
Pesta ulang tahun yang diharapkan membawa kebahagiaan berlipat bagi Oma Feli karena perjodohan Williams ternyata gagal. Rasa kecewa tentu ada, namun Williams berhasil membuat Oma memahami satu hal. Jodoh tak akan bisa dipaksakan bagaimanapun kita melakukannya.
Williams kembali menang kali ini. Dia kembali bebas dan tak lagi merasa tertekan dengan keinginan Oma yang menuntutnya untuk segera menikah.
Tak ada pembicaraan berarti setelah pesta tersebut, bahkan batalnya pertunangan tak lagi ada yang mengungkitnya. Namun satu hal yang masih membelas dalam hati Will dan sedikit membuatnya tak nyaman. Pernyataan calon tunangannya yang kabur hanya dengan alasan dirinya terlampau tua dan lebih pantas menjadi Om atau bahkan ayahnya seolah membuat matanya terbuka lebar. Williams yang tak pernah ambil pusing dengan usianya kini menjadi lebih berpikir lagi.
Terngiang ucapan Bram kala itu yang mengatakan bahwa dirinya harus lebih memikirkan masa depannya mulai kini. Tak seharusnya nama keluarga Jhon berhenti kepadanya saja.
"Kenapa?" Edwin yang berada disebelahnya tentu dapat merasakan kegelisahan Will. Meski tak berucap karena Williams adalah sosok tertutup yang tak muda bersuara namun Edwin paham jika lelaki yang berada di sebelahnya kini tengah memikirkan sesuatu.
"Tak ada. Aku hanya berpikir tempat mana lagi yang belum ku kunjungi. Karena jujur saja, aku tak bisa berjanji akan bisa datang kembali berkunjung dalam waktu dekat."
Edwin mengangguk, dia paham betul bagaiamana kesibukan Williams. Seminggu berada di Indonesia membuatnya mengerti kenapa saudaranya tersebut sering membatalkan rencananya untuk berkunjung.
"Kalau kau benar-benar sibuk, biar kami yang mengunjungimu nanti." Ucapnya bijak.
Berbeda dengan Jack dan Jonathan yang hanya berbicara seperlunya saja ketika bertemu. Edwin lebih terbuka dan bisa bergaul dengan banyak orang. Pembawaannya yang tenang membuat orang nyaman ketika berbicara dengannya.
"Kapan masa liburmu berakhir?" Lanjutnya penuh pengertian.
__ADS_1
"Lusa, aku mengambil penerbangan sore. Kemungkinan besar aku membutuhkan bantuanmu nanti. Rencananya aku akan mengajak Albert dan ibunya, nyonya Carlotta. Disana, Albert bisa membantuku dan juga bisa menjaga mamanya dalam waktu bersamaan. Karena mendadak sepertinya mereka harus mengurus semua dokumen kepindahannya terlebih dahulu dan itu pasti membutuhkan waktu. Kau bisa?" Tengoknya menatap Edwin yang dijawab anggukan oleh pria tersebut.
*
*
*
Hari menjelang sore ketika Williams sampai di kediaman Albert. Sang sahabat sedang bekerja dan akan pulang di jam 7 malam nanti. Posisi yang tak penting, tanpa pengalaman dan juga kurangnya pendidikan membuatnya hanya bekerja serabutan saja. Meski begitu Albert sudah sangat bersyukur karena mendapat pekerjaan, dia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga biaya berobat sang mama.
Williams yang telah tiba di sana berdiam diri menyaksikan nyonya Carlotta yang tengah duduk menonton sebuah tayangan televisi. Baru 30 menit Will disana dan karena haus dirinya melangkah menuju dapur guna mengambil air minum.
"Kau ini sungguh merepotkan!! kalau bukan karena aku menyukai putramu mana sudi aku merawatmu begini."
Sebuah mangkok berisi makanan nampak berhambur di lantai. Namun bukan itu yang menjadi fokus Will. Wanita tersebut tak hanya membentak namun juga menginjak jemari nyonya Carlotta membuat wanita baya tersebut semakin histeris.
Tak tahan pada akhirnya Will keluar dan segera meraih nyonya Carlotta untuk kembali didudukkan di kursi rodanya.
"Kau siapa?" Kaget, tentu saja wanita tersebut terkaget-kaget dengan kemunculan Williams. Mulutnya sampai mengaga melihat penampilan Will yang memang keren. Namun Will tak mengucapkan apapun dan fokus merawat nyonya Carlotta.
__ADS_1
Albert datang dengan tergesa-gesa, sudah biasa dan memang akan selalu begitu. Karena setiap kali Albert pulang bekerja maka akan selalu disuguhkan dengan drama sang mama yang mogok makan dan menumpahkan semua makanannya dilantai.
Namun malam ini berbeda. Bahkan Albert dibuat tercengang kala melihat sang sahabat yang sedang mengelap jemari sang mama dengan lembut sambil berbicara. Mangkok dan makanan berserakan dan Albert paham jika mamanya telah mengamuk seperti sebelumnya beberapa waktu lalu.
"Will, maaf. Mama sudah biasa memberontak begini jika aku sedang bekerja. Claire sudah biasa menanganinya." Ucapnya pelan.
"Dia siapa?" Claire yang masih diam terpaku menatap Williams yang sejak tadi tak menggubris nya.
"Dia,.."
"Al, sebaiknya kita bicara." Williams berdiri dari duduknya yang sedari tadi berada dihadapan nyonya Carlotta.
"Oh, ok." Albert menatap sekilas wajah Williams yang nampak tak baik baik saja tersebut penuh tanya.
"Claire, tolong jaga mama. Kami akan.."
"Tidak perlu!! tante baik baik saja. Kita bicara!!" Ucapan Albert terpotong begitu saja kala Will mengibaskan tangannya dengan cepat.
To be continue
__ADS_1