
Akmal yang sibuk dengan urusan skripsinya sejenak melupakan tentang adiknya. Pencarian Alisya pun diberhentikan sementara waktu. Kondisi yang tak memungkinkan membuat Akshan mengambil keputusan itu dengan terpaksa.
Tuan Alisky yang sering jatuh sakit membuat mereka mau tak mau mengesampingkan Alisya dan memilih fokus pada masalah keluarga. Deandra yang sudah mulai menerima kenyataan tentang kepergian sang putri pun kini sudah bisa bersikap normal seperti sedia kala.
Meski orang lain tak melihat perubahan besar yang terjadi pada keluarga tersebut. Namun sangat jelas rasanya bagi seluruh anggota keluarga yang tak lagi merasakan hangatnya kebersamaan seperti dulu. Meski senyuman dan canda tawa masih terlontar sesekali. namun rasanya sudah semakin hambar.
"Kak." Akmal yang baru saja menyelesaikan sidang skripsinya masuk ke ruang kerja kakaknya. Keduanya kini berada di restoran utama milik sang ayah. Hanya tinggal 3 restoran saja saat ini. Karena dengan terpaksa Akshan harus menjual 1 restoran miliknya sendiri guna membiayai pencarian sang adik. Meski hingga kini mereka belum berhasil mendapatkan petunjuk yang memuaskan.
"Kamu kenapa? bagaimana sidangmu?"
__ADS_1
"Sudah selesai dengan baik." Akmal menjawab sambil mendudukkan dirinya di kursi dalam ruangan sang kakak.
"Bagus kalau begitu. Setelah ini apa rencanamu?"
Akmal mengusap wajahnya kasar. Pemuda itu datang ke kantor kali ini bukan untuk membicarakan masalah kuliahnya. Ataupun membahas rencananya kemudian hari, karena sampai sekarang pun dirinya belum mempunyai rencana itu.
"Aku belum tahu, kak. Tapi aku kesini bukan untuk itu." Akmal segera merogoh ponselnya dan memberikan kepada sang kakak yang masih menatapnya penuh tanya.
Tatapan matanya yang berkabut kembali beralih pada Akmal yang mengangguk di hadapannya. Rasa haru menyeruak dalam dadanya hingga tak terasa buliran air mata menetes disudut matanya.
__ADS_1
"Kita jemput Alis pulang." Akshan bahkan segera bangkit dari duduknya. Dia sangat bersemangat kini. Tak sabar rasanya ingin bertemu sang adik untuk menuntaskan rindunya. Rindu pada kemanjaan dan juga kejahilan gadis itu.
"Kak, tidak untuk saat ini. Keadaan ayah dan juga biaya untuk melakukan itu tidaklah sedikit." Akshan terdiam. Apa yang dikatakan Akmal ada benarnya.
Kondisi keuangan keluarganya sangat kacau ditambah dengan keadaan sang ayah yang sakit sakitan membuat semuanya semakin berantakan.
"Kau benar. Baiklah kita akan menunggu waktu yang tepat, asal keberadaannya sudah kita ketahui. Itu sudah sangat baik, aku akan meminta temanku untuk memantaunya kalau begitu."
Akshan segera meraih ponselnya namun lagi lagi gerakannya dicegah oleh sang adik. Kembali dia mengernyitkan dahi dengan tatapan yang menyipit tak mengerti dengan ulah Akmal.
__ADS_1
"Jangan buang biaya, kak. Lagipula, Alis sedang tidak berada di Paris saat ini. Ada baiknya kakak baca semua pesannya dari awal hingga habis." Pemuda calon dokter tersebut berucap dengan tenang.
Reaksi yang diperlihatkan oleh sang kakak tak jauh beda dengan yang dilakukannya beberapa jam lalu. Sedang tegang menunggu sidang dirinya malah mendapat kejutan besar mengenai sang adik. Entah keberuntungan dari mana hingga akhirnya Monica menghubunginya dan memberikan kabar tentang Alexa yang dia ketahui sebagai Alisya, adiknya.