
Sesampai di gedung Bharata Group Bram dan Tedy langsung menuju ke lantai tiga tempat Bram tinggal.
“Bro pijitin aku.” Perintah Bram pada Tedy dia teringat akan taruhannya.
“Kamu masih ingat saja jika kita sedang berdua.” Ucap Tedy yang mau tak mau memjiti punggung Bram. Sementara Bram duduk di sofa panjang dan tangannya sibuk dengan hapenya.
Setelah Tedy mengirim video rekamannya Bram memutar ulang dan selanjutnya mengirim video itu pada Arum dan bapak Bharata.
“Aku tidak habis pikir kenapa Johan tega melalukan hal itu.”ucap Tedy sambil tangannya memijiti punggung Bram.
“Entahlah bisnis orang tuanya eksport batik mungkin kolaps. Terus bermain licik. Kalau Devina sejak aku lihat dia mengaet suami orang aku paham bagaimana sifatnya tapi heranku kenapa tega dengan suami teman sendiri.” Ucap Bram
“Iya orang tidak punya otak dan hati. Sudah dikuasai iblis seluruh tubuhnya.” Ucap Tedy
“Iya Bro, sudah menjadi setan dan iblis manusia manusia manusia laknat itu. Setan dan iblisnya pensiun karena tugasnya sudah diambil alih oleh manusia manusia laknat.” Ucap Bram sambil melorotkan tubuhnya sambil menggeser pantatnya Tedy agar duduk di tepi sofa. Sekarang posisi Bram tidur tengkurap dan tangan Tedy masih disuruh memijit punggungnya dan akhirnya di seluruh tubuhnya.
“Apa setannya pensiun terus santai santai dipijit apa ya.” Gumam Tedy sambil memijit kaki Bram.
“Sialan..” ucap Bram lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.
“Ha... ha... “ Tedy tertawa senang karena sudah tidak memijit Bram lagi. Lalu dia ikut berjalan menuju ke kamar.
“Kakak ipar tidur di kamar Erlangga.” Ucap Bram sambil menoleh ke arah Tedy.
Sementara itu di rumah keluarga Bharata. Setelah bapak Bharata mendapat kiriman video dari Bram. Beliau dan ibu Murti lalu bersiap diri untuk pergi ke rumah Arum. Beliau kuatir dengan keadaan putrinya setelah mengetahui kelakuan suaminya.
Tok... Tok... Tok... Bapak Bharata mengetuk ngetuk pintu kamar Nindya. Dan tidak lama kemudian pintu kamar Nindya terbuka.
“Nin, Andaru sudah tidur?” tanya bapak Bharata
“Baru saja tidur Pak, tadi agak rewel.” Jawab Nindya dengan suara pelan agar tidak mengganggu tidur anaknya.
“Kenapa rewel, tumben?” tanya ibu Murti yang sekarang sudah berdiri di dekat bapak Bharata.
__ADS_1
“Tadi Arum menelpon katanya Johan mau menemui Mas Bram. Arum bertanya mau nitip apa ke mas Bram. Andru mendengar maka dia mau ikut Johan pengen ketemu ayah.” Jawab Nindya
“Terus kamu nitip apa?” tanya bapak Bharata
“Tidak nitip apa apa Pak, mas Bram tadi habis menelpon saya tidak bilang apa apa.” Jawab Nindya.
“Syukurlah... Johan hanya menipu Arum.” Ucap Bapak Bharata
“Sekarang aku dan ibumu mau ke rumah Arum. Kamu hati hati di rumah.” Ucap Bapak Bharata selanjutnya.
“Ibu dan bapak mungkin akan tidur di rumah Arum untuk sementara waktu Nin.” Ucap Ibu Murti
Tidak lama kemudian Mak datang dengan travel bag di tangannya.
“Ini Bu, sudah siap.” Ucap Mak tangannya masih menenteng travel bag.
“Baiklah, ayo Pak kita segera berangkat.” Ucap Ibu Murti.
“Bapak nyetir sendiri?” tanya Nindya sambil ikut berjalan mengantar mertuanya menuju pintu rumah.
“Hati hati ya Pak, Bu.” Ucap Nindya dan Mak bersamaan.
“Iya, sudah kamu balik kamar saja, nanti kalau Andru terbangun rewel lagi.” Ucap Ibu Murti saat mereka semua sudah di depan pintu.
