Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
100. Ungkapan rasa cinta


__ADS_3

"Bonekaku...." teriak mamah Indah sambil berjalan cepat menuju ke tempat tidur untuk mengambil boneka beruang warna pink yang dipeluk mesra Bram. Bram yang sedang tertidur nyenyak dan sedang bermimpi bermain dengan Nindya, berlanjut mimpinya ada orang yang merebut boneka beruang warna pink tersebut. Bram berusaha menarik boneka.


Terjadilah adegan tarik menarik boneka dua orang yang berada di dua alam yang berbeda, satu berada di alam nyata satunya berada di alam mimpi.


Ibu Murti bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar karena mendengar keributan mamah Indah. Saat di pintu dia melihat Bram yang masih tertidur dengan mata yang terpejam sambil menarik narik boneka. Bu Murti lalu mendekati Bram.


"Bram...Bram ..bangun" ucap Bu Murti sambil menepuk nepuk pantat Bram. Bram yang merasa tubuhnya ditepuk tepuk lalu membukakan matanya dan betapa kagetnya dia sebab di depan matanya nampak mamah Indah yang sudah berhasil merebut bonekanya.


"Kamu kenapa sih?" tanya ibu Murti pada Bram


"Bermimpi ada orang ehmmm mau merebut boneka Nindya, aku berusaha mempertahankan" jawab Bram yang sudah duduk di tepi tempat tidur


"Boneka Nindya apa? ini tuh bonekaku pemberian dari papah Mahendra waktu aku ulang tahun saat masih pacaran dulu" ucap mamah Indah dengan ketus lalu berjalan meninggalkan kamar menuju ruang tamu untuk menaruh boneka keramatnya.


"Kamu itu tidak tanya Nindya dulu, sudah ayo keluar" ucap Ibu Murti dengan lembut pada Bram sambil tersenyum tipis


"Baik Bu" jawab Bram sambil mengusap wajahnya dengan kasar, tidak menyangka akan terjadi hal seperti tadi.


Saat mereka keluar kamar nampak Nindya yang sudah selesai menyiapkan makan siang sudah duduk manis di ruang tamu di dekatnya duduk mamah Indah. Nampak wajah Nindya yang tersenyum menahan tawa.


Bram berjalan menuju ke tempat duduk dan selanjutnya duduk di tempat duduk di samping Nindya.


"Orang orang sudah tua berebut boneka" ucap Nindya dengan pelan sambil tersenyum


"Ya maaf aku kira bonekamu" ucap Bram sambil menatap mamah Indah. Nampak ibu Murti yang sudah duduk di situ juga menahan senyum.


"Aku aja ga boleh pegang makanya di taruh di rumah sini" ucap Nindya kemudian


"Kamu sengaja ya? kenapa tadi ga bilang" ucap Bram sambil menoleh ke arah Nindya dilihatnya Nindya tertawa lalu Bram mencubit gemas kedua pipi Nindya dan tidak dilepas lepas


"Mas... sakit.." teriak Nindya sambil memegang tangan Bram


"Brammmm" ucap Ibu Murti, Bram yang disebut namanya lalu melepaskan tangannya dari pipi Nindya.

__ADS_1


"Maafkan Bram, mbakyu.." ucap Ibu Murti sambil menatap mamah Indah yang wajahnya masih datar ekspresinya


"Iya, saya maafkan" ucap mamah Indah. Di saat bersamaan papah Mahendra dan bapak Bharata masuk ke dalam rumah yang tentu saja sudah membersihkan tubuhnya.


"Ada apa Mah?" tanya papah Mahendra saat melihat suasana beku di ruang tamu. Nindya lalu menceritakan semua kejadian tadi. Papah Mahendra tertawa lepas saat selesai mendengar cerita Nindya, nampak mamah Indah wajahnya merona malu.


"Mamahhhh itu kan hanya barang, andai boneka itu rusak atau hilang tapi percayalah cinta papah tidak akan hilang" ucap papah Mahendra sambil memeluk mamah Indah dari samping.


"Boneka itu kan hanya sebagai media untuk memgungkapkan cinta Papah pada saat itu. Mengungkapkan rasa cinta kan bisa dengan banyak cara. Ha...ha...dan cinta papah sudah berkembang jadi Alvin, Tedy dan Nindya" ucap papah Mahendra selanjutnya sambil tertawa


"Iya Bu Mahendra dan sebentar lagi semakin berkembang dengan hadirnya cucu cucu kita" ucap bapak Bharata menimpali ucapan papah Mahendra. Nampak wajah mamah Indah berubah berseri seri mendengar kata cucu.


