
Di tengah hutan di sebuah pulau.
Mereka yang diperintahkan untuk turun dari pesawat tempur tentu saja kebingungan. Tak adanya lampu penerangan yang memadai membuat mereka saling berpegangan satu dengan yang lainnya. Demikian juga dengan Alexa yang menggenggam erat lengan Arya yang sejak tadi berada disisinya.
Gadis itu memejamkan matanya pasrah mengikuti langkah Arya yang membawanya entah kemana bersama rombongan yang lainnnya. Hanya suara langkah kaki yang terdengar karena mereka diinstruksikan untuk tak menimbulkan kebisingan.
Keringat dingin mulai membanjiri telapak tangan dan kening gadis cantik yang terus memejamkan matanya tersebut. Arya yang berjalan disampingnya bahkan sampai tersenyum geli. Namun demi tugas yang diembannya pemuda tersebut harus terus berperan sebagai lakon yang tak tahu apa apa.
Ada beberapa tenda yang nampak tak jauh dari arah mereka datang. Nampak beberapa orang berseragam tentara berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Ndan." Salah seorang prajurit maju dan memberi hormat pada Jeff yang memang berada di depan. Pemuda tersebut mengangguk dan kembali melanjutkan langkah.
"Xa, kita sudah sampai." Arya menepuk pelan lengan Alexa, membuat gadis itu membuka matanya perlahan.
Ada sekitar 10 tenda kecil dan sebuah tenda ukuran sedang nampak didepannya. Penerangan yang hanya menggunakan lampu darurat nampak di beberapa sudut tenda.
"Dokter silakan." Seorang tentara membawa Alexa menuju tenda yang berada paling ujung. Alexa menoleh ke arah Arya yang menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa semuanya akan baik baik saja.
Di depan tenda tentara tersebut meninggalkan Alexa sendiri. Dengan langkah pelan Alexa masuk ke dalam tenda.
*
__ADS_1
*
*
Jeff menepuk pelan bahu Arya yang masih berdiri di tempatnya menatap Alexa yang perlahan menghilang masuk ke dalam tenda. Senyum tipis terukir di bibir pemuda tersebut.
"Are you ok?"
Arya menganggukan kepalanya mantap. Keduanya kemudian berjalan menuju tenda dengan ukuran sedang yang berada di tengah.
"Aku masih heran, dengan semua ini." Ucapnya lirih
Keduanya bergabung dengan beberapa tentara yang nampak sedang beristirahat. Jeff tersenyum, pemuda dengan tatapan mata tajam tersebut membuka botol minuman dan memberikannya pada Arya kemudian kembali membuka satu lagi untuknya sendiri.
"Jadi kalian tak akan ikut berperang?"
"Tidak. Itu bukan tugas kami, kecuali jika semua terpaksa kami lakukan dengan banyaknya pertimbangan tentunya."
"Lalu, alasan apa yang membuat kalian membawa kami keluar dari sana?"
Arya benar-benar tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Tanpa berkedip, dokter muda tersebut menatap Jeffry menunggu jawaban atas rasa penasarannya.
__ADS_1
"Dokter Jhon Williams."
"Tunangan Alexa?" Arya membulatkan matanya. Rasa terkejutnya kembali hadir, sama seperti tadi sewaktu dirinya bertemu dengan dokter tampan dengan mata biru dibalik kacamatanya tersebut.
Namun berbeda dengan Jeff, kata tunangan yang terlontar dari bibir Arya terasa menggelitiknya. Bahkan masih diingatnya dengan jelas bagaimana kagetnya Williams ketika kata tersebut terlontar dari bibir Arya didepan matanya sendiri.
Entah harus berekspresi seperti apa namun dapat terlihat jelas bagaimana wajah Will semringah seketika. Will mengulum senyum dengan salah tingkah membuat Jeffry tergelak kencang.
"Bagaimana hubunganmu dengannya? ku lihat kalian berdua sangat akrab." Jeffry beralih menatap Arya.
"Kami hanya berteman, aku juga tak mungkin mengganggunya sementara dirinya sudah bertunangan dan aku juga mempunyai seseorang yang menungguku disana."
"Baguslah, aku tak ingin nantinya drama ini berubah menjadi cerita patah hati. Kau tahu, itu sangat membosankan." Jeff merebahkan badannya dengan menggunakan lengannya sendiri sebagai penyangga kepalanya.
"Kau tak pernah jatuh cinta?"
Pertanyaan Arya membuat Jeff terdiam. Tentu saja dirinya pernah jatuh cinta. Namun penghianatan membuat pemuda itu menutup hatinya rapat dan memilih hidup bebas sebagai mata mata. Bahkan dialah dalang dibalik hancurnya bisnis hitam yang dilakukan paman Candi yang hampir saja melibatkan keluarga Mark.
*
*
__ADS_1
*
"Aku pernah merasakan cinta, bahkan semuanya tak pernah aku hindarkan. Bahagianya, suka nya, sedihnya bahkan rasanya merindu. Bersabar dan setia menjadi makanan hatiku setiap harinya. Namun ternyata aku tak mampu lagi bertahan ketika luka itu datang menghancurkan semuanya. Dan aku menyerah pada semuanya."