
“Terimakakasih, Bram ... Li... Tante senang kalau kalian mau datang ke tempat Tante dan Om. Maafin Tante ya... “ ucap Mamahnya Adit sambil menatap Bram dan Lilian secara bergantian
“Iya Tan, kami maafkan” jawab Bram, dan Lilian pun menimpali dengan anggukan kepala.
Tangan papahnya Adit masih memegang erat tangan Bram dan Lilian. matanya masih terpejam namun kedua ujung bibirnya terlihat ada sedikit tarikan senyuman.
Namun tiba tiba pintu kamar rawat terbuka dan muncul seorang dokter dan seorang perawat yang tadi menjaga papahnya Adit.
“Maaf Bu, saatnya periksa pasien" ucap perawat. Lalu terlihat Bram dan Lilian mohon diri untuk keluar agar tidak mengganggu, sedangkan Mamahnya Adit tetap berada di dalam kamar rawat.
“Bagaimana Dok?” tanya Mamahnya Adit saat dokter sudah selesai memeriksa
“Perkembangan detak jantung bagus Bu, terus beri semangat ya... kehadiran keluarga dan kerabat sangat membantu perkembangan kesehatan dan semangat hidupnya” jawab Dokter sambil memberikan kartu perkembangan pasien kepada perawat.
“Sus, nanti kalau mata pasien sudah bisa terbuka bisa diberi asupan nutrisi lewat oral ya" ucap dokter kepada perawat. Terlihat perawat menganggukkan kepalanya.
Tampak setelahnya, Mamahnya Adit masih bertanya tanya pada dokter seputar perkembangan kesehatan suaminya dan minta saran saran dari dokter.
Sementara itu di luar kamar rawat Bram dan rombongan duduk di bangku yang berada di depan kamar tersebut. Terlihat Bram sibuk dengan hapenya untuk urusan kerjanya. Sedangkan Mak terlihat ngobrol dengan suara pelan pelan dengan pak Sopir.
“Nin, kenapa harus begini aku akan berusaha melupakan Adit kenapa malah harus masuk dalam lingkaran masalah orang tuanya Adit" gumam Lilian yang sekarang sudah duduk di samping Nindya.
“Li... kan aku sudah bilang kamu tidak harus melupakan “ jawab Nindya
“Kalau melupakan itu susah Li, karena semua memori sudah masuk ke dalam otak kita, apalagi kalau kapasitas memori otaknya besar data datai akan tetap tersimpan he...he... Maaf bercanda Li, agar kamu ga nervous gini" ucap Nindya sambil mengusap usap pundak sahabatnya.
“Tapi kamu ikhlaskan kepergian Adit, tidak apa apa kamu membantu orang tua Adit, kamu malah juga bisa belajar bersama untuk mengiklaskan kepergian Adit" ucap Nindya
“Iya Li, kasihan orang tua Adit, kalau aku sedang di Yogya aku temani kamu kalau kamu mau berkunjung ke orang tua Adit" ucap Tedy yang duduk tidak jauh dari mereka berdua.
“Kalau boleh sih.. aku kan hanya pacar pura pura" ucap Tedy selanjutnya sambil melirik ke arah Lilian dan tampak Lilian tersenyum malu.
“Kakak setiap week end ke Yogya ya...” ucap Nindya sambil tersenyum menatap kakaknya. Tedy yang ditatap hanya bisa menganggukkan kepalanya tetapi dalam hati bergumam
“Pacaran berat diongkos nich tapi siapa tahu dapat rejeki nomplok lagi seperti kemarin dapat bonus barang limited edition” gumam Tedy dalam hati.
“Naik kereta api ga apa apa Kak, kalau perlu kita patungan buat ongkos kakak he.. he...” ucap Nindya sambil tertawa kecil
“Kamu tahu aja aku sedang memikirkan apa" jawab Tedy
Dan tiba tiba pintu kamar rawat terbuka selanjutnya dokter dan perawat keluar dari kamar rawat papahnya Adit, semua menoleh ke arah sosok dokter dan perawat sambil menyapa dengan memberikan senyuman.
“Tan boleh saya masuk menjenguk papahnya Adit?” tanya Nindya saat melihat sosok Mamahnya Adit di depan pintu kamar.
“Boleh boleh ayok masuk" jawab Mamahnya Adit
“Ayo Kak, mas Bram sedang sibuk itu" ucap Nindya sambil menarik tangan kakaknya lalu berjalan masuk ke dalam kamar rawat.