Nindya lalu berjalan menuju ke kamarnya. Sedangkan Mak masih menunggu hingga mobil bapak Bharata keluar dari halaman rumah. Selanjutnya Mak menutup pintu rumah dan masuk ke dalam rumah.
“Mak, ada apa ya kok bapak dan ibu ke rumah Arum dan tadi katanya Johan menipu Arum?” tanya Nindya yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Saya juga tidak tahu mbak, tadi Ibu hanya nyuruh menyiapkan perlengkapan pribadi bapak dan ibu mau nginap di rumah mbak Arum.” Jawab Mak yang berdiri di depan Nindya dia mau berjalan menuju ke kamarnya.
“Mak ...” ucap Nindya saat Mak sudah mulai melangkah
“Ya mbak.” Jawab Mak sambil menoleh.
__ADS_1
“Mak tidur di kamar saya ya..” ucap Nindya
“Kita kan cuma bertiga dengan Andru di rumah yang besar ini.” Pinta Nindya yang sedikit takut sebab biasanya banyak orang sekarang hanya dirinya dengan anaknya dan Mak. Apalagi kamar Mak lokasinya jauh dari kamarnya. Meskipun ada bapak petugas malam tapi keberadaannya juga jauh di luar di pintu gerbang.
“Iya mbak, saya tidur di sofa tidak apa apa.” Jawab Mak lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar yang sama.
Sementara itu mobil bapak Bharata sudah memasuki kawasan perumahan elite. Pintu pagar otomatis terbuka lalu bapak Bharata menjalankan mobilnya memasuki halaman rumah Arum. Setelah memarkirkan mobilnya bapak Bharata dan ibu Murti turun dari mobil dan berjalan menuju ke pintu rumah Arum. Tidak lama kemudian pintu rumah terbuka dan tampak sosok asisten rumah tangga di balik pintu.
Bapak Bharata dan ibu Murti masuk ke dalam. Tampak foto foto pernikahan yang biasanya terpampang di dinding sekarang berantakan di lantai. Terlihat asisten rumah tangga setelah menutup pintu dia jongkok memberesi kaca kaca yang berserakan.
Bapak Bharata dan ibu Murti berjalan menuju ke kamar Arum. Ibu Murti pelan pelan memutar handel pintu. Ternyata tidak terkunci. Terdengar suara isak tangis Arum. Ibu Murti dan bapak Bharata berjalan masuk ke dalam kamar Arum.
Pemandangan yang sama dengan ruang tamu terlihat juga di kamar Arum. Asisten pribadi Arum terlihat sedang berjongkok memberesi kaca kaca pigura yang berserakan. Sedangkan Arum berada di tempat tidur dengan posisi meringkuk dan menangis.
Ibu Murti dan bapak Bharata lalu mendekati Arum.
“Sabar nduk.” Ucap Ibu Murti sambil memeluk Arum. Arum yang mendengar suara Ibunya lalu dia memeluk tubuh ibu Murti sambil menangis dengan suara lebih keras.
Bapak Bharata yang juga duduk di tempat tidur Arum ikut mengusap usap kepala Arum.
“Pak, aku mau cerai saja.” Ucap Arum disela sela tangisnya sambil menatap bapak Bharata.
“Iya...” ucap Bapak Bharata sambil masih mengusap usap kepala Arum.
“Apa sudah kamu pikirkan masak masak jangan mengambil keputusan di saat sedang emosi.” Ucap Bapak Bharata kemudian. Arum tidak menjawab namun tangisnya kembali pecah dan lebih keras dari yang tadi.
“Aku tidak kuat Ibu.....” ucap Arum sambil menangis
“Iya.. Iya ibu mengerti, sabar ya... Kalau kamu mau cerai ya cerai besuk kalau suasana hatimu sudah tenang baru kita urus.” Ucap ibu Murti sambil mengusap usap pundak Arum.
“Bersyukur kelakuan Johan ketahuan sekarang sebelum kamu punya anak dari dia.” Ucap Ibu Murti lagi. Tampak Arum menganggukkan kepalanya.
“Kamu bulan ini sudah dapat haid kan?” tanya ibu Murti yang sekarang malah kuatir kalau Arum hamil, padahal sebelumnya selalu mengharapkan Arum hamil.
__ADS_1
Tampak Arum kembali menganggukkan kepalanya
“Syukurlah kalau kamu belum hamil, aku tidak punya cucu dari benihnya pengkhianat laknat.” Ucap Bapak Bharata terlihat geram kalau mengingat pengkhianatan Johan.