
Air mata mengalir tiada henti di kedua pipi yang semakin keriput itu. Oma Feli bahkan memeluk erat tubuh Williams dan membenamkan wajah tuanya kepada bidang cucu angkatnya tersebut. Entah mengapa, rasa sayang yang dirasakannya ada Williams sangat besar seolah menyayangi cucunya sendiri. Dan itulah yang menjadi penyebab timbulnya rasa iri dalam diri Jack dan Jonathan. Tentu saja mereka tak menyukai hal itu. Williams hanyalah orang lain yang datang dan langsung merebut kasih sayang Oma kepada mereka. Padahal bukan demikian kenyataannya.
"Aku kira kau akan terus mengabaikan wanita tua ini, Will. Kau tahu bagaimana Oma sangat merindukanmu." Rengeknya tetap memeluk Williams seolah takut lelaki tersebut akan pergi bila dirinya melepaskan Pelukannya.
"Tentu saja tidak, Oma. Bagaimana mungkin aku melupakan Oma. Hanya saja, rumah sakit benar-benar belum bisa Will tinggalkan waktu itu." Williams tersenyum lembut, mengusap air mata Oma dengan ibu jarinya.
"Will sayang sama Oma. Oma adalah orang yang paling berarti dalam hidup Will saat ini. Will tak akan melupakan Oma apapun yang terjadi, hanya saja Will juga punya kewajiban untuk membantu orang-orang yang membutuhkan tenaga dan pikiran Will, Oma."
Oma Feli mengangguk. Tentu saja dirinya tahu dan mengerti keinginan Williams. Keinginan yang sangat mulia karena semua Will lakukan dari dasar hatinya yang mendalam. Rasa sakit kehilangan ke dua orang tuanya membuatnya bertekat untuk membantu orang lain agar tak merasakan apa yang dia rasakan dulu sebisa yang dia mampu.
__ADS_1
Oma Feli bahkan mendukung segala usaha Williams. Walau Will tak pernah mau menerima apapun yang diberikan padanya. Oma Feli tak pernah kecewa. Bahkan bagian warisan yang telah dia bagi ke pada Will masih dikelola oleh Edwin.
*
*
*
Foto foto dirinya dan juga mendiang ke dua orang tuanya masih tergantung rapih di dinding. Oma bahkan meminta salah satu pelayanannya khusus membersihkan kamar Williams meski lelaki tersebut tak datang berkunjung.
__ADS_1
Direbahkan tubuhnya lelah. Williams menutup matanya dengan sebelah lengan diletakkan diatasnya. Banyak hal yang menghantui pikirannya, dan yang lebih parah adalah masalah perjodohannya.
Entah dengan siapa karena dirinya tak punya keinginan untuk bertanya. Oma pun sepertinya belum berkeinginan untuk bercerita mengingat pertemuan kali ini baru terjadi setelah 7 tahun lamanya Williams tak kembali.
Melihat betapa bahagianya Oma tadi membuat hati Williams bergetar. Wanita tua tersebut tak pernah menuntut lebih padanya. Kasih sayangnya benar-benar tulus dan Will dapat melihat itu.
Kerena lelah dan banyaknya hal yang dia pikirkan membuat Williams terlelap dengan cepat. Hingga sore hari barulah Williams membuka matanya. Masih dengan memakai pakaian yang dikenakan tadi dirinya melangkah menuju balkon kamar. Membuka cendela disana semakin lebar dan merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Will, bagaimana sudah sampai?" Pesan dari Albert 2 jam lalu. Sahabatnya tersebut memang selalu perhatian. Sejak kecil mereka selalu bersama dan itu membuat kedekatan mereka semakin terjalin erat. Kepindahan Williams ke kediaman Oma pun tak membuat hubungan mereka putus. Namun ketika Williams memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Australia barulah hubungan mereka merenggang hingga benar-benar hilang kontak ketika Williams memilih menetap di Indonesia bersama dengan keluarga Bram yang kala itu banyak membantunya.
__ADS_1
Setelah membalas pesan singkat Albert, Will memilih membersihkan tubuhnya.