__ADS_1
“Tan, boleh bertiga?” tanya Lilian sambil bangkit berdiri terlihat Mamahnya Adit menganggukkan kepala sambil tersenyum menatap Lilian
“Yeeee yang sudah ga bisa jauh jauh dari pacar" goda Nindya sambil menoleh ke arah Lilian, tampak Lilian mengulurkan tangannya lalu mendorong pelan punggung Nindya
Terlihat papahnya Adit masih terbaring dengan mata terpejam tetapi wajahnya sekarang terlihat ada seulas senyuman mungkin mendengar suara Nindya yang bernada ceria, energi positif itu menjalar lewat aliran udara.
“Pah lihat ada calon istrinya Bram dia pengen kenalan dengan papah, juga sama kakaknya, ganteng pah anaknya kayak anak kita, ayo Pah dilihat” ucap Mamahnya Adit yang sekarang sudah duduk di kursi dekat pembaringan suaminya sambil mengusap usap pundaknya.
“Om saya Nindya dan dia kak Tedy" ucap Nindya sambil memegang tangan papahnya Adit, Terlihat tangan papahnya Adit merespon tangan Nindya dan memegang erat tangan Nindya kemudian terlihat matanya mulai sedikit terbuka.
“Nindya... Tedy... “ ucapnya pelan sambil matanya terbuka berusaha untuk melihat Nindya dan Tedy. Tampak Nindya dan Tedy tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tangan Tedy kemudian juga terulur untuk memegang tangan papahnya Adit
“Cantik dan ganteng kan pah, dan lihat itu Lilian juga tambah cantik sudah menjadi gadis dewasa" ucap mamahnya Adit yang terlihat sangat bahagia karena suaminya sudah bisa membukakan matanya. Kemudian terlihat dia menghubungi perawat untuk menyampaikan perkembangan positif kesehatan suaminya.
Terlihat gerakan bola mata papahnya Adit bergerak ke samping untuk melihat sosok Lilian, kemudian terlihat bibirnya tersenyum.
“Mana Bram, aku ingin melihat wajahnya sekarang seperti apa?” ucapnya kemudian dengan suara yang pelan dan sedikit terbata bata.
“Ooo iya Om, saya panggilkan sekarang wajahnya ganteng maksimal Om" ucap Nindya sambil membalikkan badannya untuk keluar memanggil mas Bram nya, namun Tedy sudah sempat memberikan jitakan kecil di kepalanya. Dan Nindya hanya terkekeh sambil terus berjalan
Sedangkan ekspresi wajah papahnya Tedy terlihat senyuman bibirnya semakin melebar dan matanya juga semakin terbuka lebar dan telah terbit seberkas sinar di pancaran bola matanya.
“Terimakasih ya... karena kalian semua kondisi papahnya Adit membaik" ucap Mamahnya Adit sambil mengusap air matanya yang meleleh karena bahagia dan terharu.
Dan tidak lama kemudian Bram dan Nindya sudah ikut bergabung di sekitar tempat tidur papahnya Adit.
“Om cepat sehat ya... nanti kita olah raga bersama lagi, tubuh Bram sekarang sudah tambah kekar Om" ucap Bram sambil tersenyum dan mengangkat tangannya untuk memamerkan otot biceps nya
Tidak lama kemudian perawat datang dengan membawa nampan berisi segelas susu.
“Maaf ya... “ ucap perawat sambil mendekat ke tempat pembaringan pasien. Nindya dan Bram kemudian terlihat mundur untuk memberikan tempat pada perawat.
“Pak, bisa minum susu ya... agar cepet sehat” ucap perawat tersebut sambil menaruh gelas susu di meja pasien lalu tangannya sibuk mengatur tombol untuk menyetel pembaringan pasien agar punggung pasien sedikit tinggi dan bisa minum dengan nyaman. Setelah setelan pembaringan dirasa cukup, perawat memberikan gelas susu dengan sedotan. Dengan terampilnya perawat tersebut membantu papahnya Adit untuk meminum susu lewat sedotan.
“Bagus Pak” ucap perawat karena melihat papahnya Adit bisa minum dengan baik.
Namun tiba tiba hape Lilian berdering semua mata menatap ke arah Lilian.
“Maaf” ucap Lilian lalu dia buru buru ke luar kamar rawat sambil cepat cepat mengambil hapenya. Terlihat ada nama Rangga muncul di layar hapenya
“Ada apa sih itu anak" gumam Lilian sambil menggeser tombol hijau
“Mbak Li....” suara Rangga di balik telpon Lilian
“Apa sih Nga, jangan keras keras aku sedang di rumah sakit" ucap Lilian dengan suara keras.
