
Nindya berjalan menuju ke ruang tengah dengan dua cup salad buah di tangannya. Sesampai di ruang tengah tampak Bram duduk seorang diri sambil sibuk dengan hapenya.
"Papah kemana Mas?" tanya Nindya sambil duduk di sebelah Bram yang duduk di sofa panjang.
"Tadi dipanggil mbah Karto entah urusan apa" jawab Bram masih fokus dengan hapenya. Namun sesaat dia menoleh ke arah Nindya dengan kedua tangan masih memegang dengan hapenya.
"Enak tuh Nin.. suapin donk" pinta Bram dengan suara manjanya
"Makan sendiri napa" jawab Nindya dengan sedikit perasaan malu dan takut kalau kepergok oleh mamah dan papahnya sedang mesra mesra dengan Bram.
"Ini masih sibuk balas email email yang urgen" jawab Bram dengan tangan dan mata fokus dengan hapenya.
"Salad buahnya menggoda tuh.. aku kepengen banget.. dikit aja dulu ga apa apa.. keburu ngiler nich.. " jawab Bram dengan tangan masih sibuk ngetik ngetik.
Nindya lalu membukakan cup salad buah dan mulai menyendoknya, lalu mengarahkan sendok ke depan mulut Bram.
"Nih.. ngadep sini donk susah kalau mas Bram ngadep hape" ucap Nindya sambil mengarahkan sendok berisi salad buah ke mulut Bram, Bram lalu menoleh sebentar dan membuka mulutnya untuk menerima suapan salad buah dari Nindya.
"Hmmm... nikmat" ucap Bram sambil mengunyah
"Kalau sedang makan jangan omong" ucap Nindya sambil mengambil sendokan keduanya..
"He...He..." tawa kecil Bram sambil tangan kirinya melepas dari aktivitas pada hape nya beralih mengusap usap sebentar kepala Nindya. Lalu kembali sibuk membalas email emailnya.
"Aku juga pengen makan saladnya mas" ucap Nindya sambil menyuapi Bram.
"Makan di cup yang sama juga ga apa apa kan, biar tambah rukun He...He..." ucap Bram setelah menelan saladnya.
"Aku sehat ga punya penyakit menular" ucap Bram selanjutnya dan selanjutnya nampak Nindya juga makan pada cup dan sendok yang sama. Namun saat Nindya akan menyuapi Bram, tiba tiba terdengar langkah kaki memasuki ruangan. Nampak papah Mahendra dan dibelakangnya mbah Karto berjalan membawa kardus kardus, dari penampakan luar Nindya sudah tahu isi di dalam kardus keripik buah dan strudel buah. Nindya tersenyum lega karena orang tuanya sudah menyiapkan juga oleh oleh untuk orang tua Bram. Namun senyumnya mendadak sirna dan berubah menjadi ketakutan saat papah Mahendra berhenti di depan mereka sambil mata yang sedikit melotot sambil menatap mereka.
"Kayak bayi saja minta disuapi" ucap papah Mahendra dengan nada suara serius cenderung ketus.
__ADS_1
"Seperti tidak pernah muda saja Bos, kalau iri kepengin disuapi minta mamah Indah sana" ucap mbah Karto sambil terus berjalan melewati papah Mahendra. Papah Mahendra hanya bisa mendengus lalu berlalu berjalan menuju ke belakang untuk menaruh kardus pesenan mamah Indah.
Sedangkan Bram dan Nindya saling memandang sambil tersenyum dan selanjutnya tertawa kecil agar papah Mahendra tidak mendengar.
"Sepertinya kakak ipar juga merekrut mbah Karto juga" gumam Bram yang didengar oleh Nindya
"Ada apa dengan kak Tedy sih?" tanya Nindya kepo karena sejak tadi masuk di rumah nama kakaknya selalu disebut.
"He...He.. Aku minta dukungan dari kakak ipar supaya orang tuamu menyetujui kita segera menikah" bisik Bram agar tidak ada yang mendengar.
Namun tiba tiba hape Bram bergetar ada panggilan masuk dari bapak Bharata. Bram segera menggeser tombol hijau. Setelah terhubung terdengar suara bapak Bharata menyuruh Bram untuk segera kembali ke hotel.
"Disuruh Bapak segera kembali ke hotel aku Nin" ucap Bram selanjutnya setelah menutup sambungan telponnya dengan bapak Bharata.
"Yok antar aku menemui papah dan mamah untuk pamit nanti malam balik lagi sama Bapak dan Ibu" ucap Bram sambil bangkit berdiri. Lalu mereka berdua berjalan menuju ke belakang untuk pamit pada orang tua Nindya.
Setelah di belakang Bram pamit pada papah Mahendra dan mamah Indah. Bram disuruh mamah Indah membawa mobil papah Mahendra agar lebih mudah bolak balik ke hotel dan rumah mereka.
