I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 166


__ADS_3

Suasana bahagia sangat terasa di ruang perawatan Cindi. Wanita calon ibu muda tersebut nampak bahagia dengan berita kehamilannya. Dia yang selalu menginginkan hal itu tentu saja sangat bersyukur luar biasa. Tubuhnya yang masih lemah tak membuat senyum itu meredup. Cindi bahkan berulang kali mengusap perutnya yang datar saking tak percayanya.


"Sayang." Akshan mendekat, mencium lembut kening sang istri penuh sayang. Tak ada yang lebih membahagiakan mereka saat ini kecuali berita kehadiran sang buah hati yang ternyata telah tumbuh dalam rahimmya.


Janin berusia 5 minggu tersebut dinyatakan sehat meski sang ibu hamil harus memperhatikan pola makannya mengingat tekanan darahnya yang sangat rendah saat ini.


Suatu keajaiban menurut mereka, karena selama beberapa bulan ini Cindi rajin mengecek dirinya menggunakan testpack. Hasil yang selalu mengecewakan membuat mereka berputus asa hingga mengakibatkan Cindi stress.


"Kak, aku masih tak percaya semua ini. Bukankah setiap pagi aku mengeceknya dan hasilnya selalu negatif?" Cindi bersandar di dada sang suami yang memeluknya erat.


"Anggap aja Tuhan mengabulkan permohonan kita dengan cara ini sayang. Dia telah hadir namun sengaja menunggu waktu yang tepat untuk memberi kita kejutan." Akshan turut membelai perut Cindi.

__ADS_1


Anggota keluarga yang lain telah kembali ke kediaman satu jam yang lalu setelah Tuan Alisky datang ke rumah sakit. Pria paruh baya tersebut nampak sumringah dengan kehadiran calon cucu pertamanya. Ke dua matanya sampai berembun dan jelas saja hatinya sangat bahagia.


Persiapan pernikahan Alisya yang hanya tinggal hitungan hari saja membuat mereka semua sibuk.


Kedua calon pengantin malah menghilang semenjak dari rumah sakit tadi. Keluarga yang lain hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan keduanya.


Kedua orang tua Cindi yang saat ini berada di Berlin bahkan memberi kabar jika mereka akan kembali lusa. Rasa bahagia tentu saja turut dirasakan keduanya yang hanya memiliki anak tunggal.


Tak henti hentinya mama Cindi mengucap syukur dengan kehamilan sang anak. Beberapa hari lalu, sang putri menghubunginya. Mengadu tentang keresahan hatinya yang tak kunjung hamil padahal pernikahan mereka sudah terbilang lama. Satu tahun lebih bukanlah waktu yang panjang namun rasa sesak tentu saja menjadi beban utama seorang wanita yang khawatir akan keutuhan rumah tangganya.


Bohong rasanya jika mereka tak mengharapkannya. Dan Cindi sangat peka akan hal tersebut.

__ADS_1


"Kalau ada yang kamu inginkan, katakan saja jangan ragu. Aku akan berusaha mewujudkan semuanya untuk mu dan anak kita, hem." Akshan membelai sayang kepala Cindi sambil sesekali menciumnya.


"Aku tahu, kak. Tapi aku hanya ingin bermain dengan princess dan pangeran. Mereka lucu sekali, aku ingin anak kita nanti tumbuh seperti mereka."


"Ehm, Nanti kakak akan coba menghubungi tuan Bram untuk meminta ijin. Tapi, jika nanti tak memungkinkan kita bisa bermain bersama mereka setelah kamu keluar dari rumah sakit ya. Kamu tahukan, rumah sakit tak baik untuk anak kecil?"


Akshan berusaha bicara selembut mungkin agar mood sang istri tak memburuk. Beruntung, Cindi dapat memahami ucapannya. Terbukti wanita yang nampak semakin cantik di mata Akshan tersebut menganggukkan kepala. Keduanya tahu siapa Bram dan membawa ke dua putra putrinya tentu saja adalah hal yang mungkin tak bisa terwujud dengan muda.


*


*

__ADS_1


*


"Sabar ya nak, nanti kamu akan bertemu dengan kakak kakak cantik dan ganteng. Mereka baik dan mama harap kamu juga bisa tumbuh baik seperti mereka." Cindi berbicara dengan tangan mengelus lembut perutnya. Sementara Akshan menanggapinya dengan tersenyum simpul.


__ADS_2