I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 122


__ADS_3

Kesehatan Oma Feli memang sudah membaik. Namun wanita tua yang masih terlihat cantik meski kerutan diwajahnya menandakan bahwa umurnya telah lanjut itu masih nampak murung.


Belum adanya kabar dari Williams membuatnya tak tenang. Berulang kali Oma menghela nafas berat guna mengusir rasa cemas didadanya.


Bagaimanapun, kehadiran Williams dalam hidupnya dua puluh tahun lalu itu mengubah banyak hal dalam hidupnya. Rasa kesepian karena jauh dari anak dan cucunya membuat Oma mencurahkan segala bentuk kasih sayangnya pada Williams meski semua itu tak mengurangi kadar kasih sayangnya pada cucu cucu kandungnya.


Will menjadi obat dikala rasa sepi melanda nya. Sejak awal melihat Williams kala musibah yang menimpa keluarga anak itu, Oma sudah merasa tertarik dengan kepribadian Williams yang santun. Sorot matanya yang teduh membuat Oma semakin bertekat untuk merawatnya. Hingga saat itu juga Oma mengurus segala surat yang berkenaan dengan Williams.


"Oma makan dulu ya. Biar Ed suapin." Edwin duduk disamping brangkar yang Oma tempati.


"Kau sudah mendapatkan kabar tentangnya?"


"Nomer ponselnya belum bisa dihubungi Oma. Tapi Oma tidak perlu khawatir, Will akan segera menghubungi kita nanti."

__ADS_1


"Oma hanya takut, Ed. Oma takut tidak bisa menjaga amanah dan janji yang Oma ucapkan hari itu. Hari dimana Oma meminta Williams untuk tinggal bersama Oma dan dihari itu pula Oma mengucapkan janji di depan pusara kedua orang tua Williams untuk menjaga nya."


Edwin menggenggam jemari Oma Feli lembut. Terkadang hati Edwin berdesir mengetahui bagaimana Oma menyayangi Will lebih dari darinya dan dua sepupunya. Namun kembali pikiran warasnya berjalan dan sadar. Jika kasih sayang yang Williams berikan kepada Oma juga tak main main. Lelaki yang telah menjadi dokter ternama tersebut bahkan rela memberikan seluruh waktunya menjaga Oma kala itu. Dimana dirinya dan yang lainnya malah sibuk dengan segudang pekerjaan mereka.


"Will bail baik saja Oma. Dia akan segera kembali, percaya pada Ed ya Oma. Sekarang Oma makan dan minum obatnya." Edwin segera meraih semangkok bubur yang masih utuh diatas meja kecil tak jauh dari brangkar yang Oma tempati.


"Will pasti tak akan suka dan dia pasti akan bersedih jika tahu Oma telah menyiksa diri begini. Oma tak inginkan dia marah? jadi makan ya." Rayunya lagi hingga perlahan Oma Feli membuka mulutnya dan menelan bubur tersebut.


*


*


*

__ADS_1


Namun semua itu urung dilakukannya setelah menerima beberapa notifikasi pada ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab berasal dari Edwin, om Fer dan juga pelayan yang menjaga Oma membuatnya tak tenang.


Edwin dan Om Fer yang dihubunginya balik tak menjawab panggilannya sejak beberapa menit yang lalu membuat pikirannya tak tenang. Namun perasaan nya sedikit lega setelah berhasil menghubungi kediaman Oma dan mendapat kabar jika Oma sedang dalam perawatan di rumah sakit dan sudah mulai membaik menurut dokter.


Dengan terus menggandeng jemari Alexa. Will masuk kedalam taxi dan meminta sang sopir untuk segera melaju. Tangannya mulai berkeringat karena cemas dan itu dapat dirasakan pula oleh Alexa. Perlahan diusapnya lengan Williams yang wajahnya nampak tegang sedari tadi.


"Om yang tenang. Bukankah kita akan pulang, yakinlah jika Oma akan baik baik saja disana." Sebisa mungkin Alexa menenangkan Williams meski hatinya sendiri sedang tak baik baik saja saat ini.


Banyak hal yang menghantui pikiran Alexa. Tentang hubungannya dengan Williams setelah ini mengingat Will mempunyai kekasih. Tak adanya kejelasan dan pembicaraan yang terjadi antara mereka berdua karena keterbatasan waktu yang mereka miliki, membuat Alexa belum menemukan kesempatan untuk bertanya.


.


.

__ADS_1


"Om, aku harus bagaimana jika nanti kamu kembali ke sisinya? bolehkah aku egois untuk sekali ini saja? " Gumamnya pelan dalam diam.


__ADS_2