Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
172. Penasaran


__ADS_3

Bram sampai di bandara Soekarno Hatta dengan selamat. Setelah selesai menjalani semua tata cara penumpang datang, lalu dia melangkah menuju ke pintu keluar ruang kedatangan.


Bram lalu mengaktifkan hapenya memberi kabar kepada istri nya kalau sudah sampai dengan selamat. Lalu dia memesan taxi online menuju ke kantor Bharata Group di Jakarta. Tidak lupa juga mengabari Om Prabu kalau dia sudah otw menuju ke kantor Bharata Group di Jakarta.


Beberapa menit kemudian mobil taxi sudah sampai di depan gedung kantor Bharata Group. Bram turun dan langsung berjalan masuk. Bapak satpam yang sudah mengenal Bram langsung membukakan pintu saat melihat Bram turun dari taxi.


Bram terus melangkahkan kaki dengan cepat, saat memasuki pintu terlihat Om Prabu duduk di salah satu kursi di ruang loby.


“Om...” ucap Bram saat berada di depan Om Prabu. Bram mencium tangan Om Prabu lalu mereka saling berpelukan.


“Ceritamya bagaimana Om, tante bisa terpapar?” Tanya Bram sambil mendudukkan pantatnya di kursi.


“Tante mengikuti sebuah acara sosial dengan teman temannya. Padahal semua peserta sudah dilakukan screening.” Jawab Om Prabu dengan nada sendu.


“Bagaimana dengan Erlangga Om?” tanya Bram yang juga mengkuatirkan kesehatan sepupunya.


“Masih menunggu hasil test, tetapi kondisi dia baik baik saja.” Jawab Om Prabu


“Kamu juga harus hati hati kalau sudah sampai Singapore wabah itu tidak lama lagi sampai ke sini.” Ucap Om Prabu kemudian dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Bram.


Mereka berdua lalu terlihat serius membahas masalah pekerjaan. Om Prabu memberikan arahan dan pesan pesan pada Bram.


“Baiklah aku berangkat sekarang, kalau ada apa apa cepat kabari aku, sekretaris Niko juga siap membantumu.” Ucap Om Prabu kemudian dan terlihat sekretaris Niko sudah berada di dekat mereka, karena sekretaris Niko yang akan mengantar Om Prabu berangkat ke bandara.


“Semoga Tante cepat sembuh Om, Om juga jaga kesehatan.” Ucap Bram saat mengantar Om Prabu di depan mobil yang mengantar Om Prabu.


Setelah mobil menghilang dari pandangan mata Bram, dia lalu kembali melangkah masuk ke dalam gedung. Sambil menarik kopernya, dia berjalan menuju ke pintu lift dan selanjutnya menuju ke lantai tiga.


Saat masuk ke ruang Bram teringat pada Tedy. Bram lalu duduk di sofa dan mengambil hapenya untuk melakukan sambungan lewat video call.


“Hai Bro, kamu dimana, di tempat Om Prabu ya?” tanya Tedy yang familiar dengan background Bram, sofa yang diduduki dan ruangan ekslusif


“Iya sudah tahu masih tanya.” Jawab Bram


“Ini aku datang ke Jakarta khusus untuk bawakan jamu kakak ipar.” Ucap Bram bohong.


“Mosok? Aku melihat kebohongan di wajahmu.” Ucap Tedy karena melihat wajah kusut Bram.


“Ada masalah apa Bro? Kamu mendadak datang ke Jakarta dan wajahmu sangat berbeda dengan kemarin.”

__ADS_1


“Mana anak istrimu?” Pertanyaan Tedy beruntun


Bram lalu mengusap wajahnya dengan kasar, dan selanjutnya dia menceritakan segala permasalahnya.


“Bro aku sebenarnya kepengen datang ke situ, untuk mengambil jamu dan nemeni kamu. Tapi Lilian belum bisa ditinggal.” Ucap Tedy.


“Tunggu saja ya, mamah dan lik Marni akan datang ke rumahku, untuk membujuk Lilian ke dokter, dan setelahnya Lik Marni akan ditinggal di sini untuk nemani Lilian.”


“Nanti kalau mereka sudah datang aku temani kamu. Sekarang jamunya dikirim lewat aplikasi saja ya...” ucap Tedy selanjutnya


“Iya besok aku kirim, sekarang aku mau istirahat.” Jawab Bram, lalu dia menutup sambungan telponnya. Tedy terlihat kaget karena Bram langsung main tutup saja.


