
Setelah selesai menghubungi Nindya, Bram masih berada balkon menatap puncak Merapi dari kejauhan.
Sementara itu bapak Bharata sudah memasuki ruang di lantai tiga, beliau melihat Sisi sudah di ruangan tersebut nampak dia sedang memperhatikan Bram yang sedang berdiri di balkon.
"Si" ucap pak Bharata mengagetkan Sisi, dia lalu menoleh pada sumber suara.
"Kalau sudah menyiapkan ruangan di sini, kamu turun nanti menyambut dan mengantar Tuan Andrew ke sini" ucap Bapak Bharata kemudian. Nampak Sisi melangkah meninggalkan ruangan setelah mengiyakan perintah bapak Bharata.
Bapak Bharata lalu berjalan menuju ke tempat Bram berada, karena memang ruangan untuk pertemuan berdinding kaca tebal agar bisa menatap view bagus meskipun di dalam ruangan.
"Kamu ternyata di sini" ucap Bapak Bharata di depan pintu antar ruangan dengan balkon di mana Bram berada
"Iya Pak melihat puncak Merapi kangen ke sana he ..He.. " jawab Bram sambil menoleh dan terkekeh
"Kamu sudah puas mendaki gunung saat muda, sekarang mendaki karier, kamu itu enak bapak dulu mengawali dari bawah" ucap bapak Bharata kemudian
"Ayo masuk" ajak pak Bharata lalu pak Bharata masuk ke dalam ruangan dan duduk di salah satu kursi. Bram lalu menuruti ajakan bapaknya masuk ke dalam ruang pertemuan dan tidak lupa menutup pintunya lagi.
Bram melihat di meja sudah ada dokumen dan beberapa sample komoditi berada di dalam botol botol kaca kecil kecil. Lalu Bram mengambil tempat duduk di samping bapaknya.
Nampak mereka berdua berbincang bincang ringan, sesekali Bram mengambil sample komoditi sambil melihat lihat mengamati.
Tidak berapa lama terdengar suara langkah beberapa kaki memasuki ruangan. Bapak Bharata dan Bram lalu bangkit berdiri menyambut kedatangan tamu bisnisnya. Nampak seorang laki laki bule usia dewasa dengan terlihat gagah dan berpenampilan layaknya seorang profesional. Di belakangnya ada seorang perempuan bule cantik dan paling belakang Sisi.
Mereka nampak saling berjabat tangan, kecuali Sisi yang sudah berjabat tangan saat berada di lantai bawah.
"Silahkan duduk Tuan Andrew dan Nona Jecklyn" ucap Bapak Bharata mempersilahkan tamunya duduk. Perempuan bule yang menemani Tuan Andrew bernama Jecklyn. Nampak Jecklyn sering mencuri pandang menatap kagum sosok Bram. Bram yang memiliki tubuh tinggi tegap dengan otot yang sudah terbentuk sejak kecil karena menyukai kegiatan out door dan memiliki kulit coklat khas orang Indonesia sangat menarik perhatian seorang Jecklyn perempuan bule tersebut.
Namun Bram tidak menyadari hal itu, dia fokus memperhatikan apa yang dibicarakan oleh Bapak Bharata dan Tuan Andrew. Bram justru kagum dengan bapaknya yang sangat profesional menyampaikan karaktiristik semua komoditi yang ditawarkan dan menyampaikan kelebihan masing masing sesuai dengan kebutuhan Alfa Company.
Terlihat Tuan Andrew nampak puas dengan semua yang disampaikan bapak Bharata, Tuan Andrew nampak mengamati amati semua sample, kadang dibuka dan dihirup hirup aroma nya.
__ADS_1
"Si, buatkan kopi untuk tamu kita" ucap Bapak Bharata pada Sisi yang duduk di sampingnya. Sisi lalu menaruh lap top nya di meja, kemudian dia bangkit berdiri menuju ke luar ruangan. Tidak lama kemudian dia datang dengan membawa nampan yang berisi lima cangkir minuman.
"Silahkan ini salah satu kopi dari sample yang berada di meja ini" ucap Sisi
"Ooooh bagus" ucap Tuan Andrew
"Coba Tuan Andrew dan Nona Jecklyn rasa dan tebak ini kopi yang mana" ucap Bapak Bharata
Nampak Tuan Andrew dan Nona Jecklyn mengambil cangkir kopi kemudian menghirup hirup aroma nya sebelum menyesapnya.
