
Doni memicingkan matanya sejenak. Lelaki mantan preman tersebut menyembunyikan dirinya di balik sebuah pohon yang berada di taman samping. Dia yang memang bertugas menjaga seluruh keamanan panti sesuai dengan anjuran tuan mudanya yaitu Bram tentu selalu mengingat tugasnya tersebut.
Seperti biasa, Doni berkeliling dari satu sudut kesudut lainnya meski sudah ada anak buah yang selalu berada disetiap titik. Tak ada yang curiga ataupun terganggu dengan keberadaan mereka. Merangkap sebagai pekerja panti adalah hal yang diketahui banyak orang terutama para penghuni panti tanpa mereka tahu jika orang-orang tersebut adalah para pengawal yang menjaga mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan para penghuni panti kebanyakan sudah masuk dan beristirahat dalam kamar mereka masing-masing. Pada awalnya, kamar mereka dibikin sendiri sendiri namun seiring berjalannya waktu terjadi banyak perombakan disana.
Para penghuni lebih senang berkumpul bersama, mereka bilang jika itu menyenangkan dan bisa mengusir rasa sepi dihari tua mereka.
Satu ruangan dihuni oleh 4 sampai 6 orang ternyata juga dapat membantu kinerja para suster untuk mengawasi mereka. Memastikan jika para penghuni tersebut mendapatkan kenyamanan dan keamanan yang baik tentunya.
Doni semakin menajamkan pendengaran dan juga penglihatannya. Dia sangat mengenali sosok yang nampak berdiri sambil beberapa kali menengok kanan kiri melihat situasi.
"Mau apa dia malam malam begini?"
Mata Doni kembali melotot kala melihat seseorang yang datang dari arah gerbang samping. Dia juga mengenali lelaki yang memakai jaket kulit dengan masker yang menutup wajahnya.
__ADS_1
Meski serba tertutup, postur tubuh orang itu sangat diingat oleh Doni. Bagaimanapun dirinya pernah melakukan penyelidikan terhadap keduanya. Tak ingin kehilangan sesuatu, Doni membidikkan kamera kearah keduanya berdiri.
Tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan bukan berarti dirinya akan kehilangan akal. Doni bergerak menghubungi anak buahnya yang bertugas disana. Seorang tukang kebun yang juga bertugas menutup semua pintu gerbang jika sudah larut malam.
"Nona, kenapa anda berada diluar?" Tanyanya membuat Clara terlonjak kaget. Beruntung lelaki yang menemuinya sudah pergi beberapa waktu lalu, hingga tukang kebun tersebut tak sempat melihatnya.
"Bukan urusanmu!! urusi saja pekerjaanmu agar kau tak dipecat nantinya." Sentaknya sambil melengang masuk ke dalam panti.
Tukang sapu tersebut hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis yang terbit diujung bibirnya. Tanpa Clara sadari jika sebenarnya dirinya tengah diawasi sejak beberapa menit dirinya baru sampai di tempat itu.
"Wanita gila, dikasih tahu yang benar malah nyolot." Ucapnya seraya melangkah menutup gerbang samping.
Doni tersenyum menyeringai menatap ponsel yang baru saja disodorkan oleh anak buahnya. Beberapa foto Clara nampak disana, tak hanya satu tapi ada beberapa yang ternyata menurut laporan, pertemuan mereka bukan hanya sekali ini saja berlangsung.
"Ternyata dia belum menyerah. Baiklah, kita ikuti saja permainannya kali ini."
__ADS_1
"Kamu awasi terus pergerakannya dan segera laporkan jika ada yang janggal. Tapi jangan sampai dirinya menyadari jika sebenarnya kita sudah membidiknya kali ini." Doni tersenyum lebar.
"Nona Lexa pasti akan senang melihat ini."
Sewaktu makan malam tadi, Alexa memang mencari waktu untuk sekedar berbicara dengan Doni. Gadis itu merasa sedikit curiga atas perubahan yang terjadi pada Clara. Wanita dengan perut besarnya tersebut nampak tenang tak banyak berulah seperti sebelum sebelumnya. Bahkan cenderung bersikap manis apalagi dihadapan Williams meski lelaki tampan tersebut tak pernah menanggapinya.
Doni, Albert dan beberapa pengurus panti pun nampak merasakannya. Namun mereka tak berpikir macam macam dan menganggap perubahan dalam diri Clara adalah hal baik.
"Nona mencurigainya?" Doni bertanya pelan.
Alexa mengangguk, "Aku sempat mengenal dia dan sedikit tahu bagaimana dirinya saat bersama dengan dokter Will dari suster Dini. Sebenarnya aku sangat mengapresiasi perubahan dirinya jika memang itu benar-benar perubahan yang tulus bukan lagi modus. Tapi entah mengapa aku meragukan semua itu, Om. Apa menurut Om sikapku ini berlebihan?"
"Tidak Nona, hal itu wajar saya rasa."
"Aku hanya tak mau jika Om Will kembali masuk dalam jebakannya. Om tahu kan maksudku?" Alexa kembali berbisik.
__ADS_1
Doni mengangguk, dia tahu akan hal itu. Bahkan lebih dari tahu karena secara tak langsung dirinyalah yang berhasil membongkar kebohongan Clara sebelum wanita tersebut berhasil menjebak Williams lebih dalam.