I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 128


__ADS_3

Pernyataan Cinta yang terucap dari bibir Williams sungguh membuat angan Alexa melambung tinggi. Namun masih ada yang menganjal dalam hatinya.


Masalah Clara sudah dianggapnya selesai dengan pernyataan Williams yang mengatakan jika wanita itu kemungkinan telah menikah dengan kekasih aslinya yang juga ayah dari bayi yang berada dalam kandungannya saat ini.


Namun Alexa masih berpikir tentang masalah perjodohan dirinya yang telah lalu. Bukankah waktu itu Oma datang ingin menjodohkan dirinya dengan putranya? lalu mengapa sekarang menjadi Williams?


Malam kian larut namun ke dua insan yang sama sama sedang gelisah tersebut tidak dapat memejamkan mata mereka. Banyak hal yang masih berkeliaran ditempurung kepala Alexa. Namun senyum bahagia terbit dari bibirnya mengingat ungkapan kata cinta yang Williams ucapkan beberapa waktu lalu.


"Ahh, aku tidak sedang bermimpi kan?" pekiknya lirih.

__ADS_1


Tak jauh beda dengan keadaan dikamar sebelah, kamar yang hanya dibatasi satu ruang santai. Dimana Williams sedang merebahkan dirinya diatas ranjang yang sudah bertahun-tahun lamanya dia tinggalkan. Kamar dimana dirinya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengenang kedua orang tuanya kala itu.


Perasaan lega menyelimuti hatinya malam ini. Meski belum ada jawaban yang diberikan oleh Alexa atas pernyataan cintanya, namun setidaknya Will sudah mengutarakan isi hatinya.


Sesuai janjinya pada Alexa, besok dirinya akan mengantarkan gadis itu pulang ke rumah orang tuanya. Namun tentu saja hal itu tak akan pernah Williams lewatkan untuk lebih mengenal keluarga Alexa seutuhnya.


Segurat senyum terukir dibibirnya, tak pernah dia merasakan sebahagia ini sebelumnya. Benar yang dikatakan oleh asisten Suta. Jika jatuh cinta itu menunjukkan jati diri seseorang yang tersembunyi, yaitu kebodohan.


Oma Feli tersenyum bahagia, diusianya yang tak lagi muda tersebut dia bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini memang selalu diperjuangkan nya. Kebahagiaan Williams adalah hal yang paling dia inginkan selama ini. Dia tak mau jika waktunya nanti dirinya untuk pergi, cucu kesayangannya tersebut masih sendiri.

__ADS_1


"Kalian harus tenang disana. Aku sudah berjanji akan selalu membuat hidup putra kalian bahagia dan Aku akan mewujudkan semua itu." Ucapnya lirih sambil menatap foto kecil yang telah usang namun masih tersimpan dengan rapi dalam laci narkasnya.


Dibelainya foto Williams kecil yang sedang tersenyum bersama kedua orang tuanya tersebut dengan mata yang mulai berkabut. Masih terbayang dalam pelupuk matanya kala musibah itu datang.


Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Williams meraung memanggil dan meminta kedua orang tuanya kembali. Oma Feli sendiri merasa sangat berhutang budi pada kedua orang tua Williams tersebut. Andai saja malam itu, tuan Jhon, ayah Williams tak membantunya keluar lebih dulu mungkin dirinyalah yang akan menjadi korban.


Namun demi membuat Oma selamat, tuan Jhon memilih untuk meninggalkan sang istri yang saat itu masih berada didalam gedung. Disaat dirinya kembali masuk ke dalam itulah terjadi ledakan. Jasad keduanya ditemukan dalam posisi saling menggenggam. Membuat keduanya dikebumikan dalam 1 liang lahat yang sama.


Oma Feli menghapus air mata yang mengalir di pipinya yang tak lagi kencang tersebut. Banyaknya luka kehidupan yang dijalaninya dulu sepeninggal sang suami tak sebanding dengan luka yang ditanggung Williams kecil. Apa yang diberikannya pada Will selama ini belum bisa membuat Oma tenang. Baginya, kebahagiaan Williams adalah hal yang wajib dia penuhi.

__ADS_1


__ADS_2