Malam hari yang dinanti tiba. Mamah Indah sudah berdandan rapi dengan memakai gaun batik couple dengan kemeja batik papah Mahendra. Mamah Indah terlihat nervous beliau bolak balik dari ruangan satu ke ruangan lainya mengecek segala persiapannya.
"Heleh malah belum mengecek Nindya" ucap mamah Indah sambil menepuk jidatnya lalu berjalan cepat menuju ke kamar Nindya. Sesampai di kamar Nindya terlihat Nindya sedang memantas mantas diri di depan cermin. Terlihat Nindya memakai gaun putih dengan model sopan dan elegan dengan dandanan make up tipis tipis.
"Cantik Nin.. baju yang belikan mamah bagus kan?" tanya mamah Indah sambil memuji Nindya dan memuji pilihannya sendiri
"Iya Mah, bagus.. Cantik tapi kok putih Mah ga lebai apa, ini kan cuma acara perkenalan keluarga" ucap Nindya yang masih berdiri menghadap ke cermin
"Putih kan warna netral, besuk kalau lamaran resmi pakai kebaya, mamah itu sudah cari info ke temen temen mamah" ucap Mamah Indah sambil membelai rambut anak gadisnya.
"Ya sudah ayo ke depan, kita tunggu di depan, mamah kok deg degan ya Nin, kayak mamah aja yang akan dilamar ha...ha..." ucap mamah Indah sambil mengandeng Nindya keluar dari kamar.
Mereka berjalan menuju ke ruang tamu, nampak papah Mahendra sudah duduk rapi di kursi di ruang tamu. Meskipun rumah papah Mahendra rumah sederhana namun ruang tamunya tergolong lumayan luas sebab dulu di design digunakan juga untuk ruang les murid muridnya sebelum mempunyai tempat khusus untuk jasa les nya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil yang sangat familiar bagi mereka. Suara mobil papah Mahendra sudah sampai di depan rumah mereka. Mereka bertiga berjalan menuju ke pintu dan membukanya. Terlihat Bram sudah bisa membuka pagar rumah keluarga Mahendra, kemudian terlihat Bram kembali menuju ke mobil dan selanjutnya menjalankan mobil memasuki halaman rumah keluarga Mahendra.
Sedangkan papah Mahendra, mamah Indah dan Nindya sudah berdiri manis di teras dengan senyum manis mereka menyambut kedatangan tamu jauh yang dinanti nanti.
Nampak Bram turun dari mobil, kemudian berjalan ke pintu belakang mobil membukakan pintu untuk ibu Murti dan membantu ibu Murti turun dari mobil nampak ibu Murti turun dari mobil dengan langkah anggunnya. Selanjutnya bapak Bharata juga terlihat turun dari mobil berdiri sejenak lalu merapikan bajunya kemudian berjalan mengandeng ibu Murti berjalan menuju ke teras rumah Nindya.
Sedangkan Bram masih membuka bagasi mobil dan mengambil kardus dan paper bag dan membawanya berjalan menyusul bapak Bharata dan ibu Murti.
"Selamat datang.. sugeng rawuh.." ucap papah Mahendra dan mamah Indah secara bersamaan.
"Terimakasih " ucap Bapak Bharata sambil menjabat tangan papah Mahendra.
"Terimakasih, rumahnya cantik" ucap Ibu Murti sambil menjabat tangan mamah Indah
"Terimakasih pujiannya" ucap mamah Indah sambil tersenyum dengan senyum dibuat sesopan dan semanis mungkin.
"Cantik seperti pemiliknya" puji ibu Murti lagi. Namun seketika terlihat wajah kecut papah Mahendra, dan kemudian papah Mahendra mengajak masuk bapak Bharata.
"Pemilik rumahnya papahnya Nindya" bisik mamah Indah di dekat telinga ibu Murti.
"Ohhh maaf.. maaf" ucap Ibu Murti merasa menyesal. Nampak mamah Indah tersenyum.
"Tidak apa apa.. mari masuk" ucap mamah Indah sambil mempersilahkan ibu Murti masuk ke dalam rumahnya.
Sedangkan Bram masih berdiri mematung dengan membawa kardus dan di atas kardus ada bebarapa paper bag.
"Mas" ucap Nindya mengagetkan Bram.
"Eh Nin kamu cantik banget" ucap Bram lalu tersenyum
"Bantuin bawa masuk ini donk, di mobil masih banyak" ucap Bram kemudian lalu berjalan menaruh kardus di teras, dan berjalan kembali menuju ke mobil untuk mengambil barang lagi, namun sebelumnya menyempatkan diri menoel gemas pipi Nndya.
__ADS_1