"Ooooh sangat nikmat" ucap mereka bersamaan sambil tersenyum puas.
"Tuan Andrew " ucap Bram
"Ya" jawab Tuan Andrew lalu menatap pada Bram demikian juga Jecklyn menatap Bram menunggu apa yang akan dikatakan oleh Bram.
"Apa Tuan Andrew juga tertarik dengan tepung pisang" ucap Bram yang teringat akan obsesinya mengekspor tepung pisang.
"Bram ojo ndlewer ndlewer" ucap Bapak Bharata memberi peringatan
"Saya minta dia fokus pada pembicaraan sesuai penawaran kemarin" ucap Bapak Bharata
"Ooooh " gumam Tuan Andrew sambil tersenyum
"Tidak apa apa, itu juga komoditi bagus prospektif" ucap Tuan Andrew nampak semangat
"Tuan Bram itu menarik, tapi sementara yang sesuai pembicaraan awal, maaf" ucap Tuan Andrew
"It's okay" ucap Bram sambil tersenyum. Senyumnya Bram semakin membuat Jecklyn terpesona.
"Saya akan coba tawarkan pada costumer kami Tuan Bram" ucap Jecklyn menanggapi tawaran Bram sambil tersenyum
__ADS_1
"Terimakasih Nona Jecklyn ke depan akan saya kirim sample nya" ucap Bram dan dijawab oleh senyuman dan anggukan kepala oleh Nona Jecklyn
Pembicaraan bisnis mereka akhirnya selesai, Alfa Company resmi menjadi rekan kerja Bharata Group. Mereka nampak saling menandatangani dokumen dokumen yang sudah disiapkan oleh Sisi. Bapak Bharata dan Tuan Andrew terlihat tersenyum puas.
Sebelum meninggalkan ruangan nampak Jecklyn mendekati Bram, sedangkan Tuan Andrew sudah berjalan keluar ruangan ditemani oleh Bapak Bharata. Sedangkan Sisi masih di dalam ruangan memberesi isi ruangan. Terlihat dia melirik ke arah Bram dan Jecklyn yang masih berbincang bincang. Nampak Jecklyn mengambil dompetnya dan memberikan kartu nama pada Bram, lalu dia bangkit berdiri dan melangkah ke luar ruangan yang diikuti oleh Bram.
Bapak Bharata dan Bram mengantar tamu bule nya hanya sampai di lantai dua. Saat di lantai dua nampak sosok Johan sudah siap untuk mengantar tamu bule tersebut sampai di luar.
"Pak sekarang jam istirahat ya?" ucap Bram saat berada di ruang bapak Bharata dan nampak ibu Murti juga berada di ruangan tersebut.
"Iya, tapi kamu istirahat di ruangan ini, sebagai hukuman tadi kamu ndlewer ndlewer" ucap Bapak Bharata lalu duduk di sofa di samping istrinya
"nDlewer ndlewer opo?" tanya ibu Murti
"Malah nawarke tepung pisang" jawab Bapak Bharata
"Tapi kan mereka minat Pak" ucap Bram dan juga ikut duduk di sofa yang sudah melepas jas nya dan di taruh di belakangnya
"Iya tapi kamu siapkan dulu dan buat penawaran khusus" ucap bapak Bharata
"Namanya juga baru pertama kerja Pak" ucap Ibu Murti
"Tumben Ibu membela Bram" ucap Bapak Bharata sambil menatap istrinya. Ibu Murti terlihat hanya tersenyum sambil menyiapkan makan siang karena Sisi sudah datang mengantar makan siang buat mereka bertiga.
"Silahkan Pak, Bu, Mas Bram" ucap Sisi setelah menaruh makan siang mereka lalu melangkah meninggalkan ruangan bapak Bharata. Setelah istirahat siang mereka mulai lagi dengan perkerjaan
Hari pertama kerja terasa begitu lama buat Bram. Saat sore hari nampak beberapa karyawan di lantai satu sudah keluar meninggalkan ruangan dan mereka pulang ke rumahnya.
"Si, kamu bisa pulang juga tidak ada pertemuan setelah jam kantor" ucap pak Bharata pada Sisi.
"Baik Pak" jawab Sisi lalu mengemasi peralatannya.
__ADS_1
"Bram juga sudah boleh pulang tidak Pak?: tanya Bram sambil menutup lap topnya.
"Belum boleh" ucap Pak Bharata dan Bram hanya bisa mendengus sambil duduk menyandarkan punggungnya di sofa