
Mereka bertiga sudah berada di lantai tiga.
"Ayo di balkon saja, ada kursi juga di sana" ajak Bram yang berjalan paling depan kemudian dia membuka pintu lalu berjalan menuju ke kursi yang berada di balkon. Nindya dan Lilian hanya mengikutinya. Setelah berada di balkon Nindya dan Lilian melihat pemandangan yang terlihat dari balkon.
"Bagus ya Mas, view nya bagus ga panas dan angin sepoi sepoi" ucap Nindya dan terlihat anak rambutnya tergerai gerai ditiup angin.
"Iya" jawab Bram sambil tersenyum dan merapikan rambut Nindya. Lilian tidak melihat yang dilakukan Bram sebab Nindya posisi berdirinya di tengah dan Lilian masih terpesona memandang puncak Merapi.
"Ayok duduk dan makan, aku sudah ingin mencoba rendang masakanmu" ucap Bram lalu melangkah menuju ke tempat duduk yang berada di balkon. Lalu diikuti oleh Nindya dan Lilian. Kemudian Nindya menaruh kotak makan yang dibawanya di meja.
"Mas, cuci tangan?" tanya Nindya sambil pandangan matanya mencari cari sesuatu
"Ooo tuh di pojok ada washtafel" ucap Bram sambil menunjuk wastafel di pojok Bram juga bangkit dari tempat duduknya lalu merangkul pundak Nindya mereka berdua berjalan menuju ke wastafel untuk mencuci tangan. Di wastafel mereka tidak hanya sekedar mencuci tangan tapi saling menggoda kalau salah satu tangan sudah bersih diolesi busa sabun lagi begitu terus hingga berkali kali.
"Kalian itu lama banget sih cuci tangan, malah cekikikan, aku juga mau cuci tangan nih" teriak Lilian
"Buruan aku sudah lapar pakai banget" teriak Lilian lagi
"Sabar.." ucap Bram sambil menoleh ke arah Lilian. Kemudian Bram dan Nindya menyudahi acara cuci tangan dan bercandanya,
"Kalian sudah kenyang bercanda" gumam Lilian saat berpapasan di dekat wastafel. Bram dan Nindya hanya menanggapi dengan senyuman.
Mereka bertiga sekarang sudah duduk dan siap bersantap siang yang tertunda. Nindya membuka kotak makan aroma rendang menguar membuat perut semakin keroncongan.
"Sekarang sudah tidak alot Nin" ucap Lilian saat mencicipi daging rendangnya.
"Kemarin alot sealot cintaku" ucap Nindya serius. Bram yang mendengar menatap wajah Nindya penuh tanya. Tapi tidak bertanys sebab sedang memgunyah makanannya.
"Maksudnya gimana?" tanyanya kemudian setelah menelan makanannya
"Lha iya menunggu mas Bram pantang menyerah sampai malam kelaparan" jawab Nindya
"Tapi sekarang rendangnya remuk, seremuk hatiku" ucap Nindya kemudian. Bram dan Lilian menatap Nndya .
__ADS_1
"Hatimu remuk gimana Nin?" tanya Lilian
"Gimana ga remuk ternyata meeting dengan bule cantik sejak kemarin sampai lupa buka hape" jawab Nindya. Bram yang mendengar sedikit tersedak, kemudian dia meraih tumbler nya yang berisi air putih dan menegak isinya.
"Nin" ucap Bram sambil memegang tangan Nindya
"Kamu sih Li, ngingetin rendang alot juga" ucap Bram menoleh ke arah Lilian, Lilian hanya bisa nyengir
"Kemarin tamu utama si bule Tuan Andrew kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanya ke Bapak. Jecklyn kemarin hanya menemani Tuan Andrew, tadi dia datang juga mendadak, aku tidak tahu. Tadi juga membahas penawaran komodoti" jelas Bram, Nindya hanya diam sambil makan dengan pelan pelan seperti tidak berselera jika ingat wajah Jecklyn yang senyum senyum saat berbicara dengan Bram
"Kemarin bener bener sibuk aku lupa lihat hape ku silent dan kutaruh di saku jas, saat setelah meeting jas kulepas" jelas Bram lagi
"Kayaknya sudah saatnya punya hape khusus hanya nomermu dech" gumam Bram kemudian lalu kembali menyendok makanannya.
