin rumah sakit tentu Will mempunyai kesibukan tersendiri yang harus dilakukan.
Tak banyak yang tahu jika rumah sakit tersebut sebenarnya adalah milik Bram yang sejatinya adalah sahabat karib Will sejak kuliah dulu. Yang orang ketahui selama ini adalah dokter Jhon Williams lah sebagai pemilik rumah sakit, besar, megah dan terkenal dermawan karena seringnya dilakukan operasi secara gratis bagi pasien yang tak mampu. Baik itu operasi jantung, paru-paru ataupun ginjal.
Will hanya menjalankan amanat yang diembannya dari sang empunya rumah sakit terdahulu, yakni ayah Bram. Beliau yang mencetuskan acara amal tersebut sejak pertama kali rumah sakit didirikannya.
Semua itu tentu mendapatkan banyak sekali dukungan. Tak jarang, banyak pengusaha maupun perusahaan besar yang turut andil dalam acara tersebut terutama mengenai biaya dan juga calon pasien yang layak mendapatkan bantuan. Mereka tak ingin apa yang mereka lakukan salah sasaran hingga membuat suatu kesalahan.
Will juga tak main main dalam memilih dokter di setiap acara tersebut berlangsung. Dokter ahli yang diturunkan olehnya tentu yang sudah diakui banyak orang dengan banyaknya rekam jejak baik di sepanjang karirnya. Meskipun bertajuk amal, Will tak ingin main main dan menimbulkan kesalahan karena itu akan berdampak pada kepercayaan masyarakat dan juga nama besar ayah Bram selaku pendiri rumah sakit.
"Jika lelah beristirahatlah, jangan dipaksakan." Will masuk kedalam poli umum dimana Alexa sedang bertugas. Gadis itu nampak mengusap peluh dikeningnya dengan selembar tissu. Nampak guratan lelah diwajah cantiknya meski senyuman terlihat di bibir manisnya.
"Aku hanya perlu minum saja sepertinya. Pasien sedang banyak hari ini. Sejak pulang dari Rusia, baru kali ini aku menangani pasien kembali. Rasanya sangat luar biasa, aku sangat senang melakukannya."
Will menyelipkan rambut di telinga Alexa. Gadis itu belum sempat merapikan kembali penampilannya.
"Kamu bisa melakukannya setiap hari jika mau. Tapi ingatlah untuk tetap menjaga kesehatanmu sendiri, sayang. Aku tak mau kamu sakit setelahnya."
"Heem, aku akan mendengarkan mu Hon. Sudah sana, kamu kembali ke ruanganmu. Jangan menggangguku, aku ingin fokus saat ini." Alexa mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ckck, sudah mulai berani mengusirku ya."
Will menoel ujung hidung Alexa pelan membuat gadis tersebut tersenyum sambil mengerlingkan matanya.
Kedua pasangan tersebut berpisah ketika Alexa kembali masuk kedalam sebuah ruangan dimana sudah ada dua orang dokter yang bertugas disana. Sementara Will kembali melangkah kearah ruangannya yang berada di lantai dua rumah sakit.
Wajah cerianya nampak di sepanjang koridor yang dilaluinya. Apa yang terjadi semalam masih terekam jelas dalam ingatannya. Sungguh Will ingin meluapkan rasa bahagianya saat ini. Bagaimana Alexa mengubah panggilannya dan pernyataan gadis cantik tersebut membuat hati dan jantungnya berdebar keras.
*
*
*
"Panggilan yang mana**?" Alisya pura-pura tak mengerti maksud Will gadis itu tentu malu mengingat apa yang telah dilakukannya tadi. Tak menyangkah bahwa apa yang diucapkannya secara spontan terdengar oleh Williams.
"Ayolah, sayang. Aku ingin mendengarnya."
"Aku nggak mengerti, Om." Alexa masih mengelak, membuat Will memikirkan cara agar gadisnya mau kembali mengulang panggilan tersebut padanya.
"Ya sudah jika tak mau, aku tak akan memaksamu kembali. Mungkin aku akan meminta orang lain melakukannya. Atau mungkin Clara, aku yakin dia tak akan keberatan untuk itu."
__ADS_1
Will membalikkan badannya berniat untuk berlalu. Namun cekalan dan pelukan erat di perutnya membuat langkahnya terhenti. Lelaki tampan tersebut menyunggingkan senyum tipis dibibirnya. Dia yang hanya ingin menguji tentu saja tak akan pernah melakukan hal tersebut, terlebih para Clara yang jelas ingin dia hindari.
"Jangan pernah memintanya pada orang lain. Karena aku tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku hanya ingin menyakinkan diri ini dengan apa yang akan aku jalani. Bagaimanapun banyak hal yang harus aku pikirkan. Bukan hanya tentang cinta, karena rasa itu nyatanya masih berada disana. Sekuat apapun aku mencoba untuk mengenyahkan rasa itu nyatanya aku tak pernah mampu. Dimanapun aku berada tetap nama dan wajah, Om yang terlihat nyata disana. Aku hanya tak ingin salah bertindak karena tentu saja aku juga memikirkan tentang keluargaku dan juga Oma." Pelukan itu semakin erat terasa. Will yang tak tahu harus merespon bagaimana hanya mampu terdiam. Dia sangat mengerti dengan apa yang menjadi pemikiran gadisnya.
"Aku tak akan memaksamu untuk melakukan hal yang tak kamu inginkan, sayang. Sejak awal aku sudah mengatakannya padamu. Apapun keputusanmu akan aku terima." Setelah terdiam beberapa waktu, Will berujar pelan seraya membelai punggung tangan Alexa yang masih melingkar erat di perutnya.
Tak ada yang bersuara, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Masih dalam posisi yang sama. Alexa memeluk Williams dari belakang. Gadis itu tak bergeming sedikitpun.
"Om, boleh aku meminta sesuatu padamu?" Lirihnya.
"Katakan!!"
"Aku ingin minggu, om meluangkan waktu minggu depan untuk mengantarkan aku pulang."
Tubuh Williams menegang, raut wajahnya berubah pias. Hatinya merasa cemas dengan apa yang akan didengarnya selanjutnya. Rasanya tak akan sanggup baginya, namun Will tetap berusaha tenang demi janjinya kepada Alexa yang tak akan memprotes apapun keputusan yang diambilnya.
"Aku ingin, kamu melamarku langsung dihadapan ayah dan mama. Aku juga ingin mewujudkan permintaan Oma sebelum aku berangkat kesini kemarin. Oma menginginkan untuk bisa tinggal bersama kita nantinya, jika kita sudah menikah. Entah dimanapun kamu akan membawaku untuk menetap. Hon, I love you."
Will tak mampu lagi berkata-kata, dibalikkannya tubuh secepat yang dia bisa dan direngkuhnya tubuh Alexa erat. Hatinya menghangat dengan buliran air bening mengiringi rasa bahagianya malam ini*.
Will mengusap wajahnya pelan. Dia merasa seperti orang gila kali ini.Nampak suster Dini yang sejak tadi memperhatikannya menggelengkan kepala pelan. Dia tak berani mengusik dokter tampan tersebut sebelum yang bersangkutan sendiri yang bercerita padanya.
__ADS_1
Meskipun hubungan mereka terbilang sangat dekat, namun suster Dini sangat tahu batasannya. Menempatkan diri sebagai sahabat diluar rumah sakit dan menjadi asisten ketika mereka berada di area rumah sakit adalah tugasnya. Meski tak dapat dia pungkiri, kehadiran Alexa kala itu dan sekarang sangat memperngaruhi sikap seorang Jhon Williams.