Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
161. Malam Menyenangkan


__ADS_3

Pak Man terlihat berlari menuju ke arah Nindya yang baru turun dari mobil.


“Ayo mbak Nindya aku tuntun" ucap pak Man sambil mengulurkan tangannya pada Nindya


“Bisa jalan sendiri Pak" jawab Nindya sambil terus melangkah


“Saya disuruh Mas Bram, untuk menjaga mbak Nindya" ucap pak Man sambil menyaut pergelangan tangan Nindya dan berjalan di samping Nindya


“Pak Man jalannya rata dan sepatu juga flat Pak, tidak yang tinggi runcing”


“Pak Man kayak ngandeng nenek nenek ha...ha....” ucap Nindya sambil tertawa


“Pokoknya saya gandeng sampai tempat tujuan nanti kalau Mas Bram lihat CCTV bisa kena marah saya kalau tidak menjaga mbak Nindya dan calon anaknya mas Bram” ucap pak Man


“Mas Bram tok cer ya Mbak.. tidak menunggu lama langsung jadi...” ucap pak Man sambil tersenyum


“Iya Pak, berkat doa pak Man juga kami akan segara dapat momongan” ucap Nindya


“Laki laki apa perempuan mbak, kalau laki laki pasti ganteng kayak mas Bram kalau perempuan pasti cantik kayak mbak Nindya?” Tanya pak Man


“Lha iya tho Pak mosok ganteng kayak aku he..he...” saut Nindya


“Belum tahu Pak, tapi mas Bram juga tidak ingin tahu sebelum lahir biar surprise katanya..”


“Iya mbak, laki atau perempuan sama saja sama sama berkah yang penting sehat.” Ucap Pak Man


Mereka berdua lalu memasuki ruangan paviliun yang digunakan untuk kantor. Pak Man mengantar dan menggandeng tangan Nindya sampai di kursi tempat Nindya duduk.


“Sudah mbak Nindya tunggu Bapak, saya kerja di sekitar paviliun nanti kalau butuh tinggal panggil saja.”


“Mas Bram yang nyuruh saya kerja di sekitar paviliun katanya biar kalau mbak Nindya sewaktu waktu membutuhkan siap sedia ha.. ha...”


“Iya Pak, terimakasih.” Ucap Nindya lalu mengaktifkan komputer yang berada di meja depannya.


Tidak lama kemudian bapak Bharata memasuki ruangan tersebut. Beliau sudah memakai baju rapi meskipun tidak memakai jas, beliau hanya memakai kemeja lengan pendek dan celana panjang.


“Sudah siap Nin?” tanya bapak Bharata


“Iya Pak.” Jawab Nindya


Bapak Bharata kemudian terlihat mulai sibuk membimbing Nindya. Beliau menunjukkan tentang profil perusahaan dan data data perusahaan. Rasanya bapak Bharata tidak memberi training pada karyawan tetapi memberi training pada penerusnya dalam mengelola perusahaannya.


Sedangkan Nindya terlihat juga sangat antusias menerima materi materi dari bapak Bharata. Menanyakan beberpa hal dengan detail segala sesuatu yang ingin diketahuinya. Bapak Bharata juga terlihat sangat bersemangat menjawab pertanyaan dari Nindya.

__ADS_1


Saat jam istirahat Mak mengantar segala kebutuhan mereka. Dan tidak terasa hari telah sore. Nindya mulai lagi dengan tingkahnya. Bapak Bharata sudah keluar dari paviliun dan berjalan masuk ke dalam rumah. Tetapi Nindya tidak mau keluar paviliun, dia menunggu Bram menjemput.


“Ayo mbak saya antar masuk rumah.” Ucap Pak Man menawarkan bantuan.


“Tidak Pak, saya menunggu mas Bram, pengen rasanya dijemput suami pulang kerja.” Ucap Nindya dengan tatapan mata masih fokus dengan layar komputer di depannya.


Sementara itu Bram yang mendapat kabar dari bapaknya kalau Nindya masih di paviliun menunggu jemputannya tampak gelisah.


Dia lalu pamit pada mbak Sisi untuk pulang lebih dulu. Dia merasa sangat tidak enak dengan karyawan karena datang terlambat malah pulang lebih dulu. Karena kebiasaan bapak Bharata adalah datang lebih dulu dan pulang belakangan meskipun beliau sebagai pemimpin.


“Tidak apa apa Pak Bram, kan kondisi seperti ini hanya sementara, biasanya hanya kehamilan semester awal rasa ngidam itu muncul.” Ucap mbak Sisi


Bram lalu pamit pada Sisi dan selanjutnya menjemput Ibu Murti yang berada di beda ruangan. Beberpa menit kemudian mobil sudah sampai di depan pintu pagar rumah bapak Bharata. Bram turun dari mobil untuk membuka pagar, sebab Pak Man masih berada di paviliun menemani Nindya.


Setelah mobil masuk ke halaman dan berhenti untuk menurunkan ibu Murti. Seperti biasanya Bram lalu memasukkan mobil ke garasi. Bram lalu berjalan menuju ke paviliun. Di lihatnya Nindya masih asyik di depan komputer, sedangkan pak Man tertidur dengan posisi duduk di sofa yang berada di ruang depan paviliun.


“Nin...” ucap Bram lalu berjalan mendekati Nindya. Bram memegang pundak Nindya dari belakang lalu mencium puncak kepala. Nindya lalu menoleh dan seterusnya memeluk suaminya.


“Sudah yuk ditutup komputernya.” Ucap Bram lalu mengurai pelukannya. Sedang Nindya tampak masih nempel memeluk Bram sambil mencium cium lengan Bram.


“Nanti dilihat Pak Man.” Ucap Bram lalu menoleh ke arah Pak Man yang masih tertidur.


