
"Kapan kamu berangkat?" Monica menghubungi Akmal malam itu. Pemuda berjambang tersebut mengirimkan pesan padanya tentang rencana kepindahannya.
"Paling lambat minggu depan. Tak apa kan? kita masih bisa saling berhubungan."
"Ingin rasanya aku terbang ke sana untuk menemuimu. Tapi aku tak bisa, acara di Miyami di tunda besok dan lusa. Kemungkinan nanti malam aku akan terbang ke sana."
"Tak apa. Kita masih punya waktu untuk itu. Kejarlah karirmu selagi masih ada kesempatan." Akmal mencoba menenangkan gadis yang selama beberapa bulan ini dekat dengannya.
Bahkan tanpa orang lain ketahui, keduanya sempat bertemu. Monica datang menemui Akmal secara langsung menceritakan tentang Alisya, namun benih-benih lain tumbuh dalam hati keduanya sehingga hubungan mereka semakin dekat.
"Aku akan segera menyelesaikan semuanya setelah kontrak ku habis. Aku akan menyusulmu kesana."
"Bukankah kita sudah membicarakan nya, sayang. Kita jalani dulu ini hingga nanti aku bisa berhasil, setidaknya aku punya penghasilan yang cukup untuk kita berdua." Akmal berujar dengan tatapan teduhnya.
Keduanya memang telah memikirkan masa depan meski hubungan mereka masih baru berjalan.
"Tapi.."
"Aku milikmu, sayang. Percayalah, semua akan berjalan seperti yang kita inginkan. Kamu hanya perlu menjaga hati dan percaya padaku, karena aku akan melakukannya juga untukmu."
__ADS_1
Mau tak mau Monica mengangguk, meski rasa was was itu menghantui hatinya. Akmal terlalu sempurna dimatanya. Dia yakin akan banyak gadis yang berusaha menarik perhatiannya. Memikirkan hal itu saja membuat dada Monica sesak. Tapi dia pun tak bisa berbuat apa-apa, semua yang dikatakan Akmal juga demi kebaikan keduanya.
Akmal tersenyum kecil, dia sangat paham apa yang ada dipikiran Monica. Tak ingin mengekang gadis itu membuat Akmal mengambil keputusan demikian. Bukan tak ingin bersama namun dirinya tak ingin egois. Menjadi model adalah impian Monica sejak kecil. Sama seperti sang adik, mereka mempunyai mimpi dan Akmal tak ingin menjadi penghalang nya. Dia akan membebaskan Monica meniti karirnya sama dengan yang akan dilakukannya nanti.
*
*
*
Williams meminjit pelipisnya pelan. Dirinya yang baru saja turun ke dapur harus dibuat kaget dengan keadaan dapur yang berantakan. Alexa dengan celemek hitamnya nampak sangat serius di depan meja dapur bersama dengan peralatannya. Sejak kemarin gadis tersebut heboh ingin membuat sesuatu untuk camilan selama weekend ini.
"Kau sedang apa?" Williams yang awalnya hanya ingin diam pada akhirnya tak tahan untuk bertanya.
"Aku sedang membuat kue untuk anak kak Usman juga para penghuni panti. Om mau sarapan? aku sudah membuat sandwich. Kalau mau aku akan siapkan sekalian dengan jus mangga nya." Alexa menoleh ke arah Williams yang masih menatapnya.
Wajah Alexa dengan beberapa noda tepung yang menempel disana membuat nya nampak lucu didepan Williams. Lelaki tersebut tergelak dan itu membuat Alexa mengernyitkan dahi bingung.
"Om kenapa?"
__ADS_1
Williams mengibaskan tangannya. Kemudian melangkah untuk membuat jus dan mengambil sandwich yang diletakkan diatas meja makan. Lelaki tersebut menatap lekat tubuh Alexa yang lincah bergerak ke sana kemari dengan kegiatannya. Terlihat dua loyang roti sudah matang tak jauh dari tempat Will duduk. Baunya sangat harum dan menggugah selera.
"Kau punya bakat membuat roti. Kenapa tidak membuat usaha saja?" Ucap Williams sambil menyuap sandwich nya.
"Tidak, aku tak sehebat kak Tiara atau kak Sita. Aku hanya bisa membuat sedikit saja, itu juga karena dulu sering melihat mama Dea membuatnya untuk kami sarapan."
"Mama kamu pintar ya."
"Tentu, mama adalah wanita hebat. Dia akan makan kalau kami semua sudah datang dan duduk di meja makan. Mama dengan sabar akan bertanya pada kami tentang apa yang ingin kami makan nanti malam. Rasanya menyenangkan dan aku ingin seperti mama nantinya."
Alexa menghentikan kegiatannya. Menunduk sesaat sebelum kembali mencoba tersenyum.
"Kau merindukannya?" Williams sengaja bertanya.
Alexa hanya menunduk. Bohong rasanya jika dia tak rindu akan suasana rumahnya. Namun gadis itu masih takut, keluarganya tak menerima kehadirannya kembali nanti setelah apa yang dirinya lakukan.
*
*
__ADS_1
*
"Pulanglah, jika kau merindukan mereka. Karena tak akan ada kasih sayang yang lebih tulus dari pada kasih sayang keluarga sendiri."