"Iya Pah.. Aku ingin segera punya cucu, nanti bonekanya buat cucu kita" ucap mamah Indah sambil menatap papah Mahendra, papah Mahendra yang ditatap hanya diam saja


"Iya sabar" ucap papah Mahendra selanjutnya.


"Ini juga sebagai caraku mengungkapkan rasa cinta Nin" ucap Bram sambil kembali mencubit gemas kedua pipi Nindya


"Mas Brammmm" teriak Nindya sambil berusaha melepaskan tangan Bram dari pipinya.


Nampak mereka semua tertawa, terlihat suasana kembali cair lalu mereka pindah ke ruang makan untuk santap siang. Setelah selesai acara makan siang, mamah Indah, ibu Murti dan Nindya membereskan meja makan. Sedangkan Bram, papah Mahendra dan bapak Bharata pindah duduk di ruang tamu lagi.


"Pak kita bicarakan yang tadi sambil menunggu mereka memberesi meja makan" ucap Bram saat sudah duduk di dekat bapak Bharata


"Bicara apa? jangan bahas masalah cucu lagi.. Aku tetap pada keputusan kemarin" ucap papah Mahendra baper


"Tidak Om, ini masalah bisnis" jawab Bram.


"Ooo " gumam papah Mahendra


"Ya ditunggu dulu email resmi besuk dan kamu pelajari isinya. Bila memang harus ke Jakarta kamu hubungi Prabu, kamu datang dengan Prabu" ucap Bapak Bharata


"Baik Pak" jawab Bram dengan serius dan sopan.

__ADS_1


"Bram mau ke Jakarta?" tanya papah Mahendra


"Iya Om, tidak lama hanya menemui partner bisnis" jawab Bram.


"Kamu bisa mampir ke tempat Tedy, syukur syukur bisa kamu ajak ajak biar belajar bisnis" ucap papah Mahendra. Namun sesaat kemudian perempuan perempuan yang memberesi meja makan sudah selesai dan ikut duduk bergabung dengan mereka.


"Papah itu gimana Tedy kan kuliahnya di seni kok disuruh bisnis, bisa kacau nanti" ucap mamah Indah karena mendengar percakapan ketiga laki laki tersebut.


"Siapa tahu Mah, ya tidak apa apa seniman berbisnis" ucap papah Mahendra


"Iya Om, saya juga senang bila bisa mampir dan mengajak kakak ipar" ucap Bram


"Ya sudah kalau sudah selesai ayo kita kembali pulang" ajak papah Mahendra


"Iya Pak tapi tidak perlu tergesa gesa, kami sudah melakukan penjadwalan ulang tiket, sudah saya ganti penerbangan terakhir" ucap Bapak Bharata.


"Nin buatin kopi donk" pinta Bram sambil menatap wajah Nindya. Nindya dengan cepat menuju ke belakang untuk membuatkan kopi Bram karena tidak ingin kejadian tadi pagi terulang kembali. Bram lalu ikut bangkit berdiri mengikuti Nindya.


"Kok nginthil (mengikuti) kamu Bram?" tanya bapak Bharata


"Ungkapan rasa cinta Pak, aku akan selalu menemaninya" jawab Bram sambil terkekeh dan berlalu menyusul Nindya. Bapak Bharata hanya geleng geleng kepala.


Mereka semua akhirnya kembali pulang dan rumah orang tua mamah Indah kembali dijaga oleh mbah Girah dan Tole.


Perjalanan pulang berjalan dengan lancar dan aman. Mereka langsung menuju ke rumah keluarga Mahendra karena Nindya juga ikut kembali ke Yogyakarta karena keesokan harinya ada jadwal kuliah. Setelah Nindya selesai persiapan pulangnya, mereka semua kembali ke hotel.


Papah Mahendra dan mamah Indah mengantar sampai ke bandara, semua oleh oleh yang tahan lama dikirim lewat paket agar tidak merepotkan mereka.


"Pak kali ini boleh ya duduk sampingan dengan Nindya" pinta Bram saat masuk ke ruang cek in.


"Bukannya dari tadi sudah berduaan terus" ucap Bapak Bharata


"Iya sih tapi kurang he..he.." ucap Bram sambil berjalan di dekat bapak Bharata. Sedangkan Nindya berjalan di samping Ibu Murti.

__ADS_1


"Pak.." ucap Bram


"Pak..." ucap Bram lagi


__ADS_2