I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 93


__ADS_3

Williams sama hal nya dengan orang kebanyakan. Dirinya akan merasa tak sabar ketika jiwa ingin tahunya semakin meningkat. Cerita Alexa membuatnya sangat penasaran dan pagi pagi sekali lelaki tampan tersebut sudah menghubungi Edwin hanya untuk menanyakan hal itu.


Sayangnya, Edwin yang memang tak terlibat langsung dengan masalah perjodohan itu tidak mengetahui banyak hal. Memang dirinya mengetahui jika Alexa adalah gadis yang akan oma Feli jodohkan dengan Williams. Bahkan mereka sempat bertemu sekali waktu itu.


Namun karena Williams menanyakan perihal Oma yang hendak menjodohkan salah satu anaknya tentu saja membuat Edwin bingung.


"Tidak mungkin kan paman mau menikah lagi? apalagi papa. Kalau sampai itu terjadi tentu saja aku orang pertama yang akan minta penjelasan padanya. Tapi apa mungkin dengan gadis beliau, umur mereka pun terpaut sangat jauh. Ah tidak tidak, itu tidak mungkin." Edwin mengacak rambutnya.


Obrolannya dengan Williams beberapa menit lalu mempengaruhi kinerja otaknya kini. Pada akhirnya Edwin memilih melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Mandi air dingin sepertinya bisa membuat otaknya sedikit segar.


Sementara itu Williams kembali dibuat uring-uringan dengan rasa penasaran nya. Dokter tampan tersebut semakin hari semakin terlihat berbeda. Dia yang cuek dengan sorot mata tegas diluar profesi nya sebagai dokter kini sedikit demi sedikit terkikis. Williams lebih suka tersenyum dan lebih banyak bicara. Hal itu sangat disambut baik oleh orang-orang terdekatnya termasuk Bram.


"Duduk lah Williams, kau membuatku sakit kepala." Bram berujar sambil menatap Williams yang sedang gusar sejak datang ke kantornya.


Beruntung sekali kali ini Bram berada di galeri nya hingga dia bisa bersantai menghadapi sang sahabat yang nampaknya sedang ada masalah.

__ADS_1


"Ceritakan padaku, ada apa dengan mu?"


Bram meletakkan kuasnya, niat hati datang ke galeri untuk membuang penat dan menyalurkan hobi nya malah harus kedatangan sang sahabat yang entah kenapa sangat berbeda.


"Aku pusing." Williams menghempaskan bokongnya ke sofa kecil yang berada di studio pribadi milik Bram dalam galeri tersebut.


"Minum obat kalau pusing!!, ck kau kan dokter. Seharusnya kau bisa mengenali tubuhmu sendiri tanpa harus diingatkan." Bram beranjak menuju kotak obat yang berada di salah satu sudut ruangan.


"Bukan pusing itu, ya Tuhan." keluh Williams menyadari pergerakan sahabatnya.


"Kau bilang pusing, memang ada pusing yang lain selain kepalamu? atau pusing kepala yang lain?" Bram menaik turunkan alisnya, menatap jenaka kearah Williams yang menatapnya bingung.


"Ckck khusus laki-laki dewasa mempunyai dua kepala." Bram berujar seraya kembali ke bangku tempatnya semula.


"Ah aku lupa. Kau kan belum dewasa, buktinya rasanya jatuh cinta saja kau sampai tak tahu." Lanjutnya seraya tergelak, membuat Will mendengus karena akhirnya paham kearah mana pembicaraan Bram.

__ADS_1


Lelaki yang sedang berbunga menunggu kehadiran putra pertamanya tersebut tertawa lepas. Puas meledek Williams kini keduanya kembali duduk dengan raut serius.


Williams menceritakan semua yang ada dalam pikirannya lengkap dengan pemikiran dan juga dugaannya menanggapi cerita dari Alexa.


"Putra Oma Feli kan hanya dua. Papa Jack dan Jonathan juga papanya Edwin. Apa mungkin Oma mempunyai putra lain lagi selain mereka?"


"Rasanya tidak ada. Hanya mereka saja yang aku tahu selama ini." Williams menanggapi ucapan Bram. Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat.


"Atau jangan jangan telah terjadi salah paham disini?"


"Salah paham apa maksudmu?" Williams menoleh, menatap Bram yang balik menatapnya.


*


*

__ADS_1


*


"Gadis itu mengira kalau Oma ingin menjodohkannya dengan putranya. Bisa jadi saat itu, Oma malah sedang menjodohkan kalian."


__ADS_2