
Bram menyandarkan punggungnya dan meluruskan kakinya. Rasanya dia pengen lari lari dan loncat loncat untuk melemaskan ototnya. Nampak dia tersenyum ingat Nindya, jika sekarang di kost pasti dia akan memanggil Nindya dan menyuruhnya untuk menginjak injak pasti nikmat rasanya, begitu pikirnya.
Ibu Murti terlihat melirik ke arah Bram.
"Bram" panggil Ibu Murti
Terlihat Bram menegakkan posisi duduknya sambil menatap Ibu Murti.
"Ya Ibu" jawab Bram
"Kamu pindah ke sini" ucap Ibu Murti sambil bangkit berdiri dari sofa panjang yang dia duduki.
"Baik Bu" ucap Bram lalu bangkit berdiri dan pindah di sofa panjang. Bram lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang, masih belum puas dia lalu merubah posisinya dengan tidur tengkurap sambil membayangkan diinjak injak Nndya.
Ibu Murti terlihat berjalan melewati meja bapak Bharata dan melangkah masuk ke dalam ruang pribadi bapak Bharata untuk beristirahat di sana. Sedangkan bapak Bharata terlihat masih sibuk dengan pekerjaan nya, masih bertahan duduk di belakang meja kerjanya, lap top masih menyala dan dokumen dokumen masih di depannya. Terlihat kadang menatap layar lap top sambil tangannya menggerakkan tetikus, kadang tangannya membuka buka dokumen.
Namun tidak berapa lama Ibu Murti nampak keluar dari kamar pribadi bapak Bharata, tangannya terlihat membawa beberapa paper bag.
"Pak ini apa?" tanya ibu Murti pada bapak Bharata sambil menunjukkan paper bag. Bapak Bharata yang masih fokus pada pekerjaannya lalu menoleh ke arah istrinya, lalu matanya menatap paper bag yang berada di tangan ibu Murti.
"Ooo punya Bram" jawab bapak Bharata lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Bram" ucap Ibu Murti saat berada di dekat Bram. Bram yang sudah setengah bermimpi diinjak injak Nindya langsung terkaget, dia membuka matanya dan nampak sayu karena sudah mulai perjalanan ke alam mimpi.
"Apa Bu" ucapnya dengan sedikit mendongakkan kepala
"Kamu nanti pulang ke rumah, ini bajumu nanti bawa ke rumah" ucap Ibu Murti sambil meletakkan paper bag di dekat Bram.
"Baik Bu" ucap Bram kemudian dan terlihat dia kembali pada posisinya dan melanjutkan ke alam mimpinya. Ibu Murti terlihat geleng geleng kepala lalu kembali ke kamar pribadi suaminya untuk beristirahat. Sedangkan bapak Bharata terlihat semakin memfokuskan diri pada pekerjaannya agar tidak diomeli istrinya.
Menjelang maghrib bapak Bharata menyudahi pekerjaannya lalu bangkit berdiri, melihat Bram yang tertidur pulas tidak tega membangunkan kemudian beliau berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya.
Tidak terasa malam telah tiba, Bapak Bharata dan ibu Murti keluar dari kamar pribadinya sudah terlihat segar sudah mandi dan sembahyang, sekarang tiba waktunya untuk pulang ke rumah karena Mak sudah menyiapkan makan malam untuk keluarga Bharata.
Sementara itu di sofa panjang Bram masih tertidur pulas sambil mengigau
"Enak Nin... pelan pelan..." igau Bram yang sedang bermimpi diinjak injak Nindya. Igauan Bram didengar oleh Ibu Murti dan Bapak Bharata yang sudah berjalan mendekat akan membangunkannya. Beliau berdua mengeryitkan dahi mendengar igauan Bram.
Bapak Bharata mendekat dan menjewer telinga Bram.
__ADS_1
"Nin kenapa kamu berani menjewer aku sakit ini" ucap Bram masih dengan mata terpejam. Terlihat Bapak Bharata semakin menarik kuping Bram. Bram lalu memegang tangan bapak Bharata.
"Nin tanganmu kok jadi besar dan kasar" ucap Bram masih dengan mata terpejam
"Hai sudah kamu apakan anak orang?" ucap Bapak Bharata. Bram yang mendengar suara bapaknya lalu membuka matanya dan membalikkan tubuhnya dari tidur tengkurapnya. Dia lalu terlentang sambil mengusap wajahnya dengan kasar agar aliran darah di wajahnya lancar.
"Aku hanya mimpi" gumam Bram
"Sudah malam ya Pak?" tanya Bram lalu dia duduk di sofa
"Iya ayo pulang, kamu belum jawab sudah kamu apakan Nindya kok kamu mimpi keenakan" ucap Bapak Bharata
"Belum aku apa apakan Pak, aku yang diinjak injak Nindya" jawab Bram sambil bangkit berdiri lalu berjalan mengikuti bapak Bharata. Ibu Murti yang sudah berjalan paling depan spontan berhenti mendengar jawaban Bram
"Diinjak injak bagaimana belum menjadi istri kok sudah berani nginjak injak?" tanya Ibu Murti
"Oo Bram yang nyuruh Bu, karena kalau mijit tangannya ga kuat katanya tubuh saya terlalu keras" jawab Bram menjelaskan dia takut kalau ibu Murti salah paham dan membenci Nindya
"Ooo" gumam ibu Murti lalu mereka bertiga meninggalkan kantor dan pulang ke rumah.
