Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
23 Curahan hati Bram 2


__ADS_3

Malam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih Bram merasa gelisah, tidur juga belum bisa, akhirnya dia mengambil jaket dan dompetnya kemudian keluar dari kamar


"Mau ke mana mas?" tanya Arum adik Bram yang hanya selisih 14 bulan umurnya.


"Cari angin" jawab Bram sambil berlalu


"Pasti tidak betah di rumah" gerutu Arum


Bram berjalan keluar rumah menuju garasi yang berada di bangunan samping rumah utama. Bram mengeluarkan motornya kemudian berlalu meninggalkan rumah. Beberapa saat dia berhenti di depan kedai kopi. Bram memarkirkan motornya kemudian masuk ke dalam kedai kopi tersebut. Saat memasuki kedai kopi langsung disapa oleh pemilik kedai kopi


"Hai Bram tumben kamu inget pulang" teriak Jarot pemilik kedai kopi yang merupakan teman SMA Bram.


"Ha.. Ha... kamu tahu ya kalau aku main ke sini lagi pulang rumah" ucap Bram sambil berjalan mendekati Jarot


"Sudah kelakuanmu, sekali kali lah ngajak rombongan teman teman kampus ke sini, ga cuma sendirian kalau ke sini itung itung promosikan kedaiku" ucap Jarot


"Kan sudah pernah ngajak teman kampus" kata Bram


"Lilian sama saja satu SMA" ucap Jarot


"Okey okey lain kali, buat in aku kopi hitam donk" ucap Bram


"Yang kopi mana Aceh, Lampung, Ambarawa, Malang, Bali, Flores, Toraja, Papua,... yang jenis apa Robusta, Arabica... " tawar Jarot sambil menunjukkan toples toples kaca berisi segala macam jenis kopi nusantara.


"Campur" jawab Bram singkat


"Kenapa? takut kalau milih salah satu ada yang cemburu?"tanya Jarot dan Bram hanya diam lalu berjalan menuju meja pengunjung untuk mencari tempat duduk


Jarot kemudian membuatkan kopi buat Bram setelah selesai dia membawakan dan menaruh di meja di depan Bram.


"Kubuatkan sendiri kuantar sendiri demi sahabatku yang baik hati ini" ucap Jarot setelah menaruh kopi di meja dan dia duduk di kursi berhadapan dengan Bram tersekat meja yang sudah ada secangkir kopi. Dia akan menemani Bram teman lamanya, untuk pelayanan tamu kedai nya sudah ada pegawai Jarot.


"Harum aroma nya" ucap Bram sambil mengangkat cangkir dan mengendus endus aroma nya


"Jelas donk" ucap Jarot dengan bangganya


"Gimana Rot, kamu sudah punya anak belum?" tanya Bram pada Jarot yang sudah menikah setelah lulus SMA


"Sedang proses he...he..." jawab Jarot sambil terkekeh


"Proses terus" gumam Bram


"Kamu sendiri sudah seriusan belum sama cewek, kebanyakan yang dekat malah bingung ya Bram?" ucap Jarot sambil menghadang pegawai yang sedang lewat di dekatnya dan memberi kode untuk mengambilkan cemilan.


"Ha...Ha..., Rot kamu dulu gimana waktu nembak Ratih?" tanya Bram sambil menatap Jarot


"Mosok aku tembak si Ratih aku sayang sayang ya dia" jawab Jarot


"Maksudku gimana kamu ucapkan perasaanmu" kata Bram dengan nada sedikit kesal


"Kamu ada perasaan sama siapa? Lilian, Kamu sama Lilian kan sudah kenal lama ga kamu pacari saja dia" ucap Jarot

__ADS_1


"Aku sama Lilian tuh rasanya kaya sama ke Arum, tapi kalau sama yang ini kok beda ya Rot, rasanya tiap detik kok kepikiran ke itu anak, dan gemes gemes pengen peluk bawaannya tapi ga berani aku haaa...haa...." ucap Bram sambil tertawa dan pandangan menerawang membayangkan wajah Nindya


"Huaahaaaa haaa...haaa... seorang Bram ga berani" tawa Jarot seketika berhenti karena pegawainya datang membawakan cemilan untuk mereka.


"Iya Rot, dia sering menghindar kalau aku mau kontak fisik" ucap Bram


"Baguslah itu cewek ga nyosor" kata Jarot


"Iya malah jadi makin gemes he..he..." ucap Bram sambil terkekeh


"Siapa Bram?" tanya Jarot kepo


"Kamu belum ngasih tahu caranya gimana aku mau ngomong" jawab Bram


"Lha tiap kasus itu beda beda Bram, ada yang langsung bilang i love you, ada yang bilang aku tresno kowe, ada yang lewat mak comblang, ada yang lewat pesan text, ada yang lewat email, ada yang ngasih coklat, ada yang ngasih bunga mawar, ada yang ngasih bunga deposito,...."


