
“Bunda minum duyu.” Ucap Andru sambil menoleh menatap Bunda nya.
Nindya terlihat tersenyum sambil mengecup puncak kepala Andru. Mak yang mendengarpun juga tersenyum.
“Iya Mbak, saya ambilkan air putih, mbak Nindya duduk saja.” Ucap Mak lalu mengambilkan segelas air putih dan diberikan kepada Nindya. Setelah mengambilkan air putih Mak kembali ke dapur untuk memasak kue yang sudah diadoni dan dibentuk oleh Nindya.
“Bun, atu yang tlepon Tde Tedi ya..” ucap Andru setelah Nindya selesai minum segelas air putih.
“Andru kangen Pak De Tedy ya..?” tanya Nindya sambil membiarkan tangan mungil Andru memencet mencet hape Nindya. Terlihat Andru mengangguk mantap sambil serius mengusap usap hape Bunda nya. Sementara Nindya masih terus mengamati yang diperbuat Andru.
“Ini bun..?” tanya Andru saat jarinya menemukan foto profil Tedy.
“Betul.” Jawab Nindya. Andru menekan dengan jari mungilnya memencet foto profil Tedy.
“Ini bun?” tanya Andru lagi sambil jari mungilnya menunjuk gambar telpon.
“Yang sebelah kanannya.” Jawab Nindya sambil menepuk nepuk pelan lengan kanan Andru sekalian mengajari Andru perihal kanan kiri.
“Kita video call biar lihat wajah Pak De.” Ucap Nindya lagi.
Jari mungil Andru lalu memencet tombol video call. Namun lama tidak mendapat jawaban dari Tedy.
“Yama bun..” ucap Andru sambil matanya fokus menatap layar hape
“Sabar...” ucap Nindya sambil mengusap usap kepala Andru. Dan tidak lama kemudian layar hape Nindya sudah muncul wajah Tedy.
“Halo Yogya...” sapa Tedy saat melihat wajah Andru di layar hapenya.
“Namatu butan yogya..” ucap Andru sambil cemberut
“Pak De tidak bisa menyebut Andru.” Ucap Tedy menggoda Andru yang masih celat.
“Itu bica.” Ucap Andru
“Bisa apa?” tanya Tedy sambil senyum menggoda
“Bica menyebut...And.. “ jawab Andru yang tidak berlanjut.. terlihat Andru tersenyum malu. Dan terdengar tawa Tedy di telpon dia merasa senang sudah berhasil menggoda keponakannya.
__ADS_1
“Sini bunda mau omong sama pak De.” Ucap Nindya dan Andrupun memberikan hape kepada Bunda nya dia pun merasa terselamatkan oleh Bunda nya karena keusilan pak De Tedy.
“Kak, wabah penyakit sudah sampai di kota kak Alvin, mereka kesulitan mendapatkan bahan pangan. Aku dan mamah akan ngirim bahan pangan ke mereka sebelum barang barang dari Indonesia dilarang masuk.” Ucap Nindya selanjutnya, dan terlihat wajah Tedy nampak kaget dan sedih secara bersamaan.
“Kakak juga kirim buat mereka ya...” ucap Nindya lagi
“Iya Nin, tapi aku dan Lilian belum bisa keluar.”
“Itu Lilian mual mual... dari tadi makanan yang sudah masuk perutnya keluar dia sampai lemas, ini aku habis buatkan bubur.” Ucap Tedy..
“Sudah ditest pack atau periksa Kak, perkiraanku dia sedang isi.”
“Belum, Semoga Nin... aku sudah menunggu lama juniorku hadir.” Ucap Tedy yang sudah menikah dua tahun lebih dengan Lilian namun belum dikaruniai anak.
“Lilian masih ngajar?” tanya Nindya karena dia tahu Lilian sebagai dosen muda yang aktif.
“Hari ini ijin, tapi beberapa bulan ini hanya ngajar saja sudah aku larang ikut ikut seminar ke luar kota apalagi ke luar negeri.” Jawab Tedy yang menjelaskan aktifitas Lilian
“Ooo berarti kemungkinan benar itu Kak aku akan mendapat keponakan baru.” Ucap Nindya yang dulu pernah menyarankan Lilian untuk mengurangi aktifitasnya agar cepat hamil.
“Ya sudah kakak belanja on line saja, aku juga belanja on line. Salam buat Lilian, cepat dibawa ke dokter kandungan saja Kak.”
“Sudah ya Nin itu Lilian hoek hoek lagi...”
“Pak Tde.. matanan janan dibuan..” saut Andru dengan suara keras.