“Kok baunya mas Bram enak ya...” ucap Nindya lalu menutup komputernya.


Namun saat sampai di halaman Nindya mencari cari mobil Bram.


“Mana mobilnya?” tanya Nindya


“Sudah aku masukkan garasi.” Jawab Bram


“Lha kan buat jemput aku.” Ucap Nindya


“Mosok pakai mobil Nin kan tinggal jalan kaki ke pintu rumah itu.” Ucap Bram sambil menunjuk pintu rumah.


“Putar putar lagi.” Jawab Nindya. Bram tidak mau berdebat lagi, sebab sudah diberi tahu dokter dan ibu Murti pengaruh hormon kehamilan membuat Nindya jadi sensitif perasaannya. Akhirnya dia mengambil lagi mobilnya.


Setelah Nindya masuk ke dalam mobil Bram menjalankan mobilnya keluar halaman rumah. Dia bermaksud mengambil jalan seperti tadi pagi. Namun tiba tiba Nindya menginginkan jalan lain.


“Mas pengen dawet yang cendolnya dari tepung beras, pakai gula merah dan ada irisan nangka" ucap Nindya kemudian.


“Belinya dimana?” tanya Bram, dia berpikir ini ngidam yang normal mungkin butuh manis manis karena selama ini istrinya sukanya camilan yang asin.


“Dulu aku beli di lokasi KKN.” Jawab Nindya

__ADS_1


“Jauh Nin, lagian sudah sore, ganti aja ya yang manis manis lainnya.” Ucap Bram, pikir Bram yang penting makanan manis


Nampak Nindya hanya diam saja, dengan mata berkaca kaca.


“Dia bener bener pengen dawet apa hanya ngetes rasa cintaku sih.” Gumam Bram dalam hati


Bram lalu menjalankan mobilnya mengarah ke jalan menuju tempat Nindya KKN. Tampak ekspresi wajah Nindya sudah berubah kini terlihat matanya berbinar dan bibirnya dihiasi senyuman.


“Semoga nanti malam aku dapat kejutan lagi.” Gumam Bram dalam hati sambil tersenyum dan melirik Nindya. Otak mesum diapun sudah berkelana membayangkan serangan Nindya tadi malam.


“Mas...mas... itu tadi ada bapak penjual dawet.” Ucap Nindya sambil menoleh ke belakang ada penjual dawet di pinggir jalan.


Bram akhirnya memutar balik mobilnya untuk kembali ke tukang dawet di pinggir jalan. Setelah dekat di tukang dawet mobil menepi dan berhenti. Nindya sudah turun lebih dulu kemudian disusul oleh Bram.


“Pak, dawetnya masih?” tanya Nindya


“Habis mbak ini mau pulang.” Jawab bapak tukang dawet. Terlihat Nindya sangat kecewa begitu juga Bram.


“Dimana ya Pak yang masih?” tanya Bram


“Wah tidak tahu Mas, sudah sore gini.” Jawab bapak penjual dawet.


“Istri saya sedang ngidam Pak.” Ucap Bram. Lalu terlihat ekspresi bapak penjual dawet tersebut kasihan pada Nindya dan Bram. Kemudian terlihat dia membuka tempat cendol.


“Mbak ini cendolnya masih sedikit, mau apa?” tanya bapak penjual sambil memperlihatkan cendol yang masih sedikit


“Nanti dibuatkan santan sendiri kalau mau, Kalau sirup gulanya ini masih ada.” Ucap Bapak penjual dawet dan Nindyapun setuju. Bram memberi uang seratus ribu kepada Bapak penjual dawet tersebut meskipun awalnya bapak penjual dawet tersebut akan memberikan gratis pada pasangan muda itu.


Karena hari sudah menjelang malam akhirnya mereka berdua memutuskan untuk makan malam di luar sekalian. Dan tentu saja sudah ijin pada ibu Murti agar tidak ditunggu.


Setelah selesai mereka langsung pulang, dalam pikiran Bram dia mengira istrinya ingin segera menikmati dawetnya. Bram juga sudah memesan Mak untuk menyiapkan santan untuk dawet istrinya.


Benar sesampai di rumah Nindya langsung menuju ke dapur mengambil santan dan selanjutnya menikmati dawet yang diidam idamkan. Sedangkan Bram langsung masuk ke dalam kamar langsung mandi.


Setelah selesai mandi Bram langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Rasanya benar benar penat seharian kerja dan menuruti keinginan istrinya. Tidak berapa lama kemudian terlihat Nindya masuk ke dalam kamar, terlihat wajahnya tersenyum cerah. Dia lalu berjalan menuju ke kamar mandi.


“Kenapa wajahnya kalau malam banyak senyumnya kalau pagi sampai sore banyak ngambeknya.” Gumam Bram dalam hati.


“Tak apalah pagi hingga sore menyebalkan yang penting malam hari menyenangkan.” Gumam Bram lagi sambil tersenyum membayangkan pertarungan malam hari nanti.


Beberapa menit kemudian Nindya membuka pintu kamar mandi. Aroma wangi tubuh Nindya sudah tercium sampai di hidung Bram. Sambil rebahan Bram menoleh ke arah Nindya. Mata Bram sedikit melotot dan jakunnya naik turun, lalu Bram menelan salivanya.


Nindya sudah memakai baju kado dari Arum, sekarang dia memakai baju dengan warna dan model yang lain. Dia masih memegang handel pintu kamar mandi, dengan kepala sedikit menunduk tidak menyadari kalau suaminya sudah melihat dirinya.

__ADS_1


“Apa yang harus kulakukan, pura pura tidur lagi atau langsung serang?” tanya Bram pada dirinya sendiri


__ADS_2