
Pagi harinya keluarga pak Dukuh dan tetangga sekitarnya bangun kesiangan semua karena acara begadang dalam rangka perpisahan. Begitupun Bram dan teman temannya.
Bram membukakan matanya, terlihat Dito masih meringkuk. Suasana juga masih terasa sepi, namun suhu udara sudah memanas karena matahari sudah tinggi.
Bram bangkit dari tidurnya lalu duduk di tepi tempat tidur, diambilnya hape yang berada di atas meja, terlihat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih.
"Dit, bangun sudah siang mau pulang tidak" ucap Bram sambil menepuk pantat Dito. Terlihat Dito merubah posisi tubuhnya lalu membuka matanya.
Terlihat Bram mengusap usap hape nya, banyak pesan dan panggilan tidak terjawab. Pertama dibuka pesan dari Nindya yang menanyakan jadi pulang ke kost tidak. Bram lalu membalas pesan Nindya yang mengabarkan kesiangan bangun dan jadi pulang ke kost.
Lalu dibuka pesan di group KKN, teman teman perempuan nya sudah pulang diantar mobil desa. Dan ada beberapa pesan dari perangkat desa yang mengucapkan selamat jalan.
"Ayo Dit, langsung pulang, kita mandi di kost saja" ucap Bram sambil nyengir
"Aku juga setuju" jawab Dito
Bram dan Dito akhirnya membangunkan teman teman lainnya. Lalu mereka semua mengemasi barang barangnya, kemudian berjalan menuju ke ruang belakang. Terlihat masih sepi, Bram berjalan menuju ke dapur terlihat hanya Avanti yang berada di dapur dan terlihat seperti baru bangun juga.
"Ti, kami semua mau pamit" ucap Bram yang dibelakangnya berdiri teman temannya.
"Airnya belum matang mas, belum buat kopi, tunggu saja" ucap Avanti sambil melihat ketel di atas kompor yang masih hening tidak bersuara.
"Tidak usah Ti, sudah kesiangan ini masih ada acara di kampus" ucap Bram bohong padahal karena dia sudah keburu pengen bertemu Nindya
"Tolong panggilkan bapak dan ibu dukuh" ucap Bram kemudian
"Baiklah" ucap Avanti lalu berjalan keluar dari dapur. Sebelum Avanti keluar dari dapur, Bram dan teman temannya sudah melangkahkan kaki menuju ke ruang depan.
Tidak berapa lama bapak dan ibu dukuh masuk ke ruang depan dengan masih berwajah bantal, alias terlihat dengan jelas baru bangun tidur. Di belakangnya diikuti Avanti.
"Pak Bu dan Avanti, kami pamit terimakasih banyak atas segala bantuannya dan mohon maaf bila kami punya kesalahan" ucap Bram mewakili teman temannya
"Sama sama mas mas kami juga minta maaf bila ada salah dan kurangnya, terima kasih banyak, selama jalan" ucap pak Dukuh
"Meskipun sudah selesai KKN nya jangan lupa pada kami, silahkan main main lagi ke sini" sahut bu Dukuh
Mereka semua lalu berjabatan tangan, lalu keluar rumah untuk melepas kepergian peserta KKN.
Bram memboncengkan salah satu temennya yang nebeng sampai ke jalan kota. Motor melaju selama di jalan perdukuhan warga yang melihatnya melambai lambaikan tangan, dan di balas lambaian tangan oleh teman Bram yang membonceng.
Setelah sampai di jalan kota, Bram menurunkan temannya yang katanya rumahnya di dekat jalan tersebut. Bram lalu melajukan motornya seorang diri dengan kecepatan tinggi menuju ke kostnya.
Beberapa menit kemudian motor sudah memasuki halaman rumah pak Sugeng, Bram langsung memarkir motornya di depan kamarnya. Setelah memasuki kamar dan menaruh tas nya Bram berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di luar rumah pak Sugeng. Kamar mandi yang dijanjikan akan dibuat oleh pak Sugeng sudah jadi.
Setelah mandi Bram memberi kabar pada Nindya kalau sudah berada di kost. Tidak lama kemudian Nindya datang.
"Mas, sudah makan?" tanya Nindya saat berada di depan pintu
"Sudah, tadi mampir warung sama teman " jawab Bram
__ADS_1
"Temen nya cewek apa cowok?" tanya Nindya yang sudah duduk di kursi teras
"Maumu apa?" jawab Bram yang balik bertanya sambil tertawa
"Ihhh" ucap Nindya sambil menepuk paha Bram
"Ninnnn" ucap Bram
"Hmmm" jawab Nindya
"Badanku pegel nih, pijitin donk" ucap Nindya
"Ga bisa, panggil tukang pijit aja, aku tanya Bu Sugeng apa ada tukang pijit di sini" ucap Nindya
"Katanya mau week end berdua di kost malah minta pijit" ucap Nindya kemudian
"Ya week end nya pijitan ha..ha..." jawab Bram sambil tertawa
"Aku ajari aku tunjukkan di mana yang harus di pijit, aku diajari pak Man. Kalau tukang pijit kadang malah ga sesuai dengan ilmu ku malah sebel jadinya" ucap Bram selanjutnya
"Ga enak mas, sama bu Sugeng" ucap Nindya
"Kamu ijin sana ke Bu Sugeng mau mijit aku" ucap Bram
"Malu, mas Bram yang ijin sana" ucap Nindya menyuruh Bram
Tidak lama kemudian Bram sudah kembali dengan senyum di bibirnya.
