
Monica.
Seorang dokter datang memeriksa keadaan ku. Menurutnya kondisiku sudah stabil dan cidera ku tak begitu parah. Pengaruh obat membuatku belum merasakan apa apa.
Setelah memeriksa ku dokter berjalan ke ranjang yang berada tak jauh dariku. Hal yang sama dilakukannya. Aku mencoba untuk menggerakkan tanganku perlahan. Rasa sakit itu begitu terasa hingga aku ingin menangis rasanya.
Tuan Williams datang dan langsung menanyakan keadaanku dan juga rekan yang berada di ruangan yang sama denganku. Disaat itulah aku baru tahu identitas lain darinya yang ternyata seorang dokter.
Bahkan dokter yang tadi datang memeriksa ku sedikit membungkukkan badan ketika menyapanya.
"Bagaimana keadaan mereka, dok?"
"Dokter Will tidak perlu khawatir, keadaan mereka berdua sudah sangat stabil. Hanya memerlukan waktu untuk pemulihan. Begitupun dengan tiga orang lainnya di ruang sebelah, kondisi mereka juga sudah jauh lebih baik."
"Syukurlah, terimakasih banyak dokter atas bantuannya."
__ADS_1
"Sudah tugas kita dokter." Lelaki yang memakai baju dokter tersebut kemudian berlalu.
"Are you ok?" Tanyanya padaku sambil tersenyum. Aku hanya mampu mengangguk karena untuk bergerak rasanya masih sakit, kaku bahkan aku takut untuk sekedar bergeser.
Tuan Williams terlihat memeriksa infus yang tertancap di lengan kiriku dan memeriksa cairan yang mengalir melewati selang berwarna putih tersebut. Aku sempat melihat lengan kirinya yang terdapat plester. Tak besar namun masih dapat terlihat.
"Tuan."
Williams menoleh kala staf yang terlihat selalu bersamanya datang.
"Bagaimana keadaan tuan?" Aku sedikit penasaran.
"Aku tak apa. Oh ya, bagaimana perkembangan mereka?"
Tuan Will membenahi selimut ku dan memintaku untuk istirahat sementara ku lihat dirinya bersiap melangkah ke luar ruangan diikuti oleh stafnya.
__ADS_1
"Satu orang sudah melewati masa kritis dan sudah bisa keluar dari ruang ICU. Untuk dua orang lainnya belum ada perkembangan tuan. Sebaiknya anda juga beristirahat untuk memulihkan kembali tenaga anda tuan."
"Setelah aku melihat mereka nanti, barulah aku akan beristirahat. Ayo."
Langkah yang semakin menjauh membuatku tak lagi bisa mendengarkan semua pembicaraan mereka. Pada saat itulah aku kembali teringat dengan Alexa. Aku lupa untuk menanyakan kondisinya saat ini. Mataku kembali berkaca kaca mengingat bagaimana dirinya terkapar di tempatku duduk awalnya. Andai dia tak menarikku atau apalah aku tak tahu itu. Yang jelas seandainya Alexa tak melakukan hal itu mungkin hidupku sudah berakhir.
Memikirkan hal tersebut membuatku semakin takut. Aku menangis dan berdoa agar Alexa baik baik saja. Aku melihat darah itu dan tubuh Alexa yang diam tak bergerak di pelupuk mataku.
Tuhan selamatkan dia.
Hingga sore menjelang kembali seorang dokter datang ke ruangan ku. Kali ini seorang dokter perempuan yang tersenyum manis dan menanyakan keadaanku saat ini.
Aku berusaha untuk bertanya padanya tentang Alexa. Disaat itulah aku tahu bahwa dia masih dalam keadaan kritis. Dokter Meta, nama dokter cantik yang mengunjungi ku saat ini juga mengatakan bahwa tuan Williams sudah mendonorkan darahnya untuk Alexa yang ternyata memiliki golongan darah AB.
Dokter Meta juga memberitahuku jika kondisiku sudah sangat stabil. Aku mungkin bisa keluar dari rumah sakit beberapa hari kedepan. Hanya saja, bengkak di lenganku dan luka sobek dikeningku kadang-kadang masih terasa nyeri. Dokter bilang itu wajar terjadi dan lama kelamaan semua akan kembali normal.
__ADS_1
Semenjak kepergian dokter Meta aku kembali menangis. Kali ini tangisku ku tujukan pada Alexa yang sedang berjuang entah diruangan sebelah mana. Aku berdoa untuk keselamatannya dan meminta Tuhan untuk menjaganya.
Aku berhutang nyawa padanya, sejak pertama kali kenal aku sudah menyukai prilakunya yang enerjik dan ceria. Dia gadis baik meski jalan hidupnya tak begitu mulus, namun dibanding denganku Alexa masih cukup beruntung. Hanya jiwa mudanya saja yang sedang bergolak dan menginginkan kebebasan.