
Kepulangan keluarga bahagia tersebut membuat Alexa kembali merasakan sepi. Hanya tinggal dirinya dan Williams dirumah tersebut membuatnya kembali canggung. Setelah makan malam yang lagi lagi Williams yang memasaknya sendiri, mereka menghabiskan waktu di ruang tengah.
Tak banyak yang mereka bicarakan, hanya seputar kemajuan kesehatan Alexa dan juga rencana mereka berangkat ke Paris lusa. Sore tadi sekitar jam 5 mereka sempat ke rumah sakit dan melakukan beberapa cek guna memastikan bahwa Alexa bisa bepergian dalam waktu dekat.
Janji temu dengan dokter ahli ortopedi sengaja Will ajukan karena tak ingin membuat Alexa terlalu lelah. Kegiatan hari ini bersama Cameli diyakininya membuat gadis tersebut capek dan memerlukan istirahat lebih awal, meski terlihat rona bahagia dalam wajah Alexa.
"Boleh aku bertanya sesuatu? tapi jika kau keberatan, kau boleh tak menjawabnya." Williams menutup laptopnya dan menaruh benda pipih tersebut diatas meja yang ada didepan mereka berdua.
Alexa duduk di sofa panjang menghadap ke arah televisi yang menyala. Sementara Williams berada disofa singel tak jauh darinya. Wajah Alexa bisa terlihat jelas dari arah Will duduk, sengaja duduk disana demi bisa menikmati wajah berseri gadis dengan rambut blonde tersebut.
Alexa menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti akan ucapan Williams. Membenahi posisi duduknya agar lebih tegak lagi dan mengambil bantal sofa untuk dia taruh di pangkuannya.
__ADS_1
Williams menarik nafasnya pelan. Sebenarnya dia tak ingin ikut campur terlalu jauh pada urusan orang lain termasuk Alexa. Namun perkataan Bram tadi sangat mengusik hatinya. Sebelum pulang Bram sempat berpesan padanya agar menyelidiki asal usul Alexa dengan lebih teliti agar tak ada kesalahpahaman dikemudian hari sebelum dirinya bertindak semakin jauh.
"Mengenai keluargamu, kau bisa menceritakannya padaku?"
"Apa itu penting, Om?"
"Tentu.Aku tak ingin ada kesalahpahaman dikemudian hari."
"Itu kan menurutmu, semua yang terjadi belum tentu seperti yang kau pikirkan Lexa. Bagaimanapun jauhnya rasa itu akan terus ada meski kita berusaha membohongi hati kita sendiri. Aku bahkan iri denganmu." Will tersenyum kecil sambil menyandarkan punggungnya.
Alexa tentu saja terkejut, gadis cantik dengan mata yang sudah memerah tersebut mendongak menatap Williams dalam seolah meminta penjelasan.
__ADS_1
"Aku kehilangan kedua orang tuaku disaat umurku baru menginjak 10 tahun. Mereka meninggalkanku sesaat setelah berjanji akan membawaku membeli mainan dan berkeliling kebun binatang setelah jam kerja mereka selesai. Namun semuanya tak pernah terwujud."
Williams menatap Alexa yang masih menatapnya.
"Aku masuk dalam keluarga lain yang untungnya mau menerimaku. Membentuk aku yang sekarang ini bisa kau lihat. Aku mengisi hariku dengan mimpi yang selalu ku jadikan tekatku sejak dulu, menjadi orang yang bisa membantu orang lain. Aku masih mengingat bagaimana para korban harus meregang nyawa termasuk ke dua orang tuaku karena kurangnya tenaga medis kala itu. Aku menjadikan itu sebagai cita citaku, memendam cita cita lamaku yang ingin menjadi seorang pilot." Williams kembali menjeda ucapannya.
Tak dapat dipungkiri olehnya, kilas masa lalunya masih menyisahkan perih dalam hati dan ingatannya meski sudah berlalu puluhan tahun lamanya.
"Kau harus bersyukur karena masih memiliki mereka yang bisa kau sebut keluarga utuh. Jangan sia siakan waktumu untuk membenci, percayalah mereka juga menyayangimu."
Alexa menundukkan wajahnya dalam. Bahunya berguncang pertanda gadis tersebut sedang menangis. Tak ada lagi percakapan, keduanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1