Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
55 Mengantar Avanti


__ADS_3

Pagi hari nya meskipun di hari Minggu, Bram dan Leon sudah bangun pagi pagi dan mereka berdua duduk di ruang depan dengan lap top di depannya. Ya mereka berusaha menyelesaikan laporan karena besuk ada kunjungan dari dosen pendamping KKN. Sedang yang lain masih sibuk dengan mimpinya.


"Gimana Le, laporan mu?" tanya Bram pada Leon sejenak Bram beristirahat dari pandangan matanya pada layar demi kesehatan mata.


"Aku usahakan, besuk saat kunjungan dosen sudah siap" jawab Leon dengan mata fokus di lap topnya


"Usahakan nanti malam selesai, punya Kanza juga sudah selesai tinggal edit, katanya" ucap Bram


"Punyamu sendiri gimana?" tanya Leon


"Sudah nyaris selesai tinggal kesimpulan" jawab Bram lalu kembali fokus pada lap top nya.


Namun tidak berapa lama Avanti muncul dari balik tirai yang menjuntai


"Maaf" ucap Avanti saat mendekat pada kursi ruang depan. Spontan Leon dan Bram menoleh pada sumber suara


"Ada apa?" tanya Bram


"Maaf apa bisa mas mengantar saya ke pasar, bapak masuk angin, saya dan ibu tidak bisa mengendarai motor" ucap Avanti dengan hati hati.


Bram dan Leon saling pandang.


"Kamu Bram kan laporanmu sudah mau selesai" ucap Leon pada Bram. Bram hanya diam saja, sejenak dia berpikir, mau membangunkan teman yang lain, tetapi kok merasa tidak enak dengan keluarga pak Dukuh.


"Ya sudah ayo" ucap Bram lalu menutup lap top nya.


Tidak berapa lama mereka berdua sudah berada di halaman rumah untuk mengambil motor Bram. Avanti sudah siap dengan tas belanjaannya.


"Maaf Mas, harus ke pasar karena di warung ga ada" ucap Avanti saat Bram sudah menyalakan mesin motornya. Bram tidak menjawab. Avanti lalu duduk di boncengan motor Bram, kemudian motor melaju menuju pasar.


*****


Di lain tempat motor Lilian dan Nindya sudah melaju sudah melewati jalur luar kota.


"Kamu sudah ngabari mas Bram, Nin?" tanya Lilian di antara deru suara mesin kendaraan di jalan. Meskipun hari masih pagi tapi di jalan raya sudah banyak kendaraan.


"Sudah tadi malam, maka aku sudah tahu alamatnya, dia sudah share lokasi" jawab Nindya dengan suara sedikit berteriak

__ADS_1


"Tapi ga bilang berangkat jam berapa" ucapnya lagi


Motor terus melaju, tidak berapa lama sudah masuk di kecamatan lokasi KKN Bram.


"Itu Li kantor kecamatan nya, maju lagi gedung olah raga nya" ucap Nindya sambil menunjuk ke suatu tempat.


" Iya setelah gedung olah raga, balai desa nya ga jauh dari situ ya" ucap Lilian


"Iya" ucap Nindya.


Motor terus melaju, Nindya memberi panduan pada Lilian tidak berapa lama mereka sudah sampai di balai desa tempat KKN Bram.


Mereka berhenti sejenak.


"Terus sana Li, nanti ada pertigaan ke kiri, kita langsung ke sana saja" ucap Nindya


"Tidak minta mas Bram jemput kita di balai desa" ucap Lilian


"Ga usah langsung saja, surprise he he.." ucap Nindya sambil tertawa kecil


"Beres" ucap Nindya


Mereka kemudian kembali melajukan motornya. Dua kali Nindya mengalami kebingungan rute kemudian tanya kepada warga sekitar.


Dannnnn tidak berapa lama mereka sudah sampai di suatu jalan di depan jarak 10 meter nampak terpampang tulisan posko KKN, Lilian melambatkan motor nya, setelah mendekat rumah tersebut ada terpampang papan tulisan kepala dukuh yang dimaksud. Berarti benar tidak tersesat, Lilian kemudian membelokkan motornya memasuki halaman rumah bapak Kepala dukuh.


Lalu Lilian memarkirkan motornya di halaman. Nindya turun dari boncengan lalu melepaskan helm nya dan mengibas ngibaskan rambutnya yang harum.


