
Kepergian Alisya sangat berimbas pada keharmonisan keluarga tuan Alisky. Bahkan bibi Cleo pun sampai datang dan bertanya tentang apa yang terjadi sampai membuat Alisya kabur. Deandra sendiri sempat mengurung dirinya lama. Hari harinya dihabiskan dengan menangis dan merutuki dirinya sendiri karena tak mampu menjaga Alisya.
Tuan Alisky bahkan sering pulang malam dan lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruang kerjanya. Rumah terasa sangat berbeda karena tak ada lagi canda tawa di waktu makan malam. Bahkan rutinitas tersebut seolah telah ditinggalkan dan anggota keluarga sibuk dengan urusan masing-masing.
Akmal melanjutkan lagi studinya yang sempat terhenti guna mencari keberadaan sangat adik. Pemuda itu memilih menyibukkan dirinya dengan kegiatan kampus dan berusaha untuk segera dapat menyelesaikan studinya dan fokus kembali mencari keberadaan sangat adik.
Alisya bahkan tak membawa ponselnya, benda tersebut ditemukan berada di dalam laci kamarnya beserta sepucuk surat yang berisi permohonan maaf dan kata sayang nya untuk keluarganya.
Perubahan paling besar nampak pada Alina. Gadis manis yang periang tersebut sering mengurung diri dikamar. Tak jarang dirinya kedapatan menangis.
"Pagi sayang. Mama sudah memasak sarapan untuk kita semua. Ayo duduk dulu, kita sarapan bersama."
__ADS_1
Ini adalah kali pertama keluarga ini kembali duduk bersama menikmati sarapan. Deandra berusaha terlihat baik baik saja meski luka kehilangan tersebut masih nampak jelas dimatanya.
Akshan dan Akmal yang tak pandai ber ekpresi hanya terdiam sambil sesekali mengurai keheningan dengan obrolan ringan yang mereka ciptakan. Tak ada pembicaraan berarti membuat acara sarapan bersama masih terasa hambar. Namun ini lebih dari cukup dari pada hari hari kemarin.
🍃🍃🍃🍃🍃
Pagelaran busana akan berlangsung esok hari. Baik tim model, lighting dan segala macam pernak pernik nya melakukan gladi resik hari ini. Begitu pula dengan Alexa dan Monica. Mereka melakukan latihan dengan fokus hari ini.
"Yee, berhasil. Semoga besok semuanya lancar seperti hari ini." Seru Alexa yang dilanjutkan dengan senyum lebarnya.
Sifat periangnya membuat yang lain ikut tersenyum. Bahkan Williams sempat menolehkan wajahnya dan menatap Kearahnya untuk beberapa detik. Senyum tersungging di bibir Will tanpa sadar.
__ADS_1
Williams lelaki yang ramah, namun karakternya yang sedikit bicara tersebut membuat orang yang belum mengenalnya akan sungkan untuk mengajaknya berbicara. Dia hanya mengandalkan senyum dan anggukkan kepalanya saja untuk menyapa atau membalas sapaan yang tertuju padanya.
Bahkan hingga waktunya makan siang pun. Dirinya hanya berbicara pada seorang staf yang memang di tunjuk untuk membantunya selama pagelaran. Staf tersebutlah yang pada akhirnya menjadi juru bicara untuk Williams.
Meski telah menjadi dokter terkenal. Namun perasaan canggung masih mendarah daging padanya. Williams masih merasa kecil di dunia yang sahabatnya geluti. Berulang kali Bram memintanya untuk menggantikannya dalam urusan urusan kantor. Namun Williams tetaplah Williams. Dia akan menjadi dirinya sendiri jika sudah berada di rumah sakit dan memakai baju kebesaran yang dia banggakan.
Monica berbisik kecil ke arah Alexa yang sedang menikmati makan siangnya dengan tenang. Kedua Gadis tersebut kemudian menatap ke arah Williams yang juga sedang menikmati makanannya.
Wajah tampan dengan garis tegas, terdapat bulu bulu halus disekitar rahangnya. Cambang tipis yang dibiarkan nya, hidung mancung dengan kacamata yang membingkai kedua mata birunya. Nampak semakin tampan dengan kaos hitam yang melekat ditubuhnya.
"Sempurna." Bisik Monica dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Williams yang kebetulan berada dia meja diantara mereka. Alexa hanya mengangguk membenarkan ucapan Monica. Namun ingatannya melayang kepada ke dua kakak laki-laki nya nun jauh disana. Rasa rindu itu datang kembali membuat Alexa merasakan sesak didadanya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kalian semua." Gumamnya pelan