Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
143. Berharap


__ADS_3

Sementara itu di kost Nindya, keluarga Mahendra sudah bersiap diri akan menuju ke bandara. Nindya dan orang tuanya akan pulang, sedangkan Tedy akan kembali ke Jakarta.


“Mah kita sudah siap, aku pesankan taxi on line ya..” ucap Nindya yang mengerti kalau Bram tidak bisa mengantar karena tidak boleh bertemu.


“Tunggu sebentar” jawab mamah Indah


Tidak lama kemudian muncul sosok Lilian.


“Nin aku ikut ngantar ke bandara tidak?” tanya Lilian


“Tidak usah Li, kasihan nanti kamu pulang sendirian. Kamu ngantar sampai di halaman saja he..he..” Jawab Nindya


Namun tiba tiba dada Nindya berdegup kencang karena mendengar suara mobil terparkir di depan rumah ibu kost.


“Kok seperti ada suara mobil berhenti di depan, kayak suara mobil yang pernah dibawa mas Bram" ucap Nindya lalu dia berjalan menuju ke halaman untuk melihat mobil siapa


“Halu kamu Nin...” teriak Lilian


“Bener Li, mobil keluarga Bharata “ ucap Nindya sambil menoleh ke arah Lilian.


“Tapi tidak mungkin mas Bram yang jemput" gumam Nindya dalam hati. Nindya terus berjalan mendekati mobil tersebut. Jantungnya tetap berdegup kencang.


“Aduh lihat mobil keluarga Bharata saja kenaoa jantungku deg degan gini sih" gumam Nindya dalam hati


Dan tiba tiba jendela kaca mobil terbuka pelan pelan.....


“Selamat pagi mbak Nindya, sudah siap belum" sapa pak Sopir keluarga Bharata setelah kaca jendela mobil terbuka sempurna


“Oooh Pak, selamat pagi" jawab Nindya sedikit gugup


“Sudah Pak" jawab Nindya kemudian yang masih berdiri mematung


“Nin, kamu mengharapkan sesuatu yang jelas tidak mungkin kan.” Ucap Lilian yang sudah berdiri di belakang Nindya


“Apa sih Li...” ucap Nindya dengan sedikit malu

__ADS_1


“Aku tahu kamu pasti berharap mas Bram yang jemput He.. he...” ucap Lilian sambil terkekeh


“Kenapa kadang manusia berbuat konyol ya Li, sudah jelas jelas sesuatu yang tidak mungkin masih berharap ha...ha... “ ucap Nindya sambil tertawa kecil lalu berjalan meninggalkan mobil untuk memberi tahu mamah dan papahnya kalau sopir keluarga Bharata sudah menjemput. Lilianpun tertawa sambil mengikut langkah Nindya.


Tidak lama kemudian keluarga Mahendra sudah berjalan menuju ke mobil yang menjemput mereka untuk menuju ke bandara. Sebelumnya bapak Bharata sudah menghubungi papah Mahendra kalau sopir keluarga Bharata akan menjemput mereka.


“Li aku pamit ya, besok kamu datang ke acaraku bersama kak Tedy ya.. beberapa hari sebelum hari H ya...” ucap Nindya sambil memeluk Lilian


“Iya Nin.. “ jawab Lilian sambil membalas pelukan Nindya. Kemudian mereka mengurai pelukannya. Dan selanjutnya orang tua Nindya berpamitan pada Lilian dan terakhir Tedy yang berpamitan pada Lilian. Namun tiba tiba Tedy teringat kunci kamar Nindya.


“Tot, kunci kamarmu dititip Lilian saja, aku kalau ke Yogya bisa nebeng di kamarmu" ucap Tedy sambil tersenyum


“Aku titip di ibu kost Kak" jawab Nindya sambil tersenyum juga


“Biar kalau kak Tedy ke sini tetap masih dalam pantauan ibu kost" ucap Nindya lalu menyusul orang tuanya yang sudah masuk ke dalam mobil. Sedangkan Tedy dan Lilian masing berbincang bincang sejenak sepertinya Tedy belum rela meninggalkan Lilian.


“Ted, ayo masuk, bukannya pesawatmu yang jadwal penerbangannya lebih dahulu" ucap papah Mahendra setelah membuka kaca jendela mobil.


