I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 162


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang telah direncanakan oleh kedua keluarga besar. Acara yang tadinya hanya mengikat keduanya dengan pertunangan sebelum pada akhirnya memutuskan kapan mereka melangsungkan pernikahannya berubah arah.


Mereka benar-benar di pertemukan dalam ikatan pernikahan pada bulan itu juga. Bahkan segala persiapan sudah mencapai 80 persen hanya tinggal menunggu hari H saja.


Will sempat melongo menyadari hal itu. Dokter tampan tersebut masih tak percaya dengan apa yang telah keluarga angkatnya lakukan. Persiapan yang biasanya memakan waktu lama bahkan terkadang harus menunggu berbulan-bulan lamanya hanya untuk memastikan gedung, EO atau perlengkapan lainnya kini semua hampir selesai dalam waktu kurang dari sepuluh hari.


Will seakan lupa siapa Oma Feli. Orang yang paling bahagia menyambut acaranya ini. Wanita tua tersebut bahkan terlihat segar bugar dan penuh semangat mengecek ini itu. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


Bram dan keluarganya benar-benar menepati janji mereka. Hingga saat ini pun, keluarga kecil yang selalu nampak ramai tersebut masih berdiam di kediaman Oma. Kadang kala, kedua bocah mengemaskan di jemput oleh Akshan dan Cindi hanya sekedar mereka ajak bermain.


Melihat kebahagiaan sang istri timbul rasa kasihan dalam diri Akshan. Keduanya memang telah menginginkan hadirnya seorang anak sebagai penyempurna keluarga mereka. Akan tetapi sepertinya Tuhan masih menginginkan mereka berdua untuk lebih bersabar lagi. Meski begitu, Akshan tak pernah membatasi ruang gerak istrinya agar wanita cantik yang telah mengikat hatinya tersebut tak semakin merasa terkekang.


Seperti saat ini, keduanya membawa ke dua bocah menggemaskan tersebut ke sebuah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari kediaman Oma.

__ADS_1


"Hai, Om ganteng." Sapa centil Cameli pada seorang pemuda yang berada tak jauh dari mereka.


Princess bahkan tak segan untuk datang dan mengobrol dengan pemuda yang Akshan pun bahkan tak mengenalnya. Dan anehnya, bocah cantik tersebut seperti telah akrab dengan pemuda yang hanya tersenyum kala tatapannya tak sengaja bertemu dengan Akshan.


Mereka memutuskan pulang ketika sudah lewat jam makan siang. Setelah makan, mereka pun akhirnya keluar dari pusat perbelanjaan. Dan didepan pintu keluar tersebut mereka kembali bertemu dengan pemuda tadi. Lagi lagi Cameli menyapa bahkan berpamitan padanya diikuti oleh sang adik yang tertawa sambil melambaikan tangan mungilnya.


"Princess kenal sama om tadi?" Tanya Cindi yang sudah sangat penasaran mengingat betapa akrabnya mereka tadi.


"Om ganteng kan teman papa kelja. Jadi kenal, ya kan dek?"


Prince yang sedang asyik dengan mainan barunya hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang kakak.


"Teman kerja?" Kedua orang dewasa yang sedang bersama mereka hanya saling memandang, mereka yang memang tak tahu kemudian memilih diam dan menganggap memang benar pemuda tadi kenal dengan keluarga Bram.

__ADS_1


Sementara Bram hanya tersenyum tipis kala membaca laporan anak buahnya yang masuk ke dalam ponselnya. Pria tampan tersebut memasukkan kembali benda pintarnya sebelum melangkah menuju dimana sang istri tengah berada kini.


Wanita cantik tersebut sedang membuat puding untuk ke dua buah hatinya. Meski sudah dilarang oleh Oma dan menyarankan agar para pelayan saja yang melakukannya. Namun Tiara lebih suka melakukanya sendiri.


"Hem, sepertinya enak nih."


"Mas mau? biar aku siapkan terlebih dahulu."


Dengan cekatan Tiara menyiapkan puding tersebut diatas sebuah piring kecil untuk suaminya.


"Anak anak kok belum pulang ya mas, sudah lewat jam makan siang ini." Bohong jika dirinya tak merasa cemas. Bagaimanapun tak ada Sinta atau Lena yang berada disisi ke dua anaknya seperti saat berada di Indonesia.


"Sebentar lagi juga mereka datang, sayang. Jangan khawatir, sini makanlah!" Bram menyuapi sang istri dengan pudingnya. Diusapnya lembut rambut wanita yang telah membuat hidupnya sempurna tersebut penuh sayang.

__ADS_1


__ADS_2