
Akmal membuka ponselnya. Sejak semalam pemuda calon dokter tersebut mematikan ponselnya. Akmal menguap, sambil menunggu ponselnya stabil di langkahkan kakinya menuju kamar mandi. Mandi pagi sepertinya dapat membuat semangatnya kembali bangkit pagi ini.
Setelah wisuda kemarin, Akmal beberapa kali mencoba menjadi asisten dokter. Kemampuan yang dimilikinya belum membuatnya berani mengambil resiko untuk mendirikan tempat praktek sendiri. Rasa percaya dirinya benar-benar hilang entah kemana, membuatnya sedikit frustasi.
Tiga puluh menit kemudian, pemuda dengan jambang yang menghiasi rahangnya yang tegas tersebut keluar dengan badan yang segar. Setelah berganti pakaian, pemuda tersebut bergegas turun ke lantai bawah dimana keluarganya sedang berkumpul.
"Morning." Sapanya sambil mencium pipi sangat mama kemudian pipi si bungsu sebelum menarik kursi untuk dirinya sendiri.
"Pagi sayang." Nyonya Deandra tersenyum, kemudian beranjak menyiapkan sepiring Sandwich dan segelas susu untuk Akmal. Semuanya menikmati sarapan dengan tenang kecuali Akshan yang memang tak pulang ke rumah.
"Pa, ada tawaran untukku bekerja di sebuah panti. Tapi untuk sementara aku harus di training dulu di sebuah rumah sakit."
"Kamu berminat?" Tuan Alisky mengelap bibirnya dengan selembar tisu yang diambilnya diatas meja.
"Mungkin bisa dijadikan pengalaman. Tapi bukan itu yang membuat Akmal tertarik sebenarnya."
"Lalu?"
"Rumah sakit tempat ku training nanti kalau benar-benar masuk adalah rumah sakit dokter Jhon."
__ADS_1
"Dokter Jhon? Jhon Williams?"
"Iya, pa. Dokter Jhon adalah pimpinan rumah sakit itu. Kalau boleh, Akmal akan kesana. Selain untuk mencari pengalaman Akmal juga bisa melihat keadaan Alis disana. Syukur syukur Akmal diterima bekerja disana. Karena kabarnya, panti yang sedang mencari tenaga medis tersebut adalah milik dokter Jhon pribadi."
"Itu artinya kamu akan jauh dari kami, kak?" Deandra menatap sang putra sendu.
"Bukankah kita masih bisa saling menghubungi, ma. Akmal hanya ingin menjaga Alis. Dia hanya seorang gadis yang tinggal di negri orang. Akmal hanya ingin memastikan keselamatannya."
Tak ada suara, keluarga itu terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
*
*
*
"Alisya sudah masuk fakultas terhitung mulai hari ini."
Pesan yang dikirim oleh Williams beberapa menit lalu. Akmal tersenyum, usahanya selama ini bersama Williams yang mengurus segala surat surat yang dibutuhkan gadis itu ternyata membuahkan hasil.
__ADS_1
Tanpa perlu dibujuk terlalu keras ternyata adiknya tersebut mau dengan sendirinya melanjutkan pendidikannya. Tentu saja semua itu menjadi rahasia Akmal bersama dengan Williams. Bahkan Monica yang belakangan ini semakin insten berhubungan dengan Akmal pun tak pemuda itu kasih tahu.
"Kamu sudah lulus kan? apa rencanamu selanjutnya?"
"Belum ada. Setidaknya untuk saat ini aku akan mencari pengalaman terlebih dahulu. Sebelum aku membuka praktek dan membangun klinik sendiri tentunya. Masih banyak yang belum aku pahami dalam dunia kedokteran ini." Akmal menjawab dengan lugas karena memang demikianlah yang dia inginkan.
"Datanglah ke sini jika kau mau. Kebetulan aku juga sedang membutuhkan bantuan tenaga medis untuk bekerja di panti yang aku bangun."
"Panti?"
"Ya.Tepatnya panti jompo dan lansia. Jika kamu bersedia datanglah kemari?" Williams berujar dengan tenang.
"Jika aku kesana bagaimana dengan Alis?"
"Datang dulu, untuk yang lainnya kita pikirkan nanti. Kamu bisa tinggal di apartemen ku untuk sementara."
"Baiklah.Aku akan mencari cara untuk berbicara dengan Ayah."
Williams tersenyum dan mengakhiri percakapan mereka. Lelaki itu menatap Alexa yang sedang membantu suster Dini. Kehadiran Akmal nantinya diharapkan bisa membantu gadis nakalnya untuk kembali bersama keluarganya. Meski tak harus pulang kembali ke negara nya, paling tidak komunikasi dengan keluarganya nanti bisa terjalin kembali.
__ADS_1