I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 80


__ADS_3

Hari hari Williams berubah drastis semenjak kedatangan Alexa. Dia yang tak pernah suka berlama-lama dengan wanita yang tak akrab dengannya seolah melupakan fakta itu. Selain Tiara dan para orang-orang di kediaman Bram ada Dini yang menjadi orang terdekatnya.


Bahkan ada beberapa dokter maupun suster yang mencoba mendekat padanya tak pernah mendapat tanggapan apapun dari Williams. Jangankan bisa dekat, berbicara saja lelaki tersebut terkadang hanya menanggapi sekedarnya saja.


Akan tetapi bersama Alexa semua berbeda. Bahkan tawa Will sering kali terdengar dan membuat orang penasaran. Sikap ramah yang ditunjukkan Williams pada semua orang, berbeda dengan sikapnya pada Alexa. Dia bahkan tak segan menunjukkan sikap aslinya pada gadis itu.


Segala emosi Williams bisa keluar hanya pada Alexa. Entah itu sedih, bahagia, gelisah ataupun marah. Semua sikap dan ekpresi seolah keluar dengan sendirinya. Bahkan Bram merasakan bahwa sang sahabat sekarang semakin hidup dan tak lagi mengikuti jejak Suta yang dingin seperti kulkas berjalan.


Di sela kesibukannya mempersiapkan pernikahan Nara dan Mark. Bram terus saja memantau perkembangan Williams. Lelaki tersebut tak hanya ingin sahabatnya sukses dalam karir namun dirinya juga berharap Will segera menemukan pemilik hatinya.


"Kau serius tak berdebar jika bersamanya?" Selak Bram sore itu.


Will dan Alexa datang berkunjung ke kediaman Bram karena sang princes Cameli sedang terserang demam. Gadis kecil tersebut seharian kemarin bermain di kolam dan alhasil malam harinya suhu badannya naik.

__ADS_1


"Entahlah. Aku hanya merasa bahagia jika melihatnya tersenyum dan tertawa begitu." Jawab Williams sambil menatap ke arah Alexa yang sedang bercengkrama dengan Tiara dan Lena.


"Tapi.." Ucapannya terhenti dan memandang lekat Bram yang balik menatapnya.


Ragu Williams ingin bicara tentang penyakit yang dialaminya kini. Walaupun sudah jarang sekali dirasakannya namun Will masih percaya bahwa penyakit itu masih bersarang dalam tubuhnya. Bahkan dokter Irwan pun sudah angkat tangan dengannya.


"Tapi apa?" Bram mengulangi kata katanya karena semakin penasaran melihat Williams yang menghela nafas berat.


"Tapi jantungku rasanya akan sakit dan berdebar sangat kencang. Apalagi jika ini menyangkut dengannya. Aku tak tahu ini apa, tapi menurut dokter Irwan. Dirinya pun tak bisa menolongku dalam hal ini. Bahkan dokter Irwan menyarankan aku untuk meminta bantuannya. Aku bahkan bertanya bagaimana caranya dia membantuku."


"Aku akan merasa tenang ketika sudah melihatnya. Bahkan jantungku yang tadinya seolah mau meledak menjadi lebih tenang. Aku tak ingin menyembunyikannya darimu, tapi aku juga tak ingin kamu terbebani oleh keadaanku." Will menunduk.


Sementara Bram tersenyum simpul mendengar apa yang Williams ceritakan. Tak pernah jatuh cinta meski umurnya sudah termasuk matang membuat lelaki yang terkenal hebat di bidang kedokteran tersebut menjadi bodoh dalam hal cinta.

__ADS_1


Williams banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar hingga meraih kesuksesan seperti saat ini. Bahkan dirinya mengabaikan urusan cinta dan pendamping hidup hanya demi mewujudkan mimpinya untuk menjadi jembatan penolong bagi orang lain.


"Lalu apa rencanamu sekarang?" Bram berujar dengan tenang.


Williams menoleh dan menatap wajah sahabatnya itu dengan seksama. Tak ada gurat kaget ataupun kesedihan disana membuatnya mengernyitkan dahi bingung. Kenapa Bram tak menunjukan kekhawatiran padanya seperti sebelumnya. Malah kini lelaki itu terlihat tersenyum tipis.


"Kau tak marah?" Will bertanya dengan begonya.


"Untuk?"


"Karena Aku telah menyembunyikan sakitku?"


Bram tergelak pelan, dirinya benar-benar tak menyangkah bahwa akan memiliki sahabat sepolos Williams diusianya yang sudah matang.

__ADS_1


"Kau sudah menemukan obatmu. Jadi buat apa aku marah."


Bram menepuk pundak Will pelan. Melihat dokter tersebut menatapnya penuh tanya membuat Bram akhirnya menyerah dan tertawa setelahnya. Lelaki yang sedang menunggu louncing anak ke duanya tersebut memeluk Williams erat.


__ADS_2