Tedy lalu menyudahi obrolannya dengan Lilian terlihat dia menepuk nepuk pundak Lilian dan setelahnya Tedy melangkah memasuki mobil. Semua penumpang mobil melambaikan tangannya buat Lilian, sampai tidak terlihat sosok Lilian baru mereka menurunkan lambaian tangannya. Dan mobil terus melaju menuju ke bandara.


“Sudah Mah, tadi mas Bram balas pesannya kayak cerpen he...he...” Jawab Nindya


“Nanti aku pamit lagi kalau mau masuk pesawat saja" ucap Nindya kemudian


“Mah, mas Bram enak saat dipingit dia punya pekerjaan jadi punya kesibukan ga mikir rindu terus. Lha aku cuma di rumah saja ga ada kesibukan, apa tidak malah stres nanti aku Mah" ucap Nindya


“Kamu nanti acaranya merawat diri juga latihan jadi istri terus juga latihan jadi ibu" ucap mamah Indah serius


“Latihan jadi ibu?” tanya Nindya dan Tedy secara bersamaan


“Iya kakakmu Alvin akan datang lebih awal dia bawa istri dan anaknya" jawab mamah Indah


“Bali akan datang Mah?” tanya Nindya dengan mata berbinar sebab keponakannya yang berwajah bule nan menggemaskan akan datang


“Iya nanti kamu di rumah ditemani Bali dan latihan jadi Ibu ngurus si Bali cucuku yang berdarah bule itu" jawab mamah Indah sambil tersenyum membayangkan senangnya bisa bertemu cucunya.

__ADS_1


“Bener Tot kamu kan tidak punya adik belum terbiasa ngurus anak kecil besok kamu latihan ngurus Bali biar besok kalau sudah punya anak tidak kaget" saut Tedy


“Tapi entahlah kalau kamu di masa pingitan malah stres dengan ulah Bali ha...ha....” ucap Tedy kemudian sambil tertawa


“Mah gimana dong kalau aku malah stres katanya saat dipingit biar ga stres" protes Nindya


“Tenang saja kan bukan hanya kamu yang ngurus Bali, Lik Marni juga akan datang ke rumah" jawab mamah Indah


“Yes lah kalau ada Lik Marni pasti semua beres" ucap Nindya sambil tersenyum senang.


Mobil terus melaju dan beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di bandara. Setelah turun dan mengucapkan terimakasih pada pak Sopir, mereka langsung menuju ke pintu keberangkatan dan setelahnya Tedy memisahkan diri karena tempat cek in dia yang berbeda.


Nindya dan orang tuanya pun berjalan menuju ke tempat cek in dan setelahnya langsung menuju ke ruang tunggu.


Terlihat Nindya duduk tenang cenderung serius mengetik ngetik hapenya. Dia mengirim pesan teks buat Bram, tidak mau kalah dengan Bram yang mengirim pesan teks panjang lebar bagai cerpen, Nindya pun menulis pesan teks begitu panjangnya bagai cerpen masih ditulis di bawahnya tulisan bersambung


“Nin.... “ ucap mamah Indah yang duduk di sampingnya


“Kamu sedang apa serius banget ngetik ngetik hape?” tanya mamah Indah sambil melirik hape Nindya


“Nulis pesan teks buat mas Bram Mah" jawab Nindya


“Kok sepertinya panjang banget, kayak buat makalah saja" ucap mamah Indah.


“Bukan makalah Mah, tapi cerita bersambung. Udah nanti disambung lagi kalau sudah sampai" ucap Nindya yang sudah mengirim pesan teks nya pada Bram


Dan beberapa saat kemudian hape Nindya bergetar tampak ada pesan teks masuk. Nindya lalu mengecek hapenya tampak Bram mengirim pesan.


“Kok cepat banget balasnya" gumam Nindya lalu dia membuka pesan teks dari Bram.


“Aku baca nanti ya Nin, itu bapak Bharata di kantor melirik padaku. Hati hati ya... “


Nindya lalu mematikan hapenya dan setelahnya menyimpan hapenya ke dalam tas, tampak wajahnya sedikit kecewa.


“Apa malah bapak Bharata yang membaca pesanku, ah tapi tidak mungkin beliau ada waktu buat baca cerita bersambungku" gumam Nindya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2