
"Hei cantik, sudah lama menunggu om?"
Wiliams segera menyongsong gadis cantik berbaju pink yang berlari ke arahnya. Gadis cantik tersebut segera melingkarkan lengan mungilnya ke leher Williams.
Ciuman gemas berlabu di pipi gembil balita berusia 1 tahun tersebut. Gelak tawa lucu segera menghiasi koridor rumah sakit tepatnya ke arah yang menuju ruang kerja Will.
"Ckck kau akan membuat bedaknya luntur Will." Sungut Bram yang berjalan mengekor ke duanya.
Wili hanya mendengus sebal namun dirinya tetap melangkah masuk ke dalam ruangannya bersama dengan Cameli yang anteng dalam gendongannya. Boneka cantik kesayangan Bram dan Tiara itu memang sejak bayi sudah dekat dengan Williams.
"Sudah makan, hemm?"
"Da." Jawaban pelan Cameli disertai anggukan kepalanya membuat Williams gemas.
"Ahh, andai ada versi kamu yang dewasa. Om pasti akan mengejarnya sampai dapat." Ucapnya sambil tergelak dan membuat Camelia menatapnya tak mengerti.
__ADS_1
"Jangan racuni pikiran polos putriku dengan ketidakwarasanmu, Will."
Dari pagi Bram sudah dibuat pusing oleh ulah putrinya yang meminta bertemu dengan Williams. Entah apa yang ada dalam diri sahabatnya tersebut hingga Camelia merasa nyaman bersamanya.
Williams hanya tergelak. Diletakkannya Cameli di kursi kebesaran dengan stetoskop yang selalu menjadi barang paling menarik bagi Camelia. Williams sengaja menyediakan 1 khusus untuk Cameli jika gadis cilik tersebut berkunjung.
"Edwin datang." Ucapnya pelan ketika mendudukkan dirinya di sofa tak jauh dari tempat Bram berada.
"Saudara angkatmu? Ada masalah dengan Oma Feli?"
"Bisnis denganku?"
"Hem, kamu ingat bukan saat aku menceritakan bahwa Ed mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang konveksi? dia bercerita bahwa perusahaan nya mempunyai perjanjian kerja sama dengan perusahaan mu baru baru ini." Jelasnya seraya meminum air mineral yang memang tersedia di meja dalam ruangannya.
"Suta yang lebih paham soal itu. Jadi kenapa? bukankah itu hal yang baik?" Bram menatap wajah sahabatnya dengan seksama. Terlihat jelas kegundahan di wajah tersebut.
__ADS_1
Williams mengusap kasar wajahnya. Masih melekat jelas dalam ingatannya perjanjian dengan Oma Feli waktu itu. Williams pada akhirnya pasrah jika nanti Oma benar-benar mencarikan jodoh untuknya. Will hanya bisa berharap semua itu yang terbaik bagi dirinya kelak.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Alisya yang sedang berbaring di kamarnya mendongak ketika suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya. Dia yang hari ini memang tak ada mata kuliah memilih untuk meng istirahatkan diri dirumah nya. Tak ada kegiatan yang menarik baginya kecuali tentang fashion.
"Ya, masuk saja pintunya nggak di kunci." Ucapnya seraya mematikan laptop yang sedang menampilkan beberapa model kelas dunia yang sedang berlenggak lenggok diatas Catwalk.
Deandra masuk kedalam kamar putri sambungnya dengan senyum yang mengembang di pipinya. Wanita lembut dengan paras yang masih terlihat mempesona tersebut mendudukkan diri di samping Alisya yang juga telah mengubah posisinya menjadi duduk dengan memangku bantal di pahanya.
"Kamu tidak ada acara hari ini sayang?"
"Nggak ma. Dosen sedang berhalangan hadir, jadi Alis memilih untuk meliburkan diri saja."
Deandra tersenyum, dia yang memang tahu betul tabiat putri ke 3 nya tersebut tak bisa berbuat banyak. Alisya tak seperti pada gadis kebanyakan, dia hanya tertarik dengan dunia fashion dan modeling saja. Bahkan Tuan Alisky pun tak lagi bisa melarang kesenangan sangat putri. Tentu dengan syarat, Alisya masih tetap harus memenuhi tuntutan sangat ayah yang menginginkannya menjadi dokter.
__ADS_1
"Ayah baru saja menghubungi mama. Dia meminta kita bersiap karena nanti malam kita akan makan malam diluar." Deandra menyampaikan pesan dari sang suami yang disambut anggukan kepala dari Alisya. Setelahnya wanita cantik tersebut melangkah keluar dari kamar sangat putri yang kembali tenggelam dengan laptopnya.