"Aku ga tanya per kasus, tapi tanya kasus kamu" potong Bram


"Kalau aku sih cuma bilang ke Ratih, pacaran yuk Tih gitu aja" ucap Jarot


"Terus Ratih bilang apa?" tanya Bram


"Ya bilang ayok... Ha....Ha...." jawab Jarot sambil tertawa


"Kelas berapa kamu dulu pacaran dengan Ratih?" tanya Bram


"Kelas dua, dia duduknya kan di depan ku, tiap hari kupantengi terus kepalanya biar otaknya mikir aku terus ha...Ha...." jawab Jarot


"Ya kalau ditolak ya sudah ya penting sudah omong dari pada kayak kamu itu penasaran kan, kepikiran terus, udah diomongi aja agar bisa mikir yang lain" kata Jarot


"Iya Rot aku juga sudah semester tujuh sudah harus mikir kkn, penelitian, skripsi" ucap Bram


"Sudah aku omongin, terus katain siapa ceweknya?" tanya Jarot


"Sahabat Lilian" jawab Bram


"Lilian sendiri gimana, takutnya dia suka ke kamu repot kalau cinta segitiga tak beraturan" ucap Jarot sambil menatap Bram


"Sama aja repot meskipun segitiga sama kaki, segitiga sama sisi" kata Bram


"Nah itu apalagi segitiga tak beraturan" sambung Jarot


"Kita omong apa sih he...he..." ucap Bram sambil terkekeh


"Kayaknya sih enggak" ucap Bram kemudian


"Apa Lilian belum bisa move on ya?" gumam Jarot


"Sepertinya begitu...., mana Ratih ga ikut ke sini?" tanya Bram kemudian


"Ya enggak lah, di rumah merawat tubuh ha ha..." jawab Jarot sambil tertawa

__ADS_1


"Rot kamu inget Nuke?" tanya Bram berganti topik obrolan


"Yang gelut sama Devina gara gara kamu, anak SMA artis itu" jawab Jarot


"Iya dia bikin ulah di kampus tapi sudah teratasi" ucap Bram


"Gila memang dia" kata Jarot


"Papinya sampe malu akhirnya dibawa ke neneknya di luar negeri" kata Bram


"Aman deh kamu" ucap Jarot


"Ha... ha... iya... Btw kamu masih kerja sama dengan bapakku Rot?" tanya Bram berganti topik pembicaraan lagi


"Masih tapi cuma ambil dikit Bram kafe ku belum gede" jawab Jarot


"Btw Lilian juga punya kebun kopi, organik malah tapi cuma dikit sih, enak Rot kopinya" kata Bram


"Kopi siapa?" tanya Jarot


"Ya yang panen dari kebun Lilian itu, kamu sudah ga konsen ya.." kata Bram


"Kalau organik segmen pasar khusus Bram agak susah di umum" ucap Jarot


"Iya sih.." ucap Bram dan kemudian mereka berdua terdiam beberapa saat


"Rot aku balik ya... makasih ya sudah nganggu kerjamu" ucap Bram memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.


"Sama sama Bram, sering sering ke sini ya, jangan hanya kalau lagi boring saja ke sini nya" kata Jarot sambil memberi kode pada pegawainya untuk memberesi mejanya.


"Iya iya" kata Bram lalu mereka berdua bangkit berdiri. Bram berjalan menuju tempat kasir.


"Mbak, meja no 2" ucap Bram pada kasir. Kemudian kasir melihat lihat nota yang masuk di mejanya


"Maaf Pak, meja no 2 sudah lunas atas nama Pak Jarot" jawab kasir


"Terimakasih mbak" ucap Bram kemudian Bram menoleh ke arah Jarot.


"Rot thanks ya.." teriak Bram sambil melambaikan tangan dan dijawab anggukan kepala dan lambaian tangan Jarot.


Bram lalu melangkah meninggalkan kafe dan berjalan menuju parkiran motornya kemudian melajukan motornya untuk pulang ke rumah. Saat sampai di depan pagar rumah dia melihat lampu lampu di dalam rumah sudah banyak yang padam tetapi lampu kamar Mak masih menyala.


Lalu Bram membuka pintu pagar kemudian mengkaitkan gemboknya, setelahnya dia memasukan motor tanpa menyuarakan mesinnya. Tidak berapa lama pintu depan terbuka dan nampak sosok Mak perempuan paruh baya itu.


"Belum tidur Mak?" tanya Bram saat masuk rumah


"Gimana mau tidur Mas, Mas Bram ga bawa kunci kan saat pergi"


"He. he.... Iya Mak, lupa" ucap Bram sambil terkekeh


"Belum tua sudah lupa, kebanyakan mikir apa" gumam Mak

__ADS_1


"Iya Mak maaf dan terima kasih " ucap Bram sambil menepuk nepuk pelan dan memijat mijat sekilas pundak Mak. Mereka kemudian berlalu menuju kamarnya masing masing.


__ADS_2