
Akhirnya setelah diskusi dengan perdebatan yang sangat sengit, alot dan berbelit belit tadi malam, pagi ini Nindya dan Bram diijinkan kembali ke Yogyakarta oleh keluarga Mahendra.
Segala saran, masukan, petuah, nasehat dan segala macam jenisnya disampaikan pada Bram dan Nindya. Tak lupa Nindya diminta mencatat semuanya.
Kini terlihat Nindya dan Bram sudah siap mereka duduk di teras bersama mamah Indah menunggu papah Mahendra yang akan mengantar.
Sedangkan Tedy setelah makan pagi berpesan pada Bram agar menjaga Nindya, namun setelahnya tidak menampakkan batang hidungnya, mungkin tertidur lagi.
"Ayo berangkat" ucap papah Mahendra saat melangkah keluar dari pintu rumah. Mamah Indah terlihat memeluk Nindya dan menciumi pipi Nindya kiri dan kanan. Kemudian menjabat tangan Bram.
"Jaga Nindya baik baik Bram" ucap Mamah Indah dijawab dengan anggukan kepala oleh Bram. Kemudian mamah Indah melepas jabatan tangannya dengan Bram lalu menjabat tangan suami nya dan mencium pungvung tangan suaminya.
Papah Mahendra membuka pintu mobil bagian depan kemudian dia masuk ke dalam mobil.
"Salah satu di depan, aku kayak sopir kalian kalau nanti semua di belakang" ucap papah Mahendra saat Nindya dan Bram bersamaan akan membuka pintu belakang. Akhirnya Bram yang berada di sisi kiri mobil membuka pintu depan dan masuk ke dalam mobil.
"Buka pagarnya dulu, dan nanti sekalian tutup baru kamu masuk saat nanti mobil sudah di jalan" ucap papah Mahendra saat Bram sudah masuk di dalam mobil. Terlihat Bram keluar lagi dari mobil sambil menepuk jidatnya dan berjalan menuju pintu pagar. Mamah Indah yang masih berdiri di dekat mobil tersenyum dan mengikuti Bram menuju pagar rumah.
"Masa observasi" ucap papah Mahendra sambil tersenyum licik. Nindya hanya diam saja. Lalu papah Mahendra menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah, lalu mobil berhenti sejenak menunggu Bram menutup pagar dan masuk ke dalam mobil. Nindya terlihat menurunkan jendela kaca mobil dan melambaikan tangannya pada mamah Indah.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang tidak lama kemudian mobil sudah sampai di depan stasiun.
"Papah tidak usah turun ya Nin" ucap papah Mahendra sambil enengok ke belakang membalikan tubuhnya yang masih duduk di kursi kemudi sambil mengulurkan tangannya.
"Iya pah" jawab Nindya sambil menjabat tangan papahnya dan menciumnya kemudian mencondongkan kepalanya ke depan dan papah Mahendra mencium pucuk kepala Nindya.
Lalu papah Mahendra menoleh ke arah Bram yang terlihat sedang memandang adegan anak bapak tersebut, Setelah Nindya melepas tangan papah Mahendra kemudian papah Mahendra mengulurkan tangannya pada Bram dan Bram menerima lalu menjabat dan mencium tangan papah Mahendra setelahnya Bram mencondongkan kepalanya namun tidak dicium oleh papah Mahendra tetapi mendapatkan jitakan kecil dari tangan kiri papah Mahendra.
__ADS_1
Bram dan Nindya lalu keluar dari mobil. Berdiri menunggu mobil papah Mahendra berjalan tidak lupa mereka melambaikan tangannya. Bram lalu mengandeng tangan Nindya dan mereka berjalan menuju ke dalam stasiun. Setelah cek in mereka kemudian masuk ke dalam ruang tunggu dan tidak berapa lama kereta yang ditunggu telah tiba. Bram dan Nindya berjalan menuju ke gerbong mereka. Bram dan Nindya berjalan di dalam gerbong mencari nomer kursi yang berada di tiket.
"Nin apa papahmu tidak salah waktu memesan tiket, kok nomer kursi tidak bersebelahan?" tanya Bram saat melihat nomer kursi di tiket mereka
"Iya ya mas, aku ga memperhatikan nomernya tadi" jawab Nindya saat mencocokkan nomer tiket dan ternyata mereka duduk tidak bersebelahan tetapi depan belakang.
Nindya lalu duduk di kursinya sesuai tiket, lalu Bram duduk di sebelah Nindya.
