Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
146. Jamu malam hari


__ADS_3

Sementara itu sampai malam hari Nindya lupa dengan hapenya. Saat Bali keponakannya sudah tidur dia baru teringat Bram dan hapenya.


“Haduh hapeku dimana ya?” gumam nya dalam hati sambil mengecek tempat tempat yang biasa dia naruh hape di kamarnya. Di meja, di tas, di kasur, di bawah bantal di cari cari hape nya. Sampai sampai Bali yang sudah tidur diguling gulingkan kiri kanan untuk melihat jangan jangan hapenya ditiduri Bali.


“Ugh... ugh.. “ suara Bali yang merasa terganggu tidurnya


“Cari apa sih Nin?” tanya mamah Indah yang ngeloni Bali karena bisanya dekati kalau Bali sudah tidur,maka beliau tidak mau Bali terbangun karena pasti akan diusir oleh cucunya.


“Hape Mah" jawab Nindya


“Suruh miss call kakak iparmu itu hapeku di kamar, aku masih ingin meluk meluk Bali di sini" ucap mamah Indah. Terlihat Victoria yang sedang mengusap usap hape sambil tiduran menemani mertua dan anaknya lalu melakukan panggilan di nomor hape Nindya. Namun tidak ada suara apapun di kamar.


“Kamu keluar kamar Nin, aku panggil terus, siapa tahu kamu lupa naruh di teras" ucap Victoria.


Nindya lalu berjalan meninggalkan kamarnya. Namun saat keluar kamar terlihat sosok Lik Marni berjalan cepat sambil membawa Hape yang berdering dering.


“Kok hapeku bisa dibawa Lik Marni?” tanya Nindya lalu menerima hapenya.


“Di dapur hapemu itu" jawab Lik Marni lalu kembali berjalan menuju ke dapur.


Nindya lalu memberi tahu kakak iparnya kalau hape sudah ketemu. Selanjutnya dia terkaget karena banyak pesan teks masuk dari Bram, juga ratusan miss call dari Bram.


Sementara itu Bram yang berada di rumahnya jelas gelisah dalam level tingkat dewa.


“Andai tidak dalam masa pingitan, aku sudah terbang ke rumahmu Nin" gumam Bram lalu dia keluar dari kamarnya tujuannya adalah mencari bapaknya. Saat Bram berjalan keluar dari kamar menuju ke kamar bapaknya, dilihatnya bapak Bharata sedang duduk santai di ruang keluarga bersama ibu Murti.


“Pak, aku mau ke bandara sekarang mau ke rumah Nindya” ucap Bram sambil menatap bapaknya dengan ekspresi wajah antara kuatir dan gelisah


“Bram, duduk dulu baru berbicara” ucap Ibu Murti sambil menatap Bram yang berdiri di dekat mereka


“Maaf Bu" ucap Bram lalu duduk di sofa di ruang keluarga tersebut


“Mau apa kamu, kamu dan Nindya itu masih dipingit, ya silahkan kalau mau ke rumah Nindya sekarang, tapi rencana pernikahan dibatalkan” ucap Bapak Bharata dengan santai


“Gimana gimana?” tanya bapak Bharata menggoda


“Pak, tapi Nindya sejak tadi tidak menghubungi aku" ucap Bram


“Iya kata papahnya dia sedang sibuk dengan kehadiran sesorang sehingga lupa sama kamu" ucap Bapak Bharata dengan santai


“Pak, kalau ada orang lain yang membuat Nindya lupa pada Bram kenapa bapak tenang tenang saja?” Tanya Bram


“Ya karena kehadiran orang itu bisa membuat Nindya tenang tidak gelisah mikirin kamu terus" jawab bapak Bharata


“Tapi gantian saya yang tidak tenang Pak’ ucap Bram

__ADS_1


“Bram kamu tenangkan hati dan pikiranmu, percayakan pada kami orang tua menjaga Nindya" ucap Ibu Murti


“Tapi....” ucap Bram


“Sudah sana kamu masuk kamar, hape mu di kamar kan?” ucap Bapak Bharata


“Nindya sudah kirim cerita bersambung nih...” ucap Bapak Bharata lagi


Bram lalu terlihat ijin pada ibu Murti dan bapak Bharata selanjutnya bangkit berdiri, dan tampak berjalan dengan cepat menuju ke kamarnya. Melihat tingkah anaknya bapak Bharata dan ibu Murti tersenyum sambil geleng geleng kepala.


Sesampai di kamar Bram langsung meraih hapenya yang berada di meja, selanjutnya membuka pesan teks dari Nindya. Benar pesannya panjang sekali bagaikan cerita bersambung. Nindya mengawali pesannya dengan permohonan maaf, terus bertanya kenapa miss call apa sudah boleh bicara lewat telpon, kemudian bercerita tentang kegiatannya tadi seharian dan tidak lupa diakhiri dengan ungkapan rasa cinta dan rindunya.


Setelah membaca pesan bersambung dari Nindya kemudian Bram terlihat mengetik ngetik pesan


“Jadi ada seseorang yang membuat kamu melupakan aku"


Ting pesan terkirim.. dan tidak lama kemudian ada pesan masuk dari Nindya


“Bukan melupakan mas Bram sayang... cuma mengurangi aku terlalu larut dalam kerinduan“


“Siapa orang itu, Bison?” tanya Bram.