Kemudian diikuti Lilian setelah mengunci motor dia juga melakukan hal yang sama seperti Nindya lakukan.


"Yok" ucap Nindya sambil menarik tangan Lilian


"Widih yang kangen" goda Lilian yang langsung mendapat cubitan kecil di pinggang nya. Lilian malah terkekeh


Sesampai di pintu rumah pak Dukuh terdengar suara motor Bram menuju ke halaman rumah pak Dukuh. Spontan Lilian dan Nindya menoleh ke arah suara motor Bram.


Bram yang memasuki halaman betapa terkejutnya melihat ada Nindya dan Lilian berada di depan pintu dengan tatapan memandangnya. Bram juga menatap Nindya tidak melihat jalan di depannya. Padahal di depannya ada ayam jago besar milik pak Dukuh, ayam hampir tertabrak ayam dan Avanti berteriak bersamaan membuat Bram kaget sehingga selanjutnya motor oleng Bram tidak bisa mengendalikan. akhirnya motor mengelimpang , dan tentu saja Bram dan Avanti ikut terjatuh.

__ADS_1


Mendengar ada teriakan ayam dan Avanti disusul suara motor meraung raung dan suara sesuatu jatuh, penghuni rumah berlari ke luar dari rumah. Leon dan teman temannya malah terpesona melihat dua perempuan yang berdiri di depan pintu.


Pak Dukuh dan Bu Dukuh ikut keluar dari rumah, sambil memegangi kepalanya yang pusing pak Dukuh berjalan membantu anak gadisnya, sedang bu Dukuh sibuk mengambili barang belanjaan. yang tercecer di sekitar motor.


Bram bangkit berdiri dan mencoba mendirikan motornya namun terasa kesulitan


"Hai.. bantu aku" teriak Bram pada Leon. dan teman temannya. Mereka lalu berjalan menuju ke motor Bram namun masih menatap pada dua perempuan yang berdiri di depan pintu sehingga terlihat kepala menoleh ke arah Nindya dan Lilian.


Sementara perasaan Nindya campur aduk antara pengen tertawa, kasihan melihat yang jatuh dan cemburu karena Bram memboncengkan seorang gadis. Terlihat Lilian mengelus elus pundak Nindya karena paham suasana hati sahabatnya.


Setelah motor berhasil berdiri dengan sempurna. Bram minta maaf pada keluarga pak Dukuh, dan mereka pun lalu masuk ke dalam rumah dengan belanjaannya, diikuti teman teman Bram yang lain, hingga tertinggal Leon dan Bram yang memarkir motornya


"Kamu kenapa sih Bram kok bisa jatuh, pasti terpesona dengan dua bidadari di depan pintu itu" ucap Leon


"Gara gara ayam" jawab Bram


"Ayam nya padahal besar apa tidak terlihat" ucap Leon kemudian sambil berjalan menuju ke rumah dikuti langkah kaki Bram.


Terlihat Nindya dan Lilian sudah dipersilahkan masuk oleh keluarga pak Dukuh dan teman teman Bram. Nampak mereka sedang berbincang bincang. Dito yang baru bangun juga terlihat menemui Nindya dan Lilian. Sedang keluarga pak Dukuh sudah masuk ke ruang belakang.


Bram memasuki ruangan dengan perasaan takut karena terlihat Nindya menatapnya dingin. Bram lalu melangkahkan kaki dan duduk di tempat duduk yang masih kosong.


"Kok ga ngabari mau datang" ucap Bram, dan Nindya hanya diam saja.


"Kan Nindya sudah ngabari kalau hari ini mau datang" ucap Lilian


"Oooo teman mu Bram" ucap Leon yang baru paham


"Kamu jelaskan ke mereka kenapa aku ngantar Avanti ke pasar" ucap Bram sambil menatap pada Leon


"Ooo gini tadi itu aku yang mau ngantar Avanti tapi Bram meminta dia yang ngantar karena katanya laporannya sudah selesai" ucap Leon berbohong menggoda Bram, namun terlihat mata Nindya sudah mulai memerah


"Leee.. Kamu jangan memfitnah mau menikung kamu" ucap Bram dengan emosi sambil mendekat pada Leon sambil memegang erat krah baju Leon


"Maaf becanda" ucap Leon


Leon akhirnya menjelaskan yang sebenarnya pada mereka semua. Terlihat Lilian tersenyum namun Nindya masih diam saja.

__ADS_1


__ADS_2