"Coba saja nanti kalau penumpang di sebelah mu mau diajak tukeran tempat duduk" ucap Bram saat duduk di sebelah Nindya di kursi dekat lorong sebab seperti biasanya Nindya suka duduk di kursi dekat jendela.
"Iya, mungkin papah salah pencet karena jarinya besar besar he..he.." jawab Nindya
Mereka lalu berbincang bincang di dalam kereta selama menunggu kereta api berjalan. Dan tidak lupa sesekali Bram memegang tangan Nindya atau mengacak acak puncak kepala Nindya bila Bram gemas dengan candaan Nindya.
Akhirnya kereta menunjukkan tanda tanda akan berjalan namun seketika ada tepukan di pundak kiri Bram.
"Kak Tedy" ucap Nindya sambil mata melotot kaget
"Kakak ipar" ucap Bram yang tidak kalah kaget.
"Pindah... Pindah...Pindah.." ucap Tedy sambil mengangkat jempol nya dan menggoyang goyangkan sebagai kode Bram pindah ke kursi belakang.
"Kakak ipar yang baik hati tolonglah kita gantian kursi" ucap Bram berusaha untuk bernegosiasi
"He...he... tidak bisa adik ipar dalam masa observasi " jawab Tedy dengan tersenyum puas. Dan mau tak mau Bram bangkit berdiri untuk pindah ke kursi di belakang. Saat di kursi belakang nampak ada seorang perempuan paruh baya yang gendut dengan make up tebalnya. Perempuan itu lalu menggeser pantatnya beralih pada kursi di dekat lorong. Bram melangkah masuk ke dalam kursi dekat jendela dengan susah payahnya. Akhirnya dia bisa menaruh pantatnya di kursinya di belakang Nindya di dekat jendela. Terlihat wajah masam Bram, namun tidak dengan wajah Tedy yang terlihat tersenyum puas.
Selama di dalam perjalanan berkali kali tangan Bram terulur dari belakang mencuri curi melakukan kontak fisik dengan Nindya entah menoel pundak Nindya atau membelai rambut puncak kepala Nindya. Dan bila ketahuan oleh Tedy sudah pasti dipukul atau dicubit tangan Bram tersebut. Kelakuan mereka terlihat oleh penumpang di sebelah Bram dan tentu saja perempuan paruh baya gendut tersebut tersenyum melihat tingkah mereka.
__ADS_1
Akhirnya karena perjalanan yang lumayan lama, merekapun tertidur karena mengantuk. Hingga kereta sampai di stasiun Yogyakarta. Bram dan Nindya bersiap siap untuk turun, sedangkan Tedy melanjutkan perjalanannya menuju ibu kota.
"Jaga Nindya bro" pesan Tedy lagi saat mereka berdua pamit pada Tedy untuk turun dari kereta.
"Siap kakak ipar" jawab Bram sambil menjabat erat tangan Tedy.
Nindya berjalan di lorong kereta diikuti oleh langkah Bram, dan mereka berhenti di depan pintu gerbong kereta, menunggu kereta berhenti dan pintu terbuka. Terlihat tangan Bram selalu menggenggam erat tangan Nindya dan terkadang merangkul pundak Nindya.
Saat kereta sudah berhenti dan pintu kereta terbuka Bram melangkah lebih dulu sambil membantu Nindya turun dari kereta. Mereka kemudian berjalan menuju tempat parkir motor.
"Nin, aku ga bawa helm dua nanti beli dulu di jalan ya?" ucap Bram saat berjalan
"Iya" jawab Nindya.
Akhirnya mereka sampai di tempat parkir motor Bram lalu mereka menaiki motor dan motor berjalan keluar dari tempat parkir dan tentu saja sudah membayar ongkos parkir di tempat petugas parkir.
Motor berjalan di jalan raya dan tidak lama kemudian motor berhenti di suatu rumah makan.
"Nin, makan dulu di sini sekalian kamu nanti tunggu sebentar di sini, aku pergi sebentar di toko helm di seberang sana" ucap Bram saat motor berhenti dan melepas helm nya.
"Jangan lama lama lho mas" ucap Nindya
"Enggak, ayok masuk pesen makanan dulu" ucap Bram mengajak Nindya masuk ke dalam rumah makan.
Setelah mereka masuk rumah makan, mereka memesan makanan kemudian mencari tempat duduk. Setelah Nindya menaruh pantatnya di kursi. Bram masih berdiri.
"Kamu tunggu di sini dulu ya, aku cari helm dulu" ucap Bram yang dijawab anggukan kepala oleh Nindya lalu Bram ber jalan ke luar rumah makan untuk membeli helm.
__ADS_1