I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 60


__ADS_3

Belanda.


Kesehatan tuan Alisky semakin menurun. Dia yang kehilangan semangatnya seringkali menolak kala dokter datang untuk memeriksa kesehatannya. Aksi protes yang dilakukan Alisya menjadi pukulan terberat setelah kepergian mendiang istri pertamanya.


Sudah hampir 1 tahun namun keberadaan Alisya tidak pernah diketahui hingga kini. Harapan yang masih tersisa pun seolah pupus begitu saja disaat kata maaf yang terlontar pertama kali ketika orang suruhannya menghubungi.


Kecewa dan kecewa lagi membuat hatinya kian teriris sedih. Penyesalan yang dirasakan mungkin tak akan berdampak karena hingga kini Alisya bahkan tak ingin menghubungi mereka.


Semarah itukah putrinya hingga mungkin tak ada kata maaf yang tersisa kepadanya?


Malam ini kembali lelaki baya tersebut menyelinap ke kamar sang putri hanya untuk melepaskan rindunya. Tubuhnya yang tak lagi sehat dipaksakan untuk berjalan meski tertatih demi bisa menggapai kamar itu.

__ADS_1


Bukan tak mengetahui apa yang dilakukan suaminya. Namun Deandra sengaja membiarkannya agar sang suami merasa tenang. Tuan Alisky akan menghabiskan waktunya hingga pagi menjelang dikamar putri sulungnya tersebut dan akan kembali ke kamar setelahnya untuk tidur.


Malam itu kembali air matanya menetes di wajah yang sudah dipenuhi kerutan meski masih terlihat samar. Berulang kali kata maaf terdengar lirih terucap dari bibirnya yang bergetar.


Akshan yang kebetulan baru pulang kerja menempelkan badannya dibalik dinding kamar sang adik. Hatinya ikut merasa pilu dengan apa yang dilakukan sang ayah. Tak ada yang patut disalahkan, hanya saja kurangnya cara berkomunikasi diantara mereka membuat anggota keluarga seolah berlomba untuk menunjukkan egonya masing-masing.


Di langkahkan kakinya pelan meninggalkan kamar Alisya. Membiarkan sang ayah menuntaskan segala sesak di dadanya.


Akshan membimbing sang adik untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Tak dilepaskannya pelukan menunggu Alin sedikit tenang. Sejak kepergian Alisya adik bungsunya tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengurung diri dalam kamar.


"Tidur?"

__ADS_1


Alina menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang kakak. Tangisnya memang sudah redah sejak 10 menit yang lalu. Namun gadis tersebut ingin merasakan lebih lama lagi dekapan sang kakak.


Keluarga yang awalnya harmonis dan hangat itu kini terasa sangat hambar. Semua sibuk dengan dirinya masing-masing. Alina bahkan sangat merasakan rasa kehilangan tersebut. Tak hanya Alisya yang menghilang tapi seluruh anggota keluarganya pun rasanya juga ikut tenggelam meski raga mereka nyata ada dan bisa saling menatap.


Pintu kamar yang tadinya telah ditutup oleh Akhsan tiba-tiba terbuka perlahan menampilkan sosok Akmal yang berjalan mendekat dan bergabung memeluk sang kakak dan Alina bersamaan. Pemuda itupun tak kuat melihat kehancuran keluarga yang sangat dibanggakan nya.


"Cukup malam ini kita menangis, kita harus bangkit dan mengembalikan kehangatan dan kasih sayang dirumah ini seperti dulu lagi. Kita bantu ayah dan mama untuk kembali bersemangat." Akshan mengusap air mata Alina yang kembali menetes dan juga menepuk pelan bahu Akmal.


Sebagai yang tertua tentu saja Akshan harus bisa menjadi semangat bagi kedua adiknya. Apapun yang terjadi nanti dirinya harap keluarganya akan kembali bangkit. Akmal keluar dari kamar setelah beberapa lama mereka saling bercerita. Terlihat tawa di wajah Alina meski hanya sebentar namun itu sudah cukup melegakan kedua kakak lelakinya. Baik Aksan maupun Akmal berusaha untuk menjaga mental Alina yang masih labil agar tak semakin terpuruk.


Akshan memilih tinggal dikamar sang adik bungsu sambil terus mengusap kepala Alina hingga gadis belia tersebut terlelap. Dikecup nya kening sang adik lembut sebelum akhirnya keluar dan menuju kamarnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2