
Kondisi fisik Alexa semakin membaik. Dokter ortopedi yang selama ini dipercaya untuk menanganinya pun berkata demikian. Bahu Alexa tak lagi merasa nyeri yang tiba-tiba dan juga bengkak sedikit memerah bercampur biru keunguan yang timbul karena sakitnya itu tak lagi sering dirasakannya.
Hanya tinggal fokus ke pengobatan di pergelangan kakinya agar Alexa bisa berjalan normal kembali. lengannya pun sudah bisa beraktifitas bebas tanpa takut akan terasa sakit dan ngilu. Gadis dengan dua lesung yang menghiasi pipinya tersebut tersenyum sumringah ketika keluar dari ruang dokter.
Williams yang tadi hanya mengantarkannya saja juga baru keluar dari ruangan dokter Irwan. Dokter ahli jantung yang memang sudah beberapa waktu lalu sempat membuat janji temu meski baru kali ini benar-benar bisa terlaksana.
Berbeda dengan Alexa yang sedang bahagia karena cideranya berangsur pulih. Nampak ketegangan di wajah Williams. Dokter Irwan sempat mengatakan padanya bahwa gejala yang timbul pada diri Williams tersebut tak memiliki obat yang ampuh selain yang memberi sakit. Debar di jantung Williams tak berbahaya namun juga bisa membuatnya tak berdaya. Dokter Irwan bahkan mengatakan jika dirinya atau dokter manapun tak mampu untuk membantu Williams dalam hal ini.
Seperah itukah aku? gumam Williams sambil mengusap wajahnya kasar.
"Om." Panggil Alexa untuk ke 3 kalinya karena sedari tadi Williams hanya menatap kosong.
"Ya. Kamu sudah selesai? bagaimana hasilnya?"
Alexa bergelanyut manja di lengan Williams, gadis itu tersenyum manis namun membuat hati Williams yang sedang kalut perlahan membaik. Rasa penasaran dan juga khawatir yang dirasakan akan penyakitnya seolah hilang ketika melihat senyum itu.
__ADS_1
"Hanya tinggal kakinya, om. Kata dokter semua sudah membaik. Kalau tulang yang bergeser di pergelangan kaki ini sudah sembuh, kemungkinan aku bisa kembali berjalan dengan normal."
"Berarti terapi tetap berlanjut?" Will bertanya yang mendapat anggukan kepala dari Alexa sebagai jawaban.
Keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan Williams. Semua mata menatap mereka dengan berbagai ekpresi yang berbeda. Williams yang selama ini dikenal ramah namun tak pernah dekat dengan lawan jenis diluar pekerjaannya nampak berbeda kali ini. Bahkan beberapa suster yang tertarik padanya menatap kesal kehadiran Alexa yang beberapa bulan sering ikut ke rumah sakit. Dan itu membuat mereka tak bisa lagi mendekati Williams.
"Om, aku mau ke kantin boleh?"
"Bukankah sudah sarapan? mau apa lagi?" Williams mengernyitkan dahi menatap Alexa yang memamerkan deretan giginya.
Williams menghela nafas kemudian menarik intercom yang ada diatas mejanya. Menghubungi Dini dan tak butuh waktu lama wanita tinggi semampai tersebut telah berdiri di depan meja kerjanya. Sementara Alexa beringsut menuju sofa dengan bibir mengerucut sebal. Will tak menjawab apapun itu artinya dirinya tak boleh keluar ruangan, dan itu membuatnya kesal.
Hingga suara Dini yang ternyata sudah berdiri disampingnya mengagetkannya. Gadis tersebut mendongak bingung hingga membuat Dini tersenyum kecil melihat tingkahnya.
"Huuuft pantas saja, dokter begitu menyayanginya. Dia nampak manis dan lucu meski sedang ngambek." Gumam Dini dalam hatinya.
__ADS_1
Meski tak ada pernyataan apapun yang keluar dari bibir Williams namun Dini bisa melihat semuanya dari tatapan Williams yang berbeda pada Alexa.
"Ayo!! katanya mau cari camilan." Dini mengulang kata kayanya membuat Alexa kembali mengernyapkan matanya sejurus kemudian gadis manis dengan rambut blonde tersebut menoleh ke arah Williams yang sudah sibuk dengan berkasnya.
Tanpa diduga Alexa berdiri dan berjalan cepat ke arah Williams dan memeluknya erat. Williams yang tak siap hanya bisa melongo menerima pelukan Alexa dengan posisinya yang masih terduduk di kursi kerjanya.
"Heheh, maaf om. Lexa terlalu senang ternyata om nggak jahat." Pernyataan Alexa membuat Will menatapnya tajam.
Alexa gelagapan dan menjadi salah tingkah. Di kecupnya pipi Williams cepat sebelum melangkah menjauh dan keluar dari ruangan Williams secara terburu-buru. Membuat Williams mengeram.
"Lexa jangan terlalu cepat jalannya." Pekiknya sedikit keras agar gadis nakal itu bisa mendengarkan kata katanya. Dini yang masih terbengong ditempatnya kemudian berlalu pergi menyusul Alexa yang sudah menghilang di balik pintu. Wanita itu mengulum senyum dan bersorak mengingat apa yang baru saja dilihatnya. Bagaimana wajah Williams yang merona dengan Alexa yang salah tingkah.
"Ah, rasanya aku ingin kembali ke masa masa pacaran dulu." Gumamnya pelan.
"Kakak bicara apa?" Alexa yang tiba-tiba muncul membuat Dini kembali tersenyum dan menggeleng. Di gantengnya tangan Alexa untuk segera melangkah menjauh dari ruangan Williams menuju kantin.
__ADS_1