“Bukan, aku tidak boleh keluar menemui teman teman, kata mamah nanti aku bisa dibawa lari Bison, terus nanti ada pengantin pengganti buat mas Bram, aku ogah ya aku ga rela jika ada pengantin pengganti buat mas Bram.”


“Memangnya aku juga mau ada pengantin pengganti, aku akan mencari kamu, biar saja tamu tamu tetap datang menikmati jamuan. Sudah tidak usah ikut berhalu kayak cerita novel. Sekarang siapa orang yang sudah membuat kamu melupakan aku?”


Ting pesan terkirim.


“Bali, keponakanku, anak kak Alvin" pesan dari Nindya


“Ga percaya, kirim foto Bali" balasan pesan Bram


“Kan ga boleh kirim foto, mas Bram ijin bapak Bharata dulu"


Setelah membaca balasan Nindya. Bram lalu bangkit berdiri dan keluar ke kamar untuk menemui Bapak Bharata. Terlihat Bapak Bharata masih duduk di sofa rruang keluarga.


“Pak, Nindya boleh kirim foto keponakannya?” tanya Bram setelah duduk di dekat bapak Bharata


“Tidak boleh, nih lihat foto keponakan Nindya" ucap Bapak Bharata sambil memperlihat foto Bali digendong Nindya di layar hape bapak Bharata


“Pak kirim ke aku dong" pinta Bram


“Besok kalau masa pingitan sudah selesai he.. he.. “ jawab bapak Bharata sambil tersenyum.


“Pelit" gumam Bram lalu dia bangkit berdiri. Dan setelahnya dia kembali berjalan menuju ke kamarnya. Kemudian kembali chatting dengan Nindya, dan Nindya kembali bercerita tentang keponakannya Bali, tidak lupa dia bercerita tentang milk clip. Bram terlihat tersenyum.

__ADS_1


“Ah Bali saja tertarik dengan milk nya Nindya daripada punya mommy nya, sialan itu anak untung dilarang oleh Nindya. Aku calon investornya saja belum menjamah” gumam Bram dalam hati.


Namun lamunannya buyar karena Nindya mengirim pesan lagi. Namun sekarang pesan penutup karena Nindya sudah ngantuk dan akan tidur. Bram pun akhirnya mengirim balasan selamat tidur mesranya.


Setelah mengirim pesan teks Bram lalu menaruh hapenya di meja. Sekarang pikiran dia kembali kepada milk clip cerita Nindya. Pikiran Bram berlari pada saat mengendong Nindya saat pingsan dulu.


“Dulu tidak mikir ke milk Nindya kenapa sekarang aku malah berpikir ke situ sih.. ini gara gara anak bule itu apa pengaruh jamu” gumam Bram dalam hati.


Dia lalu teringat jamu, tadi setelah makan malam belum minum jamu. Bram lalu berjalan meninggalkan kamar tujuan nya mencari Mak.


Saat melewati ruang keluarga terlihat bapak Bharata dan ibu Murti masih duduk di sofa. Terlihat mereka berdua sedikit kaget karena Bram berjalan tergesa gesa.


“Ada apa lagi itu anak?” tanya bapak Bharata pada ibu Murti. Terlihat ibu Murti hanya menggelengkan kepalanya dengan anggun.


Sedangkan Bram masih mencari cari keberadaan Mak. Di ruang makan sudah sepi, di dapur juga sudah sepi. Bram lalu berjalan menuju ke kamar Mak. Bram mengetuk ngetuk pintu kamar Mak.


“Mak.. Mak..., sudah tidur apa?” tanya Bram sambil mengetuk ngetuk pintu. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka


“Ada apa Mas?” tanya Mak setelah pintu terbuka tampak wajah Mak sudah terlihat mengantuk


“Mak, aku belum minum jamu" ucap Bram


“Lah kan memang cuma pagi dan siang Mas. Besok kalau sudah menikah baru malam juga minum jamu, kalau sekarang nanti mas Bram yang repot" jawab Mak


“Repot gimana?” tanya Bram


“Mas Bram jadi bersemangat nanti harus kerja atau olah raga Mas, bisa sampai delapan jam Mas Bram kuat bekerja kan jadi ga tidur nanti mas Bram" jawab Mak


“Ga percaya" ucap Bram


“Ayo Mak, biar staminaku kuat besok kalau nikahan” ucap Bram lagi sambil menarik tangan Mak


“Bocah kok ngeyel" ucap Mak, namun mau tak mau mengikuti Bram dan menuruti keinginan Bram.


Mak dan Bram kemudian berjalan menuju ke dapur. Bram dengan tekun membantu Mak membuat jamu untuk dirinya. Dan setelah jadi dia langsung meminum dan tersenyum senang. Apalagi saat teringat milk clip. Senyumnya semakin melebar.


“Mas Bram" ucap Mak sambil menatap Bram


“Apa tadi keliru jamu anti stres ya kok Mas Bram tampak bahagja” ucap Mak sambil menatap kuatir Bram


“Tidak Mak, aku bahagia ingat Nindya kok" jawab Bram. Namun tidak lama kemudian terlihat Bram tampak gelisah


“Mak kok tubuhku terasa hangat ya?” tanya Bram


“Ooo berarti bener jamunya Mas, sekarang mas Bram bisa kerja sampai pagi, kalau olah raga ya sampai tengah malam . Tinggal pilih mana” ucap Mak lalu berjalan meninggalkan Bram

__ADS_1


__ADS_2