
Dalam pesawat tempur.
Sesaat sebelum pesawat mendarat di sebuah hutan yang terdapat di sebuah pulau kecil. Arya yang merasakan ingin buang air melangkah mencari keberadaan toilet. Dengan cepat dirinya berjalan menuju arah ekor pesawat.
Arya kembali berjalan menuju ke tempatnya tadi duduk bersama dengan Alexa dan beberapa dokter dan relawan lain yang ikut dalam penerbangan tersebut. Namun langkah dokter muda tersebut terhenti kala tatapan matanya tertuju pada sosok yang selama ini menjadi inspirasi buatnya.
Cerita hidup dan perjuangannya membuat Arya ingin menjadi sepertinya. Bahkan, Arya banyak meniru jejak sang idola demi bisa mewujudkan mimpinya.
Arya berjalan mendekat, rasanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Sosok itu benar-benar nampak dihadapannya dan sedang tersenyum. Meski ragu namun Arya tetap memberanikan diri mendekat.
"Dok.. dokter Jhon Williams." Sapanya tergagap dengan bibir sedikit bergetar gugup.
"Kamu mengenalku?" Will tentu terkejut, bagaimana tidak, pemuda dengan jas khas dokter meski warnanya sudah kotor campuran debu dan darah tersebut adalah pemuda yang sama yang dilihatnya sedang memeluk Alexa sore tadi.
"Ten.. tentu. Anda adalah idola saya, saya banyak membaca tentang." Williams mengernyit bingung begitu pula dengan Jeffry yang juga berada disana.
"Maksudmu? maaf, aku nggak tak mengerti maksudmu."
Will meminta Arya untuk duduk di bangku yang ada didepannya. Bersebelahan dengan Jeffry. Meski gugup Arya tak ingin kehilangan kesempatan yang mungkin tak akan pernah didapatkannya lagi dilain waktu.
__ADS_1
"Maaf, saya membaca semua artikel tentang dokter. Mulai dari kisah hidup dan perjalanan karier dokter hingga menuai sukses dan menyandang nama besar seperti sekarang. Bahkan di negara saya, nama dokter menjadi tranding dikalangan mahasiswa kedokteran, mereka sama dengan saya. Kagum dengan kisah anda dok."
"Panggil aku Will, ok. Setidaknya jika kita sedang berada di luar begini. Maksudku kau boleh memanggilku dengan nama langsung karena kita tak lagi berada dirumah sakit."
Williams menatap Arya lekat, ada banyak tanya dalam benaknya tentang hubungan pemuda dihadapannya kini dengan gadisnya. Gadisnya? Will menghela nafas dalam, tak yakin jika dirinya masih bisa menyebut Alexa sebagai gadisnya.
"Aku bukan orang hebat jadi tak perlu menyanjungku sedemikian rupa. Siapa namamu?"
"Arya, nama saya Arya."
Williams tersenyum, melihat Arya yang demikian gugupnya membuatnya Jeffry yang duduk disebelahnya tergelak pelan. Di tepuknya pelan pundak Arya untuk menenangkan dokter muda yang tak pernah melepas tatapannya dari wajah Williams.
"Sudah dua bulan dok."
"Kamu tak takut berada di daerah rawan begini? bagaimana jika sampai kamu menjadi korban seperti yang lainnya?" Jeffry ikutan bertanya
"Aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Aku ingin menjadi orang yang berguna untuk orang lain, seperti yang dokter ucapkan dulu di sebuah artikel yang pernah aku baca. Karena itulah aku mengikuti jejak dokter."
Williams membulatkan matanya dengan sempurna, cita cita dimasa kecil yang pernah diucapkannya didepan pusara kedua orang tuanya itu hanya untuk menguatkan hatinya dan memacu semangat untuk dirinya sendiri agar mampu bangkit dari keterpurukan yang dialaminya kala itu. Dirinya tak menyangka jika kata kata motivasi yang dia ucapkan untuk dirinya sendiri tersebut berpengaruh juga pada orang lain. Bukan hanya Arya namun Alexa pun pernah mengutarakan hal yang sama.
__ADS_1
"Em, Arya boleh aku bertanya sesuatu? mengingat kamu sudah cukup lama berada dicamp, mungkin kamu bisa membantuku?"
"Tentu dok, katakan saja."
Will merogoh ponselnya, di bukanya galeri ponsel dengan foto Alexa berada disana. Senyum terukir dibibir tipis Will membuat Jeffry memicing curiga.
"Aku mencari gadis ini, dia juga menjadi relawan sama seperti mu." Pancing Will meski sebenarnya dirinya sangat tahu jika Arya dan Alexa selalu bersama.
"Alexa." Gumam Arya saat menerima ponsel Williams.
"Kamu mengenalnya? kalian pernah bertemu?dimana dia sekarang?" Jeff menggaruk pelipisnya pelan, pemuda itu ingin tertawa namun dirinya tak mau sandiwara yang tengah dimainkan oleh Williams berakhir gagal.
*
*
*
"Rasa cinta dan cemburu terkadang membuat orang pintar menjadi bodoh." Gumamnya dalam hati sambil melirik ke arah Williams.
__ADS_1