
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Cindi. Gadis itu menoleh dan melangkah ke arah pintu. Dibukanya pintu pelan guna mempersilahkan si pengetuk masuk ke dalam. Namun tatapannya bertemu dengan tatapan seorang wanita yang tengah tersenyum lebar pada awalnya namun sedetik kemudian senyum itu hilang berganti dengan tatapan tajam ke arah Cindi.
"Kamu siapa?" ketusnya.
"Aku.."
"Siapa?" Suara Akshan terdengar dari dalam. Lelaki tersebut baru saja keluar dari kamar pribadinya.
"Aks." Wanita itu berhambur masuk dan mendorong bahu Cindi untuk menyingkir. Senyuman yang tadi hilang tiba-tiba muncul kembali kian mereka. Langkahnya pasti menuju ke arah Akshan yang berdiri di sana.
Hingga jarak semakin dekat Akshan memintanya untuk berhenti.
"Ada apa, bel?"
Bel? otak Cindi berusaha berpikir keras. Seketika matanya membelalak mengingat nama yang baru saja disebutkan oleh lelaki yang pagi tadi masih bersikap manis padanya. Cindi menundukkan wajahnya dalam. Hatinya kembali merasakan sakit yang entah datang dari mana.
"Apa aku harus memberitahu jika ingin bertemu?"
"Tentu, kau tahu aku sangat sibuk." Akshan menjawab ala kadarnya. Tatapannya jauh tertuju pada gadisnya yang masih berdiri disana.
"Kita keluar yuk. Kamu tidak harus bekerja setiap waktu kan?" Bella berjalan mendekat hendak meraih tangan Akshan namun lelaki tersebut telah beringsut dan berjalan kearah lain.
"Dia siapa?" Bella berujar dengan nada tak suka.
Wanita itu sudah mati matian mengejar Akshan. Bella tak ingin usahanya kali ini gagal lagi. Cintanya pada lelaki itu membuatnya seakan gila. Namun hingga detik ini, Akshan tak pernah memberinya kesempatan. Hanya berbicara sekedarnya selalu dilakukan lelaki itu.
__ADS_1
"Hon." Akshan meraih jemari Cindi dan menggenggamnya erat.
"Ini Cindi."
"Ayolah, Aks. Kamu tak akan mengatakan bahwa gadis kecil ini akan berada disini mengganggu kita?" Bella memicingkan matanya. Benar-benar tak suka dengan kehadiran Cindi.
"Dia tak menganggu. Aku yang membawanya kesini untuk menemaniku."
"Kalau begitu suruh saja pergi. Bukankah sudah ada aku."
Jantung Cindi berdetak semakin kencang. Ingin rasanya dia menangis namun ditahannya sekuat tenaga. Berusaha melepaskan genggaman Akshan akan terapi laki-laki itu semakin mengeratkan genggamannya.
"Dia kekasihku. Jadi dia tak akan pernah pergi jauh dariku." Akshan membawa Cindi kembali masuk ke dalam ruangannya. Pintu dibiarkanya terbuka lebar.
"Apa? kau jangan bercanda Aks. Lalu aku bagaimana?"
"Enggak, aku nggak terima." Teriak Bella keras, matanya menatap tajam ke arah Cindi yang masih diam disamping Akshan.
"Aku tidak memerlukan persetujuan darimu untuk masalah hatiku. Dan juga aku tak pernah melarang siapapun untuk menyukaiku. Tapi, bukan berarti aku harus membalas semua perasaan yang tertuju padaku."
"Tapi aku mencintaimu, Aks."
"Aku tahu. Tapi maaf, aku tak bisa membalas perasaanmu." Akshan berujar pelan.
Sudah lama dirinya jengah dengan tingkah Bella yang menurutnya berlebihan. Gadis itu menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan perhatian Akshan. Namun sikapnya tersebut tak jarang membuat Akshan muak. Bella bahkan sudah mengproklamirkan diri sebagai calon istri Akshan. Membuatnya bebas keluar masuk restoran dan memerintah disana.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, kamu milikku Aks. Dan kamu, pergi kamu dari sini!!" Tunjuknya pada Cindi.
"Sebaiknya kamu pergi. Kita tak punya urusan dan juga, tak ada yang perlu dijelaskan disini karena semua sudah jelas. Ku harap kamu bisa mengerti."
Akshan membawa Cindi keluar dari ruangannya. Meninggalkan Bella yang mukanya merah padam karena menahan amarah.
Wanita itu berlari dan meraih rambut Cindi, menjambak rambut gadis itu hingga membuatnya terpekik. Akshan yang kaget mencoba untuk melepaskan namun cengkraman Bella semakin kuat membuat Cindi semakin meringis kesakitan.
Plak
Akshan spontan menampar wajah Bella. Melihat Cindi yang kesakitan membuatnya ikut merasakan sakit. Wajahnya tak kalah merah menatap nyalang ke arah Bella yang tersungkur sambil memegang pipinya yang panas.
Cindi yang terisak dibantu beberapa karyawan Akshan untuk duduk. Gadis itu memegangi rambutnya, kulit kepalanya terasa panas. Nampaknya Bella tak main main menjambaknya.
"Aku selalu menghargaimu selama ini. Aku juga membiarkanmu melakukan sesuatu sesuka hatimu. Tapi bukan berarti, aku juga akan membiarkan dirimu menyakiti kekasihku. Pergilah!! sebelum aku bersikap semakin kasar padamu."
"Aku mencintaimu, Aks. apa hebatnya gadis kecil itu dibanding aku."
"Kamu mencintaiku adalah hakmu dan aku tak akan mempermasalahkan hal itu. Akan tetapi, bagaimana perasaanku itu juga adalah hak ku sendiri. Aku hanya menganggapmu sebagai temanku selama ini. Jadi mengertilah, aku nggak bisa membalas perasaanmu.Maaf."
Akshan menatap iba pada wanita itu. Namun dirinya juga tak bisa memberikan harapan. Tak ada perasaan khusus yang dirasakan untuknya. Kesendirian Akshan selama ini menjadi senjata untuk Bella mendekat dan merasa dirinya menang karena memang tak ada wanita lain lagi disekeliling Akshan.
"Maaf." Akshan berujar sambil mendekap Cindi erat.
Beberapa karyawan dan juga tamu yang kebetulan berada di sana terdiam. Mereka tak ingin ikut campur dan memilih kembali melakukan kegiatan mereka sendiri.
__ADS_1
Akshan memilih menggendong Cindi yang lemas kembali ke ruangannya. Sementara Bella nampak berjalan dengan gontai keluar restoran dengan air mata berderai.