“Iya iiya......muach.” suara Tedy tergesa gesa lalu sambungan telpon terputus.
“Muuuuach pak Tde.” Ucap Andru mencium jauh Tedy dengan memanyunkan bibir imutnya.
“Bu Tde Li kenapa bun?”
“Cakit?”
“Bu De Li mau punya adik bayi.”
“Atu juga mau bun.. adik bayi..” ucap Andru dan Nindya menjawab dengan anggukan kepala dan mencium puncak kepala Andru.
__ADS_1
“Tduwa ya bun.” Ucap Andru lagi sambil jari telunjuk dan jari tengahnya ditunjukkan ke Bunda nya.
“He... he .. besok ya... sekarang kita belanja buat kak Bali dulu ya..”
Nindya yang masih memangku Andru akhirnya memencet mencet hapenya untuk belanja keperluan darurat kakaknya Alvin.
Sementara itu Bram yang sedang rapat di kantor Bharata Group mendengar bunyi notifikasi transaksi di hape nya. Terdengar banyak sekali notifikasi transaksi.
“Nindya tumben belanja banyak.” Gumam Bram dalam hati
“Owh tadi malam dia mengeluh banyak baju yang kesempitan, mungkin dia sedang belanja baju. Ah pasti dia juga belanja baju baju tidur kurang bahan.” Gumam Bram dalam hati sambil tersenyum senyum membayangkan istrinya memakai baju kurang bahan.
“Bram di saat kondisi darurat kamu masih bisa senyum senyum kamu belum stres kan?” tanya bapak Bharata yang ikut rapat di kantor Bharata Group. Rapat kali ini yang dibahas ada hubungannya dengan wabah penyakit yang mau tak mau berpengaruh pada bisnis Bharata Group.
“Aku masih normal Pak, aku Cuma ingat tingkah Andru jadi tersenyum.” Jawab Bram bohong
“Kamu omong Andru aku juga jadi pengen pulang.”
“Sudah kita akhiri rapatnya. Kalau laporan keuangan sudah fix, segera kirim produk.produk kita sebelum barang dari negara kita distop.” Ucap Bapak Bharata lalu bangkit berdiri meninggalkan ruang rapat.
Dan selanjutnya karyawan karyawan penting yang ikut rapat juga mengikuti bapak Bharata setelah minta ijin pada Bram. Sementara Bram, Arum, Johan dan Sisi masih tertinggal di ruang rapat.
“Arum cepat selesaikan laporan, menurut perhitunganku kondisi keuangan kita aman untuk mempercepat semua pengiriman.” Ucap Bram
“Iya iya..” jawab Arum sambil matanya masih menatap layar lap topnya.
Bram masih duduk di kursi di ruangan rapat dia lalu melihat hape nya. Dilihatnya ada pesan teks dari Nindya yang memberi kabar tentang masalah yang dialami kakaknya Alvin dan meminta ijin untuk belanja kebutuhan kakaknya selama masa darurat. Bram pun kemudian terlihat mengetik balasan buat Nindya, dia menyetujui bahkan menyuruh menambah barang yang akan dikirim.
“Rum malam ini laporanmu harus segera selesai, ini info dari Nindya kakaknya Alvin kesulitan bahan pangan, beberapa negara yang terserang wabah produknya sudah tidak bisa masuk ke negara lain.”
“Kita harus cepat cepat sebelum wabah masuk ke negara kita.” Ucap Bram selanjutnya.
“Iya Mas, ini ada beberapa rekening terjadi mutasi, yang perlu aku pahami. Aku mau ke bank sekarang sebelum tutup.” Ucap Arum lalu dia menutup lap topnya dan bangkit berdiri.
“Ayo Mas antar aku. “ ucap Arum kemudian sambil menatap Johan suaminya. Terlihat wajah tegang Arum karena laporan keuangan belum selesai dan berita tentang wabah yang terus menyebar ke segala penjuru dunia.
“Nanti kalau laporan sudah beres aku ke rumah bapak, aku sebenarnya juga sudah kangen Andru, pengen meeting dengan Andru yang bisa memgobati pusing kepala.” Ucap Arum sambil berjalan. Arum yang setelah menikah dengan Johan lebih memilih tinggal di rumah baru berdua dengan suaminya.
__ADS_1
"Semoga laporan Arum segera beres." gumam Bram lalu menutup lap topnya dan selanjutnya bangkit berdiri berjalan menuju ke ruangannya. Sedangkan Sisi yang paling belakang karena harus membereskan ruang rapat tersebut.