
Alexa beberapa kali mengernyapkan matanya. Tenda yang dimasukinya nampak berbeda. Di tolehkannya kepala ke kanan dan ke kiri namun tak ada orang sama sekali.
"Aku tak salah masuk kan?" Gumamnya pelan nyaris tak terdengar.
Ditatapnya kembali sebuah meja yang berada tak jauh didepannya. Disana nampak dua piring mie goreng lengkap dengan telor dadar dan juga dua botol air mineral.
"Kamu sudah datang."
Deg
Tubuh Alexa menengang, dirinya sama sekali tak berani menoleh kan wajahnya ke arah samping dimana suara itu terdengar.
Berulang kali gadis cantik dengan jas dokter yang masih melekat ditubuhnya tersebut menarik nafas dalam dan menggelengkan kepalanya pelan guna menyadarkan dirinya agar tak berhalusinasi lagi.
"Kau boleh merindukannya Alis, tapi jangan sampai gila. Kau harus sadar jika dirinya jauh disana dan tak akan mungkin ada disini. Mana mungkin dia akan hadir dihadapanmu jika disisinya sudah tak ada lagi tempat untukmu. Dasar bodoh!!" Alexa mengumpat dirinya sendiri sambil memukul pelan dahinya.
__ADS_1
Sementara Williams yang berdiri tak jauh disana hanya mengulum senyum melihat tingkah gadisnya.
Setelah mendengarkan cerita dari Arya, hati Will semakin menghangat dan senyum itu semakin merekah dari bibirnya.
Julukan yang diberikan gadis itu pada dirinya pun semakin membuat hati Will kian berbunga. Di tatapnya jemari Alexa lamat lamat. Disana nampak cincin dengan hiasan bunga kecil diatasnya tersemat dengan indah. Will tentu saja mengingat cincin tersebut. Cincin yang dia berikan pada Alexa sebagai hadiah ketika gadis cantik yang masih berdiri memunggunginya saat ini berhasil dalam ujian praktek nya.
Tunangan!! Senyum Will semakin merekah kala dirinya mengingat setiap detail cerita Arya yang mengatakan bahwa Alexa mengakui dirinya sebagai tunangan Will. Entah apa alasan gadis tersebut mengaku demikian namun yang jelas hati Williams menghangat karenanya.
Will melangkahkan kakinya mendekat, mengikis jarak antara mereka berdua dan mengulurkan lengannya perlahan merengkuh tubuh itu untuk dipeluk.
Sontak saja, gerakan tiba-tiba yang dilakukan Williams membuat Alexa terlonjak kaget dan reflek berteriak dan memukul perut Williams dengan sikunya.
"Lexa, kau membuatku sakit." Adunya pelan sambil memegang perutnya.
"Om."
__ADS_1
Alexa membeo. Dirinya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Alexa kembali mengernyapkan matanya, namun pemandangan dihadapannya tetaplah sama dan tak berubah sedikitpun. Wajah Will masih nampak disana dengan ringisan kecil dibibirnya.
Alexa bergerak perlahan, Will tetap bergeming ditempatnya meski rasa yang bergejolak dalam dadanya kian membuncah hebat ingin segera dilepaskan.
Jemari lentik itu meraba pelan wajah Williams. Seolah masih tak percaya dan menganggap semuanya adalah khayalan semata.
Will yang tak lagi dapat menahan semuanya segera merengkuh tubuh Alexa untuk dipeluknya. Dibenamkan wajahnya diceruk leher gadis itu dengan lengan yang melingkar erat dipinggang Alexa.
Tubuh Alexa menengang, dirinya tak mampu berbuat apa-apa bahkan tubuhnya terasa kaku. Debaran di jantung nya kembali memompa dengan cepat. Semerbak bau parfum yang dipakai Williams menyeruak masuk ke hidungnya. Alexa memejamkan matanya erat, tak terasa butiran air mata merembes dari ujung matanya yang mulai berembun.
Perlahan, Alexa membalas pelukan Williams erat. Tingginya yang hanya sebatas dada lelaki tersebut membuat tubuh Alexa menghilang dalam dekapan Will. Berulang kali dikecupnya pucuk kepala Alexa guna melepaskan kerinduan dan rasa yang menyesak dalam dadanya selama ini.
*
*
__ADS_1
*
"Aku merindukanmu, Lexa." Lirihnya namun masih bisa terdengar dengan jelas ditelinga Alexa.