“Siapa yang sakit, kalian tidak apa apa kan?” tanya Rangga dengan nada suara kuatir.
__ADS_1
“Hanya menjenguk kerabat" jawab Lilian singkat agar Rangga tidak bertanya lebih jauh.
“Mbak gini, ini tadi nenek datang lagi membawa oleh oleh buat calon cucu mantunya" ucap Rangga
“Aku sudah bilang mereka sudah pulang, beliau maksa aku harus ngantar, katanya meskipun sudah ke jakarta aku harus mengantar ke jakarta" ucap Rangga kemudian
“Haduh Nenek, oleh oleh nya apa sih?” tanya Lilian
“Slondok Mbak, aku sudah bilang kalau ibu sudah beli di pasar tadi, tapi kata Nenek beda slondok yang dibeli nenek, sekarung lagi ini barangnya" ucap Rangga lagi
Terlihat Lilian tangan kirinya mengusap kasar wajahnya sedang tangan kanan masih memegang hape yang sedikit menempel di telinga.
“Gimana ini mbak, aku sudah bilang nenek dikirim saja katanya ga boleh, katanya boleh dikirim paket asal dengan aku yang dipaketin" ucap Rangga selanjutnya
“Ya sudah kamu ke sini ke rumah sakit ini, aku nanti bilang ke mas Bram untuk nunggu kamu , tapi cepat ya...” jawab Lilian
“Beres mbak aku secepat kilat akan menyusul ke rumah sakit dari pada terbebani slondok sekarung, apalagi harus dipaketin dengan slondok” ucap Rangga lalu menutup sambungan telponnya.
Lilian lalu memasukan hapenya lagi ke dalam tasnya, kemudian dia kembali masuk ke dalam kamar rawat papahnya Adit. Terlihat perawat sudah tidak ada, yang tampak mereka sedang berbincang bincang sedangkan papahnya Adit mendengarkan perbincangan mereka sambil bibir tampak tersenyum.
“Nanti kalau kalian menikah kabari kami ya" ucap Mamahnya Adit. Tampak Bram dan Nindya mengiyakan dengan penuh semangat.
“Mas Bram, Rangga mau ke sini ngantar oleh oleh buat kak Tedy dari Nenek, kita tunggu ya...” ucap Lilian pelan di samping Bram
“Iya” jawab Bram namun lalu melirik ke arah Tedy, lirikan yang sulit diartikan, mungkin sedang memikirkan Tedy menjadi calon cucu mantu kesayangan. Mereka semua kemudian melanjutkan berbincang bincang, dan tampak papahnya Adit lama lama memejamkan matanya karena tertidur pengaruh dari obat yang mengalir lewat infus.
Dan tidak lama kemudian pintu terdengar suara ketukan Mamahnya Adit melangkahkan kaki untuk membukakan pintu, setelah pintu terbuka tampak sosok Rangga di depan pintu.
“Maaf mencari mbak Lilian" ucap Rangga dengan sopan meskipun kaget karena yang muncul Mamahnya Adit. Kemudian terlihat Mamahnya Adit memanggil Lilian. Lilian lalu berjalan menemui Rangga yang menunggu di luar kamar.
“Mbak, oleh olehnya masih kutaruh di motor nanti saja dimasukkan ke mobil jadi aku ga ngotong gotong” ucap Rangga dan terlihat Lilian mengiyakan, bagaimanapun dia merasakan kasihan pada adiknya yang bersusah payah menuruti keinginan neneknya.
“Siapa mbak yang sakit?” tanya Rangga.
“Papahnya Adit" jawab Lilian pelan
“Kok sampai bisa mbak Lilian di sini?” tanya Rangga lagi dengan suara pelan, kemudian Lilian menjelaskan dan tampaknya Rangga bisa menerima penjelasan Lilian.
Namun tiba tiba pintu terbuka muncul sosok Bram dari balik pintu.
“Li, kita pamit ke Mamahnya Adit yok, aku harus segera kerja, kak Tedy juga harus segera ke bandara, katanya Nindya dan kamu juga ada jadwal pembekalan KKN nanti" ucap Bram
“Iya Mas" jawab Lilian
“Tapi masalahnya papahnya Adit masih tidur, kasihan nanti kalau terbangun sudah sepi lagi, gimana kalau Rangga nunggu di sini" ucap Bram sambil menatap Rangga.
“Tolong ya Nga, mamahnya Adit sudah setuju dan senang" pinta Bram lagi
__ADS_1
“Iya... dari pada aku dipaket sama slondok, mending menghibur orang sakit" jawab Rangga