
Jika boleh jujur, Alexa sangat merindukan keluarganya. Saat ini dirinya sangat malu, keinginan kuatnya untuk kabur saat itu bukan hanya untuk lari dari perjodohan yang menurutnya tak baik untuknya. Dia yang masih muda harus bersanding dengan orang yang jauh lebih tua darinya, untuk membayangkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Tak terbayang bagaimana tanggapan teman temannya nanti saat semua itu benar-benar terjadi.
Akan tetapi pertanyaan Williams tadi pagi mengusik hatinya. Akankah dirinya masih diakui oleh keluarga nya? bagaimana jika mereka sudah melupakan bahkan lebih parah mereka telah menganggapnya mati.
Pada akhirnya dia memilih untuk berhutang pada Williams meski lelaki tampan tersebut mengatakan akan membantunya tanpa embel-embel apapun lagi. Tapi dasar memang sifat Alexa yang keras membuatnya menyetujui semua itu.
"Tak perlu. Kau hanya perlu fokus pada masa pemulihan dan juga kesehatanmu."
"Tidak Om. Jika om tak mengijinkan Lexa bekerja untuk om maka lebih baik Lexa menolak semuanya."
"Kau tak bisa menolaknya. Jika itu kau lakukan bagaimana caranya kau membayar agencymu?"
"Tak apa Om, paling nanti Lexa dipenjara karena tak mampu membayarnya saat jatuh tempo. Itu lebih baik dari pada Lexa berhutang banyak pada Om."
"Astaga, aku hanya ingin membantumu saja."
"Itu sama saja Om ingin menambah hutang budi ku pada Om. Om sudah terlalu banyak membantu Lexa, kali ini ijinkan Lexa bekerja untuk Om."
"Baiklah, terserah kau saja."
__ADS_1
Alexa tersenyum senang. Williams hanya menatapnya datar tapi justru itu semakin membuat hati Alexa bertambah bahagia. Hingga senyum tersebut kembali terbit dibibirnya saat ini.
"Andai lelaki yang dijodohkan oleh ayahnya itu Williams, mungkin aku tak akan menolaknya dan pastinya aku akan sangat bahagia." Lirihnya.
"Ah kamu jangan gila Alis, apa yang kamu pikirkan. Om Will sudah sangat baik padamu jadi jangan membuatnya kecewa." Gumamnya sambil beranjak ke halaman belakang untuk membersihkannya.
Will telah berangkat ke rumah sakit sesaat setelah mereka menyelesaikan sarapan dan sedikit berbicara. Tinggallah Alexa sendiri dirumah dengan 2 lantai tersebut bersama security yang berjaga di depan.
*
*
*
"Apa?"
Williams mengernyitkan dahinya dengan kata kata Bram yang menurutnya aneh. Lelaki tampan nan kaya tersebut telah berada di ruangannya bahkan jauh sebelum dirinya datang. Entah setan apa yang membawa Bram datang sepagi itu hanya untuk mengucapkan kata kata tak jelas seperti itu.
"Katakan, sampai sejauh mana sekarang?"
__ADS_1
Huuft
Williams menghembuskan nafasnya kasar. Tak tahu harus bersyukur atau kesal saat sahabat terbaik serta bos nya tersebut bertingkah menyebalkan seperti sekarang ini.
"Aku sedang banyak pekerjaan Bram, kau tahu kan kalau dia hari lagi aku akan kembali mengambil cuti?"
Bram mengangguk namun bibirnya tetap tersenyum membuat mata Will memicing heran.
"Kau tak sedang sakit kan, Bram?" Bram melemparkan bolpoin yang sejak tadi dimainkannya kearah Will yang dengan sigap menangkap benda tersebut.
"Tentu saja tidak. Aku bahkan sehat saat ini." Sungut nya.
"Lalu, kenapa sikapmu sangat menyebalkan."
"Ckck, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan gadis kecil itu? kau jangan pura-pura bodoh Will."
"Gadis kecil? siapa?"
Ah Will sadar sekarang kenapa sangat sahabat bersikap tengil sejak tadi. Diusap tengkuknya pelan.
__ADS_1
"Dia bukan anak kecil, namanya Alexa dan dia baik baik saja saat ini. Hanya butuh pemulihan saja, mungkin membutuhkan waktu sedikit lama untuk itu karena tulangnya mengalami retakan." Jelasnya kemudian.
Bram menganggukkan kepalanya seolah mengerti namun senyum tengilnya tetap membuat Will kesal.