Sementara itu di kost Nindya, Nindya menunggu pulangnya Bram. Pesan text centang dua namun dari tadi belum dibaca Bram.
Nindya sudah masak istimewa untuk menyambut kepulangan Bram dari kerja pertamanya. Bolak balik Nindya melihat hape, dan bolak balik pula dia keluar masuk kamar untuk melihat halaman bu Sugeng sudah ada mobil Bram belum.
"Apa begitu sibuknya sampai tidak.sempat buka hape sejak tadi" gumam Nindya
Lilian yang melihat Nindya mondar mandir lalu dia berjalan mendatangi kamar Nindya.
"Nin..." ucap Lilian melongokkan kepala di pintu kamar Nindya yang terbuka. Nampak Nindya duduk kursi sambil berlinang air matanya.
"Kamu kenapa?" tanya Lilian lalu berjalan mendekati Nindya dan mengusap usap punggungnya.
"Aku sudah masak rendang kesukaan mas Bram tapi dia tidak pulang pulang hape nya juga tidak dibuka sejak tadi hiks..hiks..." ucap Nindya lalu semakin tumpah air matanya
"Aku capek bolak balik ngecek dia sudah pulang belum hiks..hiks..." ucapnya lagi sambil terisak
"Mungkin dia sibuk Nin, kan hari pertama kerja" ucap Lilian menenangkan
"Iya juga sih" ucap Nindya lalu menghapus air matanya.
__ADS_1
"Kamu belum makan?" tanya Lilian
"Belum, nunggu mas Bram" jawab Nindya
"Kamu makan dulu ga apa apa, dari pada nanti sakit" ucap Lilian
"Nunggu aja Li" ucap Nindya keukeuh
"Makan dulu sedikit ga apa apa, nanti kalau mas Bram pulang kamu ikut makan lagi" saran Lilian
"Aku temani makan apa, aku tadi sudah makan tapi ikut rasakan rendang mu juga ga apa apa he..he.." ucap Lilian kemudian
"Ya sudah ayo makan, aku sebenernya juga sudah lapar" ucap Nindya lalu mengambil dua piring kemudian mengambilkan nasi dan rendang buat dia dan Lilian.
Sementara itu di rumah bapak Bharata. Setelah makan malam Bram menuju ke kamarnya lalu ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelahnya dia membuka lap top karena mendapat tugas dari bapaknya untuk persiapan kerja besuk pagi. Hingga jam sepuluh malam Bram masih menatap layar lap top nya, mengamati data data yang terpampang di layar lap top. Namun tiba tiba dia ingat Nindya, lalu dia akan mengambil hape nya sejenak dia ingat hape nya masih berada di saku jas nya. Ah untung jas tidak tertinggal di sofa begitu gumamnya.
Dia bangkit berdiri berjalan mengambil hape yang berada di saku jas. Banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab di hape nya. Sejak pertemuan dengan Tuan Andrew, hape Bram dalam modus senyap hingga sekarang.
Dia membuka pesan dari Nindya, lalu dia melakuan panggilan video ke Nindya.
"Nin maaf" ucap Bram saat sudah terhubung
"Aku sibuk banget tadi dan hape aku silent sejak meeting dengan bule" ucap Bram kemudian
"Ini juga masih ada tugas dari bapak, aku disuruh tidur di rumah" ucap Bram lagi. Terlihat Nindya hanya diam namun terlihat matanya berkaca kaca
"Maaf ya" ucap Bram lagi dan Nindya hanya diam
"Nin tuh lihat lap top ku masih nyala" ucap Bram lagi sambil mengarahkan hape di layar lap topnya agar Nindya melihat
"Mas Bram sibuk banget ya?" tanya Nindya dengan mata masih berkaca kaca dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Bram yang sebenarnya tidak tega melihat Nindya dengan mata berkaca kaca
"Aku tuh tadi sudah masak rendang meskipun dengan bumbu instan, aku nunggu mas Bram tapi tidak pulang pulang hape tidak dibuka aku capek bolak balik melihat kost mas Bram.. hua...hua..." ucap Nindya yang akhirnya keluar tangisnya
"Ya sudah, besuk kamu ke kantor sama Lilian ngantar makan siangku dengan rendangmu gimana?" tanya Bram berusaha menenangkan
"Aku dan Lilian kuliah sampe jam satu" jawab Nindya yang masih dengan sisa isakan tangisnya
"Aku tunggu sampai kamu datang" ucap Bram
__ADS_1
"Ya sudah, nanti dan besuk rendangnya aku panasi lagi, tadi kata Lilian masih alot he he.." ucap Nindya sambil tersenyum malu
"Aku ketawa boleh ga?" tanya Bram serius