
Mereka berempat sudah memasuki kereta api. Seperti rencana yang dibuat Nindya dan Bram yang akan menyandingkan Tedy dan Lilian di perjalanan, maka Nindya langsung mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Mak.
"Nin, aku yang duduk dengan Mak dong" pinta Lilian yang masih berdiri di dekat kursi Mak dan Nindya.
"Aku mau minta pijit Mak dulu Li, agak pusing nih mungkin tadi kepagian bangunnya" jawab Nindya berdalih
"Iya mbak Lilian, kasihan ini mbak Nindya ngeluh pusing pusing" ucap Mak yang sudah mulai memijit mijit punggung Nindya. Mau tak mau Lilian duduk di kursi deretan belakang Nindya dan Mak. Nampak Tedy sudah duduk di salah satu kursi.
"Kamu mau yang di dekat jendela apa yang di lorong?" tanya Tedy sambil menatap Lilian yang masih berdiri di dekatnya.
"Pengen nya di dekat jendela tapi nanti mau pindah dekat Mak kalau Mak sudah selesai mijitin Nindya" jawab Lilian
"Ya sudah kamu masuk, duduk di dekat jendela nanti aku dan Mak yang bertukar tempat duduk" ucap Tedy lalu bangkit berdiri memberi jalan pada Lilian. Akhirnya Lilian dan Tedy duduk berdampingan. Sesekali Tedy melirik ke arah Lilian, degupan jantungnya semakin menggelora. Nampak Lilian beberapa kali mencoba melongok ke kursi depannya melihat Mak sudah selesai mijitin Nindya apa belum. Hingga tidak terasa kereta sudah mulai berjalan.
"Nin... Sudah selesai belum Mak yang mijitin?" tanya Lilian sambil kepalanya maju ke depan mendekat ke arah tempat duduk Nindya.
"Belum, kamu santai santai aja di belakang" jawab Nindya sambil tersenyum.
"Kenapa, tidak nyaman apa duduk di sampingku?" tanya Tedy sambil menoleh ke arah Lilian, dan Lilianpun juga menoleh ke arah Tedy.
duk.. duk.. duk... duk... duk... begitu suara detak jantung Tedy saat tatapannya matanya bertemu dengan tatapan mata Lilian.
"Ehmmm...gimana ya Kak bukannya tidak nyaman tapi ....." Belum selesai Lilian menjawab pertanyaan Tedy hape Lilian berbunyi seperti ada nada panggilan. Lilian lalu mengambil tas nya dan mengambil hape yang sedang berdering. Nampak nama kontak Farid muncul di layar hape Lilian. Lilian lalu menggeser tombol hijau.
"Hallo" ucap Lilian mengawali pembicaraan
"Li, kamu pacaran sama kakaknya Nindya ya?" tanya Farid to the point
"Siapa yang bilang?" ucap Lilian ganti bertanya
"Bram" jawab Farid
"Ya sudah tanya sama mas Bram aja" ucap Lilian
"Li.." ucap Farid
__ADS_1
"Sudah kututup ya ini berisik di dalam kereta susah dengar nya, malu teriak teriak bicaranya" ucap Lilian lalu menutup sambungan telponnya. Lilian lalu menaruh kembali hapenya di dalam tas.
"Siapa?" tanya Tedy
"Kepo" jawab Lilian sambil tersenyum
"Kepo tanda perhatian" bisik Tedy di dekat telinga Lilian. Nampak wajah Lilian bersemu merah. Lalu untuk menetralkan suasana hatinya dia melongok untuk melihat Nindya dan Mak. Nampak Nindya dan Mak sudah tertidur pulas.
"Malah sudah tidur semua" gumam Lilian yang didengar oleh Tedy
"Aku tidak tidur kok" ucap Tedy sambil menoleh ke arah Lilian
"Tuh mereka berdua katanya Mak mau duduk di sampingku tapi malah tidur" ucap Lilian sambil mengerucut bibirnya
"Sudah tidak apa apa duduk di sampingku, kalau kamu tidur aku ga akan ngapa ngapain kok, dijamin aman" ucap Tedy sambil tersenyum. Nampak Lilian hanya diam saja, lalu dia mengalihkan pandangan matanya ke arah luar kereta api.
"Kamu juga ambil KKN semester ini?" tanya Tedy mencoba untuk mengajak berbincang bincang dengan Lilian. Nampak Lilian menjawab pertanyaan pertanyaan dari Tedy meskipun hanya menjawab sepotong sepotong setiap pertanyaan Tedy, tapi bagi Tedy sudah lumayan lah bisa duduk berdampingan dan berbincang bincang dengan gebetan.
Hingga lama kelamaan Lilian tertidur, dan lama lama kepalanya menyandar ke pundak Tedy secara otomatis sebab saat bersandar di dinding kereta nampak tidak nyaman secara tidak sadar kepalanya berpindah ke pundak Tedy. Tedy yang terjaga tentu saja bahagia tiada terhingga sampai senyum senyum sendiri.
