
Sebuah ledakan besar terjadi tak jauh dari camp 5. Bahkan hingga 2 hari lamanya pusat kota tersebut lumpuh dari segala aktifitas. Banyak orang yang mengecam kejadian tersebut.
Korban yang berjatuhan tak hanya para tentara tapi juga warga sipil yang memilih untuk tetap tinggal di tanah kelahiran mereka. Williams bergegas menuju bangsal rumah sakit yang kali ini nampak penuh orang.
Keadaan panik membuat mereka sedikit tak fokus. Namun demi misi kemanusiaan, para tim medis tetap melakukan tugasnya sesuai dengan kemampuan dan peralatan seadanya.
Williams yang sedang berjalan tergesa menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak cepat seolah menjadi pertanda sesuatu telah terjadi. Digelengkannya kepala pelan guna menghilangkan pikiran buruk yang tiba-tiba datang padanya. Namun semakin berusaha, rasa cemas itu semakin kuat menghantamnya.
"Ada apa denganku?" gumamnya pelan.
*
*
*
Alexa bergerak cepat mengambil tas yang berisi peralatan medisnya. Disebelahnya nampak Arya melakukan hal yang sama. Tak ada kata yang keluar dari bibir keduanya, mereka fokus pada pekerjaan mereka untuk menyelamatkan korban sebanyak mungkin.
__ADS_1
Mata Alexa membelalak sempurna kala menatap tubuh yang tergolek dengan darah yang nampak sudah mulai mengering.
"Dokter An." Pekiknya tak percaya.
Arya yang menoleh kearah Alexa pun tak kala terkejutnya. Dokter An terkenal rama dan juga baik. Tak jarang, wanita itu memberikan nasehat kepada keduanya.
"Beliau gugur tadi malam, dia tertembak ketika berupaya menyelamatkan nyawa seorang tentara yang masih hidup."
"Ar." Pekik Alexa sambil menangis dalam pelukan Arya.
"Kuat, xa. Ini resiko yang harus kita hadapi. Dokter An sudah tenang disana, dia pasti bahagia. Kendalikan dirimu, masih banyak yang membutuhkan kita."
Alexa mengangguk, menatap sekali lagi ke arah jenasah Dokter An. Sebelum kembali melanjutkan tugasnya.
Alexa menatap nanar langit yang nampak gelap. Bayangan kedua kakak dan adiknya datang menyapa. Alexa tentu sangat merindukan mereka. Bergelanyut manja dalam pelukan sang ayah dan membantu mama Dea seperti yang dia lakukan dulu kembali melintas dalam pikirannya.
"Akankah aku bisa kembali?" Gumamnya lirih.
__ADS_1
Kepergian Dokter An membuat Alexa tersadar dengan sepenuhnya. Jika keputusan yang diambil sebagai relawan tidak serta merta hanya demi kemanusiaan. Namun lebih dari itu semua, ada harga yang harus dibayar. Bahaya yang datang tak akan pernah pandang bulu.
Tak jauh dari tempat dimana Alexa berada. Will menatap gadis itu dalam diam. Dokter tampan tersebut berulang kali menarik nafas berat guna mengusir rasa gugup dalam hatinya. Waktu itu, setelah mengetahui bahwa ponsel Alexa kembali hidup, beberapa kali Will mencoba menghubunginya kembali. Tak menemukan hasil membuat Will kembali pasrah hingga tadi sore ketika hati nya tak tenang dan jantungnya tiba-tiba berdebar hebat. Will segera meraih ponselnya dan mencoba mengirim pesan kepada Oma Feli dan Edwin.
Saat cemas menunggu balasan yang tak kunjung datang itulah sebuah notif kembali masuk ke ponselnya. Nomer ponsel Alexa kembali hidup dan itu membuat Will sedikit bahagia. Namun hanya sekejap karena setelahnya terdengar sebuah pekikan yang sangat dia hafal suaranya.
Melihat gadis yang dicarinya berada tak jauh darinya membuat Will ingin segera berlari menggapainya. Namun langkahnya segera terhenti ketika melihat tubuh itu berada dalam pelukan seorang lelaki yang nampaknya juga merupakan seorang dokter dilihat dari pakaian yang dipakainya.
Will yang awalnya bahagia harus menelan semuanya kembali. Pria muda itu nampak sangat akrab dengan Alexa terbukti gadis itu mampu menangis dalam pelukannya.
*
*
*
"Apakah aku sudah terlambat?"
__ADS_1