"Gimana mas?" tanya Nindya menatap Bram.
"Boleh, tapi pintu dan jendela harus di buka lebar lebar" ucap Bram sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya. Nindya masih duduk di kursi teras.
"Besuk aku juga disuruh ngajari mijit ke pak Sugeng" ucap Bram kemudian sambil membuka lebar jendela kamarnya
"Ayo masuk" ucap Bram kepada Nindya. Nindya lalu terlihat bangkit berdiri dan memasuki kamar Bram. Saat memasuki kamar Bram, Nindya masih merasa kikuk, dia hanya berdiri mematung.
Sedangkan Bram terlihat sudah mulai merebahkan diri di kasur. Kemudian Bram tidur tengkurap. Dilihatnya Nindya masih berdiri mematung, kemudian Bram menengokkan kepalanya ke arah Nindya.
"Aku belum belajar pijit jarak jauh Nin" ucap Bram saat melihat Nindya masih berdiri
"Sini, tenang saja aku ga akan ngapa ngapain kamu" ucap Bram kemudian. Terlihat kemudian Nindya mendekat ke Bram dan duduk di tepi kasur.
"Nih, pijit bagian punggungku yang sebelah sini" ucap Bram sambil menunjuk titik punggung yang harus di pijit. Dan Nindya menurut lalu menekan punggung Bram dengan jari jari nya.
"Agak kuat Nin" ucap Bram
"Segini" ucap Nindya sambil memberi tekanan lebih kuat
"Ya...kuat dikit dan ke kanan dikit" ucap Bram lagi
__ADS_1
"Kuat lagi Nin" pinta Bram
"Ihhhhh sudah kuat nih" ucap Nindya yang kemudian tidak memijit tapi malah memukul mukul punggung Bram, dan Bram tertawa
"Keras banget sih punggungnya" ucap Nindya gemas masih memukul mukul punggung Bram.
"Ya sudah diinjak injak saja" ucap Bram kemudian
"Nah kalau ini aku dulu waktu kecil biasa nginjak nginjak papah mamah juga kakak kakakku" ucap Nindya lalu bangkit berdiri dan menginjak injak punggung Bram.
"Ehhhmmm .. enak Nin"
"Mantap... bikin merem melek"
Sementara itu pak Sugeng yang baru saja keluar rumah memarkir motornya di dekat kamar Bram, mendengar suara Bram yang merasakan puas keenakan. Pak Sugeng semakin menajamkan pendengarannya.
"Ehhhmmm ... enak bener Nin"
"Pas... mantap"
Kemudian dia pelan pelan berjalan menuju ke warung istrinya.
"Bu.. bu.. bahaya" ucap pak Sugeng setelah memasuki warung. Terlihat Bu Sugeng sedang melayani bebarapa pembeli.
"Ada apa Pak?" tanya Bu Sugeng kuatir
"Kamar kost, terdengar suara mesum" ucap pak Sugeng. Dan terlihat Ibu ibu pembeli menajamkan pendengaran dan pandangannya pada pak Sugeng
"Ooo tadi mas Bram sudah ijin mau ngajari mbak Nindya mijitin, dia kecapekan " jawab Bu Sugeng
"Mungkin hanya alasan Bu, siapa tahu pijit plus plus apalagi lama tidak ketemu" ucap salah satu pembeli
"Iya kita intip aja coba" jawab yang lain
"Pintu sama jendela saya suruh buka lebar lebar" jawab Bu Sugeng
"Belum menjamin, ayo kita intip" ucap salah satu pembeli lalu berjalan menuju ke kamar kost Bram. Mereka semua berjalan mengendap endap. Termasuk pak Sugeng juga ikut penasaran. Kecuali bu Sugeng masih setia menjaga warung.
"Sandalmu yang cethok cethok itu dilepas" ucap salah satu ibu kepada seorang ibu yang pakai sendal berbunyi cethok cethok, dia lalu nurut melepas sandalnya.
Tidak berapa lama mereka sampai di samping pintu kamar Bram, lalu mengintip di balik pintu yang terbuka lebar. Nindya yang nginjak nginjak Bram dengan menghadap dinding tidak tahu kalau di pinggir pintu ada beberapa kepala berurutan dari bawah hingga atas pinggir pintu.
Sedangkan pak Sugeng setelah melihat anak kost nya tertidur dengan diinjak injak Nindya lalu meninggalkan tempat tersebut dan berjalan masuk ke rumahnya.
Namun tiba tiba ada suara teriakan
"Semut. semut... semut geni semut geni (semut api yang panas gatal)" ibu ibu tersebut langsung bubar karena mendapat serangan semut geni. Sedangkan Nindya yang masih menginjak injak Bram langsung menghentikan kegiatan dan menoleh ke arah pintu dan betapa kagetnya dilihatnya ibu ibu gedruk gedruk (menghentak hentakan kaki dengan keras hingga tubuh bergetar) dan mengibas ngibaskan tangan mengusir semut geni dari tubuh mereka
Sedangkan Bram tetap tertidur dengar nyenyaknya.
__ADS_1