"Kak Tedy yang naruh kepalaku di sini ya?" tanya Lilian dengan ketus
"Siapa juga yang naruh kepala orang di bahuku, kepala orang datang sendiri" jawab Tedy
"Kok ga kak Tedy bangunkan atau di pindah" ucap Lilian
"Ga tega, kamu nyenyak tidurnya, tadi juga bangun pagi pagi kayak Nindya kan?" tanya Tedy dan Lilian menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian terdiam sibuk dengan pikirannya masing masing. Hingga akhirnya sampailah di stasiun kota tujuan di saat hari sudah tengah malam.
Mereka berempat sudah turun dari kereta api. Nampak wajah Mak masih terkantuk kantuk.
"Masih ngantuk ya Mak?" tanya Nindya pada Mak yang matanya nampak berat membuka
"Iya mbak" jawab Mak dengan suara malas
"Ayo keluar, papah sudah jemput katanya sudah nunggu sejak tadi" ucap Tedy setelah melihat pesan text di hapenya. Mereka berempat akhirnya berjalan menuju ke luar stasiun dan selanjutnya masuk ke mobil papah Mahendra yang sudah siap menjemput mereka. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah keluarga Mahendra. Setelah turun dari mobil mereka semua masuk ke dalam rumah dan nampak mamah Indah menyambut kedatangan mereka. Setelah berbincang bincang sejenak dan mendapat teh hangat dari mamah Indah, selanjutnya mereka melanjutkan tidurnya. Lilian tidur di kamar Nindya, sedangkan Mak tidur dengan lik Marni yang sudah tidur di kamar Alvin.
__ADS_1
Pagi harinya semua bangun dengan kondisi segar. Mereka melakukan kegiatan untuk menyiapkan acara lamaran. Semua terlihat sibuk, menyiapkan tempat, menyiapkan konsumsi juga menyiapkan perlengkapan perlengkapan.
"Nin,.Lilian kok ga ngucapkan terimakasih ke aku?" tanya Tedy di sela sela kesibukan mereka saat tidak ada Lilian di dekatnya.
"Aku belum bilang kalau kalung itu dari Kak Tedy, nanti lihat lihat suasana hati Lilian dulu kak, takutnya malah dia menolak" jawab Nindya
"Tapi dia suka banget sama barangnya tapi entah sama orang yang ngasih suka banget tidak he.. he.." ucap Nindya menggoda, selanjutnya mendapat jeweran di telinganya dari Tedy.
"Lihat aja besok pasti dipakai" ucap Nindya kemudian sambil menepis tangan Tedy
"Aku tadi sudah bilang Mamah, nanti malam biar Lilian tidur sama mamah siapa tahu Lilian bisa curhat sama mamah. Aku cuma dikasih tahu mas Bram kalau Lilian susah move on" ucap Nindya selanjutnya
"Aku harus dekati mamah ya, minta dukungan mamah" gumam Tedy
"Iya... sana tuh ke tempat Mamah bantuin masak masak, Lilian juga sedang di dapur" ucap Nindya sambil sibuk menyiapkan baju baju yang akan dipakai besuk.
"Bukanya pesen catering Nin, kok masih sibuk masak, aku bantu apa?" tanya Tedy yang masih berada di dekat Nindya
"Catering buat acaranya Kak, tapi kan juga perlu masak masak untuk keluarga sendiri" jawab Nindya
"Bantu doa juga ga apa apa ..he..... he.... " ucap Nindya selanjutnya.
"Bantu doa di dapur malah menuh menuhi dapur diomeli mamah aku" jawab Tedy
"Kayaknya mamah buat salad buah andalannya dech.. kakak bantu potong potong buah sana... sana.. Tapi jangan dimakan buahnya" ucap Nindya. Tedy lalu nampak berjalan menuju ke dapur.
Sesampai di dapur nampak mamah Indah, Mak dan Lilian sedang sibuk dengan bahan bahan dan alat alat masak memasak. Dapur yang kecil nampak semakin sempit dengan adanya tiga orang di dapur.
"Mah apa ada yang bisa aku bantuin?" tanya Tedy sambil melirik ke arah Lilian
"Mau bantuin apa kamu di dapur malah ngrepoti, dapur sudah penuh, bantu Lik Marni dan papah saja sana" ucap Mamah Indah
"Sudah selesai bantuin papah dan lik Marni" jawab Tedy
"Kata Nindya bisa bantuin potong potong buah" ucap Tedy pantang menyerah
__ADS_1
"Ooo iya... mamah lupa, kamu dan Lilian kupas kupas buah dan potong potong sana, kerja di ruang makan saja penuh kalau di dapur samua" ucap Mamah Indah selanjutnya. Dan Tedy pun nampak bahagia dan semangat empat lima untuk membantu mamah Indah apalagi bekerja berdua dengan Lilian.