
Akshan mendapatkan kabar dari orang-orang yang memang membantunya untuk mencari keberadaan sang adik. Bukan hanya terkendala biaya, namun juga kepintaran Alisya membuatnya tak bisa terdeteksi keberadaannya. Alisya bahkan membuang semua atribut dirinya dan menggunakan identitas sebagai Alexa untuk bepergian. Hal tersebut diperkuat dengan masih utuhnya segala identitas diri Alisya yang masih tersimpan rapih di dalam sebuah map di laci kamarnya. Ponsel pintar yang dibelikan sang kakak pun ada disana.
Sudah bisa dipastikan jika Alisya benar-benar telah menyiapkan rencana kaburnya dengan baik. Buku tabungannya pun masih ada dan tertera tanggal terakhir diambil pun dalam waktu lama sebelum dirinya kabur.
Tak ada tanda tanda yang diperlihatkan sang adik membuat semua anggota keluarga tak pernah menaruh curiga padanya. Alisya memilih memendam sendiri lukanya. Padahal jika dirinya mau berkata jujur mungkin keluarga bisa mempertimbangkan kembali apa yang telah tuan Alisky putuskan.
Meski demikian nasi telah menjadi bubur. Tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Akshan bahkan tahu bagaimana terpuruk nya sang ayah ketika kehilangan mendiang ibunya. Ayah dan adiknya adalah dua orang yang sangat Akshan sayang.
Peragaan busana?
Dahinya berkerut sesaat. Kenapa dia melupakan hal yang menjadi keinginan dan cita cita sang adik sejak kecil. Akshan bahkan tak memikirkan hal itu. Senyum terukir di bibirnya, dengan semangat dirinya meraih kunci mobilnya dan berlalu ke kampus dimana Akmal sedang kuliah.
Dia tak akan mengatakan apapun kepada keluarganya yang lain sebelum mendapatkan informasi yang pasti. Tak ingin memberikan harapan palsu kepada sang mama yang sangat sangat merindukan Alisya meski wanita itu menyembunyikan semuanya dalam senyuman nya.
__ADS_1
Sesampainya di kampus Akshan segera menghubungi sang adik. Dia menanti di parkiran untuk beberapa waktu. Akmal terlihat tergesa-gesa malangkah ke arah mobil dimana kakaknya terparkir. Dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan dirinya membuka pintu mobil dan menatap sang kakak yang juga sedang menatapnya.
"What's wrong? It's nothing serious right?"
"Alisya."
"Kakak menemukan petunjuk?" Gurat cerah langsung terlihat di sorot mata Akmal. Dia benar-benar merindukan sang adik yang cerewet dan tak bisa diam tersebut.
"Kapan kita berangkat?" Akmal menjawab dengan antusias. Senyumnya bahkan mengembang dengan sempurna kali ini. Rasa bahagia benar-benar dia rasakan meski hanya mendengar kabar saja.
"Ayah dan ibu sudah tahu kak?"
Akshan mengusap wajahnya kasar. Dia tahu, kabar tersebut akan membawa kebahagiaan di hadapan ke dua orang tuanya. Namun Akshan tidak ingin membuat keduanya kecewa nantinya jika apa yang dia dapatkan tak sesuai dengan hasil penelusuran seperti sebelumnya. Dan gelengan kepala diberikannya kepada sang adik yang masih menatap nya.
__ADS_1
Akmal menghela nafas, dia mengerti dengan kebimbangan sang kakak. Apalagi mengingat kondisi keluarganya saat ini yang tak lagi baik baik saja setelah kepergian Alisya. Rumah yang biasanya ramai di jam jam tertentu menjadi lengang seperti tak berpenghuni.
"Kita bagi tugas, kakak rasa sebaiknya kamu yang pergi ke sana untuk memastikan semuanya. Kakak juga sudah mengantongi alamat dimana agency tersebut berada." Akshan memperlihatkan ponselnya. Disana terdapat alamat agency dan juga apartemen yang kemungkinan menjadi tempat tinggal sang adik. Di dalam pesan tersebut juga terdapat nama Alexa Smith.
"Wajahnya mirip dengan Alis, namun orang-orang memanggilnya Alexa. Karena itulah aku memintamu untuk menyelidikinya sendiri ke sana. Jika memang itu adalah Alis tentu kau akan dengan mudah dapat mengenalinya."
"Aku tak bisa berangkat ke sana. Kau tahu, restoran sangat membutuhkan kakak. Ayah memang selalu berangkat bekerja, namun sesampainya disana beliau hanya akan diam melamun memikirkan Alis."
Akmal mengangguk kemudian. Berat menjadi Akshan yang harus menjadi kuat demi kebaikan seluruh keluarganya yang sedang rapuh.
"Pulang dan bersiaplah, aku sudah memesan tiket untukmu malam nanti."
Akmal keluar dari mobil sang kakak dan masuk ke dalam mobilnya sendiri. Dilajukannya kereta besi tersebut keluar dari halaman kampus menuju rumah. Sementara Akshan kembali melajukan mobilnya ke restoran.
__ADS_1