"Iya itu mas, nomerku juga dimasukkan di hape khusus mas Bram, kalau ada apa apa dengan Nindya aku bisa ngabari " ucap Lilian dengan antusias
"Kamu mau ngabari apa?" tanya Nindya pada Lilian
"Aduh..." teriak Lilian
"Bener ya mas Bram beli hape khusus" ucap Nindya menatap Bram
"Iya ayo sekarang makan yang banyak" ucap Bram menyakinkan
"Okey.. Sekarang rendangnya selembut hatiku he..he..." ucap Nindya sambil tertawa kecil
"Rendang sudah dikunyah 32 kali eh kalau daging 40 kali" ucapnya lagi
"Yeee sudah bisa tertawa" ucap Lilian dan Bram tersenyum senang
Mereka akhirnya menyelesaikan makan siangnya dengan sukses tanpa sisa. Terlihat ketiganya tersenyum puas. Setelah memberesi semua peralatan Nindya dan Lilian pamit pulang.
Bram mengantar mereka berdua sampai di tempat parkir. Semua mata karyawan memandang mereka bertiga. Setelah mengantar Nindya dan Lilian, Bram kembali berjalan menuju ke ruangan bapak Bharata.
__ADS_1
Saat akan memulai pekerjaannya Bram mengecek hapenya ada panggilan masuk nomer tidak dikenal, juga ada juga pesan text masuk dari nomer tidak dikenal tersebut. Bram membuka pesan text tersebut.
"Tuan Bram, maaf mengganggu ini saya Jecklyn mohon sample tidak dikirim tetapi langsung saja diserahkan pada saya. Jika sudah siap sample nya, Tuan Bram bjsa menghubungi saya lewat nomer ini.... Jecklyn"
Bram lalu mengetik memberi balasan pesan text Jecklyn
"Baik, terimakasih" ..ting pesan terkirim
Bram lalu meletakkan hape nya di meja. Dia berpikir dari mana Jecklyn mendapatkan nomernya, Jecklyn yang memberi kartu nama dan dia belum pernah menghubungi. Semua dokumen kontak kerja pakai alamat kantor.
Dia menoleh ke arah tempat duduk Sisi sekretaris bapak Bharata nampak Sisi terlihat sibuk. Bram membatalkan niatnya mencari tahu tentang Jecklyn yang tahu nomernya
Ach ada ide membuka percakapan dengan Sisi begitu gumam Bram
"Mbak Sisi" ucap Bram agak keras, Sisi dan Bapak Bharata mendengarnya, mereka berdua menoleh ke arah suara Bram
"Ya Mas Bram, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sisi
"Tolong kamu tanyakan bagian personalia nomer telpon pak Heri" ucap Bram
"Baik Mas" jawab Sisi lalu nampak Sisi mengambil ganggang telpon untuk menghubungi bagian personalia. Tidak berapa lama Sisi sudah mendapatkan nomer pak Heri dan mencatat nomer tersebut pada kertas memo nya. Dia lalu menarik kertas memo tersebut, Sisi kemudian bangkit berdiri berjalan ke arah tempat duduk Bram.
"Ini Mas" ucap Sisi menyerahkan kertas memo berisi nomer telpon pak Heri
"Terimakasih" ucap Bram
"Eh Mbak, apa mbak Sisi ngasih nomer telpon saya ke Jecklyn?" tanya Bram saat Sisi masih berdiri di dekatnya.
"Iya Mas, maaf tadi saat mas Bram ke lantai tiga Nona Jecklyn datang lagi minta nomer telpon mas Bram" jawab Sisi
"Ya sudah, silahkan mbak Sisi kembali ke mejanya" ucap Bram. Sisi lalu melangkah berjalan menuju ke mejanya. Sedangkan Bram memencet mencet hapenya memasukan nomer pak Heri ke kontaknya. Lalu mengirim pesan text ke pak Heri, agar pak Heri membawakan sample tepung pisang bila ke kantor.
Setelah mengirim pesan text ke pak Heri. Bram melihat ada beberapa pesan text dari Jecklyn, namun Bram enggan membukanya. Bram lalu meletakkan haoenya dan kembali pada pekerjaannya.
__ADS_1