I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 109


__ADS_3

Sudah ada satu camp pengungsian yang didatangi oleh Williams. Tak ada tanda tanda adanya Alexa disana. Namun Will tak akan pernah menyerah. Tekatnya sudah bulat, dan Will berjanji pada dirinya sendiri untuk itu.


"Bagaimana dokter, apa kira kira dia berada disini?"


Williams menggeleng pelan. Namun senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Dokter tampan tersebut menyesali tindakannya yang ceroboh dan mudah tersulut dengan sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Andai saja dia bisa sedikit bersabar, kejadian ini tak akan pernah terjadi. Alexa nya tak perlu berada ditempat yang menyeramkan seperti ini. Berada diantara orang-orang yang berperang entah ingin merebutkan apa.


Meskipun terlihat senyum dibibir setiap orang yang Will temui, tak dapat dipungkiri bahwa ada kecemasan dan rasa was was yang menyelimuti hati mereka setiap waktunya.


"Bersabarlah, masih ada 4 camp lagi yang belum kau kunjungi. Namun kau juga harus bersiap dengan kemungkinan buruknya juga." Kembali tentara tersebut bersuara membuat Williams kembali pada kesadarannya.


"Mak.. maksudnya?"


"Kita hidup di suatu tempat yang orang orangnya sedang bertikai. Bisa dibilang antara hidup dan mati. Jika saat ini kita hidup belum tentu juga nanti. Setiap saat bisa saja terjadi dan itu tak menutup kemungkinan pada relawan ataupun tim medis yang ada. Karena peluru nyasar yang terlepas dari sarangnya itu tak lagi punya mata."


"Aku tak ingin menakutimu, namun itu adalah resiko yang harus ditanggung setiap orang yang pergi ke daerah yang sedang berkonflik. Tapi tentunya, kami berharap kalian bisa bertemu secepatnya."

__ADS_1


Will menganggukkan kepalanya mengerti. Suara pesawat dan dentingan peluru menjadi satu-satunya hal yang terdengar kini. Bukan lagi kebisingan suara klakson mobil ketika terdapat antrian yang me ngular karena kemacetan.


"Aku paham. Akan tetapi untuk saat ini setidaknya aku masih merasakan keberadaannya, meski aku belum tahu dimana dirinya kini berada." Jawabnya pelan.


*


*


*


Bahkan, selama itu pula hampir tak pernah ada komunikasi yang terjalin diantara keduanya. Saling menghindar dan mencoba menjauh mereka lakukan. Meski jika ingin jujur hati mereka masih sering berhubungan.


Alexa tersadar dari lamunannya ketika sebuah tangan menyentuh bahunya pelan. Senyum Arya terlihat disana kala Alexa mendongakkan wajahnya karena kaget.


"Kau melamun lagi. Ada apa? tak terjadi apapun kan pada keluarga dan juga tunanganmu?"

__ADS_1


Arya mengambil duduk di samping Alexa. Dugaannya tak salah karena dirinya melihat Alexa sedang melamun sambil menggenggam ponselnya. Dalam benak Arya, Alexa sedang merindukan mereka.


"Semangat ya!! kita pasti akan berkumpul kembali dengan mereka nanti, setelah tugas kita selesai tentunya."


Alexa yang masih diam membisu semakin menguatkan dugaan Arya bahwa gadis tersebut benar-benar merindukan keluarganya. Atau yang lebih pasti, dia sedang merindukan tunangannya. Seperti dirinya yang juga tengah mati matian menahan rindunya pada sangat kekasih.


Sebuah panggilan dari bagian farmasi membuat fokus keduanya kembali. Arya berinisiatif untuk melangkah lebih dulu mengambil obat obatan yang sudah dipesan oleh Alexa.


*


*


*


"Om, apakah jatuh cinta harus begini?. Aku tak tahu, sedalam apa cinta ini ada untukmu. Namun yang pasti, aku tidak bisa menyingkirkan apapun yang berhubungan denganmu." Alexa memilih memasukkan kembali ponselnya dalam kantong setelah dia mematikannya terlebih dahulu. Tak ada yang ingin dirinya hubungi kali ini, tidak juga dengan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2