I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 133


__ADS_3

Akmal membawa sang adik ke sebuah taman yang tak jauh dari kediaman mereka. Hanya ingin mencari tempat yang nyaman untuk sekedar berbicara berdua dengannya.


Alexa yang hanya mengekor dibelakang sang kakak tak banyak bertanya melihat wajah Akmal yang nampak serius pagi ini. Kebetulan hari ini Akmal mendapatkan bagian shif malam di klinik tempatnya bekerja. Sedangkan Monica sudah berangkat tadi pagi pagi sekali karena sedang ada reservasi di restoran JW tempatnya bekerja.


"Ada apa kak?" Alexa lebih dulu bertanya karena rasa penasarannya yang tak bisa dibendung lagi. Dirinya sangat hafal sifat ke dua kakaknya itu. Mereka akan banyak diam jika sedang berhadapan dengan sesuatu yang mereka anggap masalah.


Keduanya nampak duduk di sebuah bangku panjang yang berada dibawah pohon Akasia. Taman pagi itu terlihat sedikit lengang, makhlumlah karena ini bukan hari libur. Hanya ada beberapa titik yang nampak berpenghuni, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang melakukan olahraga rutin.


Akmal menarik nafasnya panjang sebelum mulai berbicara. Diliriknya sang adik dengan ujung matanya, gadis itu nampak menatapnya lekat dengan sorot mata penuh tanya.


*


*


*


Alexa lebih banyak merenung setelah pembicaraannya bersama sang kakak pagi tadi. Suara dering ponsel membuatnya terperanjat kaget. Dia yang memang sedang tak fokus tentu saja langsung mengusap pelan dadanya. Senyum simpul terukir di bibir tipisnya kala melihat siapa yang menghubunginya.


"Sayang, sudah bangun?" Alexa mengerucutkan bibirnya. Will sedang menyindirnya atau gimana?

__ADS_1


Matanya sedikit memicing menatap jam yang tergantung diruangannya. Ruangan sang kakak sulung lebih tepatnya.


Semenjak pulang dari Rusia waktu itu, Alisya hanya sesekali datang ke klinik tempat Akmal praktek. Gadis itu lebih sering menghabiskan waktunya direstoran sang kakak. Selain membantu Akshan yang memang sedang mengurus perusahaan keluarga Cindi kali ini, entah mengapa Alisya sepertinya mendapat kesenangan tersendiri berada di restoran. Apalagi dirinya banyak mendapatkan ilmu terutama ketika dirinya menjadi perusuh di dapur kala sang koki sedang beraksi.


"Aku bahkan sudah berada di restoran, Om. Om mau menyindir atau bagaimana?"


"Hahahah, tidak tidak. Tentu saja tidak sayangku, hanya saja aku bingung harus mengatakan apa. Selamat pagi tapi disini sudah lewat siang malahan." Williams tersenyum menampilkan wajah tampannya yang terlihat semakin tampan dihadapan Alisya kali ini.


Alisya selalu suka ketika menatap Will dengan jas kebesarannya sebagai dokter yang sedang dipakainya. Ada aura tersendiri baginya ketika menatap sosok tersebut.


"Sayang, ada hal yang ingin ku ceritakan padamu. Tapi janji ya, jangan marah atau apapun itu."


"Soal Clara." Will menjedah ucapannya dan menatap instens sang kekasih. Meski raut muka Alisya tak dapat berbohong namun gadis tersebut tetap bersikap tenang. Dirinya tak mau gegabah mengambil sikap.


"Dia kenapa?" tanyanya melihat Will yang hanya diam tak melanjutkan ucapannya. Lelaki tersebut melihat jelas perubahan rona wajah Alisya hingga ragu kemudian merayap dalam relung hatinya. Tak ingin gadisnya berpikir yang tidak tidak lagi padanya. Bagaimanapun, Clara termasuk bagian dari masa lalunya meski hanya sandiwara.


Will memilih bersuara demi menjaga kepercayaan sang kekasih. Dia tahu itu tak akan mudah namun Will yakin mereka berdua akan tetap baik baik saja selama komunikasi tetap terjaga.


"Dia datang dan menemuiku kemarin. Dia bilang sedang bermasalah dengan kekasihnya. Lelaki itu tak mau menikahinya, lebih parahnya dia telah pergi meninggalkan Clara sendirian dalam keadaan hamil besar."

__ADS_1


"Lalu?"


"Dia memintaku untuk membantunya setidaknya sampai dirinya melahirkan. Keluarganya pun tak tahu mengenai kehamilannya tersebut."


"Membantu yang bagaimana?" Alisya tentu bertanya demikian.


"Dia meminta tinggal dirumahku sementara waktu. Tapi aku tak mengijinkannya, bagiku rumah itu hanya berhak dimasuki oleh orang-orang yang memang berarti dalam hidupku. Jadi aku membawanya ke panti dan meminta Albert untuk menanganinya. Selebihnya aku tak tahu, semua ku serahkan pada Albert dan Doni."


"Sayang, apa tindakanku salah? apa kamu marah? Aku hanya kasihan pada anak yang dikandungnya, sayang. Itu saja tak lebih." Will nampak sedikit panik meski dirinya tahu akan begini akhirnya, namun lelaki tersebut memilih untuk jujur dan memberitahukan semuanya pada Alisya sendiri. Akan lebih fatal akibatnya jika gadisnya tersebut mengetahui dari orang lain dan Will tak akan membiarkan itu terjadi.


Diamnya Alisya membuat hati Will ketar ketir. Dokter tampan tersebut nampak sangat frustasi dengan tatapan senduh dan lembutnya yang masih menatap pada layar ponsel yang terus menyala meski keduanya kini terdiam dan tenggelam pada pikiran masing-masing.


*


*


*


"Aku akan pulang!!"

__ADS_1


__ADS_2