Bram lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia ternyata tidak istirahat tetapi langsung membuka laptop yang sudah diprogram terhubung dengan data data Om Prabu. Bram lalu mengamati data data seperti yang dipesankan Om Prabu tadi. Bram serius dengan data data untuk mempersiapkan kerja dia besok pagi. Tapi setelahnya dia juga ingat tentang permasalahan laporan keuangan di Yogya yang belum clear. Bram masih penasaran kenapa Arum lama menyelesaikan laporannya.


“Nanti saja telpon Nindya.” Gumam Bram dalam hati lalu dia mulai konsentrasi lagi dengan data data Om Prabu.


Sementara itu di rumah bapak Bharata setelah memakai drama segala macam bujukan akhirnya Andru mau makan malam. Dan setelah selesai makan Andru dan Nindya masuk ke dalam kamarnya. Bapak Bharata dan ibu Murti juga langsung masuk ke dalam kamarnya, tampak lelah di raut wajah mereka. Kemungkinan beliau sedang memikirkan masalah berat.


“Andru cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi ya...” ucap Nindya sambil menuntun Andru menuju ke kamar mandi.


“Bial belcih dan ga cakit ya bun..” ucap Andru


Setelah dari kamar mandi dan sudah memakai piyama tidur mereka berdua lalu berbaring di tempat tidur.


“Bun, buat adik bayina cama atu aja.” Ucap Andru sambil tangan mungilnya bermain main boneka jerapah teman tidurnya.


“Ayah kan cedan pelgi.” Ucap Andru lagi


“Ha.....ha....” tawa Nindya pecah mendengar ucapan Andru


“Bunda kenapa teltawa?” tanya Andru sambil cemberut karena bundanya tertawa mendengar ajakannya.


“Tidak bisa sayang, hanya ayah yang bisa.” Jawab Nindya sambil membelai rambut Andru.


“Kalena atu anak kecil?” tanya Andru


“Atu kan bica bantu buat kuwe.” Ucap Andru.


“Tidak seperti buat kue, harus orang besar kalau buat adik dan tidak sembarang orang bisa.” Ucap Nindya

__ADS_1


“Oooo" gumam Andru


“Pakai apa bun, tepung?” tanya Andru kepo


“Pakai pisang.” Jawab Nindya kehabisan ide


“Telus.” Ucap Andru masih kepo


“Dimaem bunda macuk pelut bunda.” Tebak Andru


“Iya tapi juga harus dengan ijin Allah, nanti perut bunda ditiup Allah.” Ucap Nindya berusaha untuk menjelaskan keterlibatan Allah.


“He.. he.. he.... pelut bunda jadi besal ada adiknya.” Ucap Andru sambil tertawa mungkin membayangkan seperti balon ulang tahun ditiup oleh Pak Man jadi menggelembung.


“Iya maka Andru harus berdoa agar diijinkan Allah.” Ucap Nindya selanjutnya


“Iya bun atu mo beldoa agal ibu Alum, Tde Li, bunda pelutnya ditiup Allah.” Ucap Andru yang sekarang bangkit dari tidurnya dan duduk dengan posisi duduk bersila, tangan menengadah dan kepala menunduk khusuk. Namun beberapa saat kemudian....


“Bun.” Ucap Andru sambil menoleh ke arah bundanya dengan raut wajah kuatir, setelah dia selesai berdoa.


“Apa sayang...” ucap Nindya


“Atu tadi maem picang, kalo pelutu ditiup Allah gimana...” ucap Andru lagi sambil memegang perutnya dengan kedua tangan mungilnya.


Nindya lalu memeluk Andru dan membaringkan di sampingnya.


“Kalau perut Andru ditiup Allah, Andru jadi sehat tidak sakit perut.” Jawab Nindya sambil memeluk Andru


“Pisang yang untuk buat adik bukan pisang yang dimaem Andru” ucap Nindya kemudian


“Picang apa bun?” tanya Andru kepo


“Pisang spesial, pisang khusus, disimpan ayah.” Jawab Nindya sambil tersenyum membayangkan pisang spesial.


“Picang ajaib bun?” tanya Andru lagi


“Iya, ayo bobok...” ucap Nindya kemudian karena keinginan tahuan Andru kadang membuatnya pusing menjawab.


“Bun, atu mau tlepon ayah..” ucap Andru lalu dia kembali bangkit mencari hape Nindya

__ADS_1


“Haduh... pasti akan tanya pisang ajaib itu anak.” Gumam Nindya


__ADS_2