
Sementara itu sesampai di hotel Bram langsung masuk ke kamarnya. Setelah berganti dengan baju santainya. dia dengan membawa hapenya berjalan membuka pintu belakang kamar hotel yang menghadap ke sebuah taman hotel. Setelah mendudukkan pantatnya di kursi yang berada di tempat itu, Bram mengusap usap hapenya. Nampak pesan text dari Nindya, Bram membukanya isi pesannya mengatakan kalau kakak Tedy sudah bisa dihubungi. Bram lalu melakukan panggilan pada Tedy. Tidak berapa lama sudah bisa tersambung dengan Tedy.
"Bro, gimana acaranya lancar kan?" tanya Tedy berbasa basi di awal percakapannya
"Iya lancar tapi tidak seperti yang aku harapkan, gimana ini kakak ipar katanya bisa mengatur semua agar bisa berjalan sesuai keinginanku" ucap Bram
"Aku sudah atur semua Bro, tapi maaf aku ga berani kalau sama papah he...he.." ucap Tedy
"Sudahlah Bro sabar .. tak kan lari gunung dikejar hilang kabut tampaklah dia ..... semua akan indah pada waktu nya.." ucap Tedy berusaha menasehati dengan nada suara sok bijak
"Haduh kok nyebut nama mamah aku he.. he.. pasti sebentar lagi dihubungi mamah aku" ucap Tedy kemudian, sementara Bram hanya diam saja mendengarkan Tedy sambil menatap pemandangan taman hotel di malam hari yang nampak dari pancaran lampu taman yang redup redup tidak terang menyilaukan mata. Sambil mendengarkan suara Tedy, pikiran Bram berkeliaran membayangkan jika sekarang duduk berdua dengan Nindya sungguh romantis.
"Harusnya kamu bersyukur Bram calon istri sudah ready, kedua keluarga sudah okey menyetujui, kuliah sudah lulus pekerjaan sudah tersedia.. hanya menunggu waktu saja. Lah aku.. gebetan aja susah banget didekati apalagi direngkuh... tugas akhir ku ga kelar kelar.. pekerjaan sambilan kontrak sesuai musim..." ucap Tedy panjang lebar sudah mirip bener kayak mamah Indah kalau sedang berbicara
"Ini ceritanya kakak ipar sedang curhat ha...ha..." ucap Bram sekarang bisa tertawa
"Kamu sekarang bisa menertawain nasibku ya?" ucap Tedy dengan ketus.
"Maaf kakak ipar sabar ya.. sesuatu akan indah pada waktunya.. ha.. ha.." ucap Bram membalikkan kata kata nasehat dari Tedy. Terdengar dengusan suara Tedy dari hape Bram.
"Kejarlah mimpimu kakak ipar, gantungkan cita cita mu setinggi langit, bermimpilah setinggi langit, bila engkau jatuh engkau akan jatuh di antara bintang bintang..."
"Sudah sudah.. aku mau menasehati malah dinasehati, apa mengejek aku, kamu itu" ucap Tedy memotong ucapan Bram, terdengar Bram hanya terkekeh pelan.
"Menyemangati kakak ipar, ya sudah aku tutup ya.. makasih sudah memdukung" ucap Bram lalu menutup sambungan telponnya.
Bram mengusap ngusap hape nya lalu mengetik pesan selamat tidur mesranya pada Nindya tercinta, tidak lama kemudian mendapat balasan hal yang sama dari Nindya. Nampak Bram tersenyum bahagia sambil mencium hapenya. Lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Saat akan merebahkan tubuhnya di pembaringan, hape nya berdering Bram kembali berjalan untuk mengambil hapenya, nampak nama kontak Jecklyn sedang menghubunginya. Bram menggeser tombol hijau
"Selamat malam Tuan Bram" ucap Jecklyn di awal percakapan
"Maaf menganggu saya hanya ingin mengabarkan berita bahagia, proposal Tuan disetujui, email resmi akan dikirim besuk hari Senin, namun saya infokan sebelumnya agar Tuan Bram bersiap siap untuk datang langsung ke kantor pusat perwakilan Alfa Company di Indonesia" ucap Jecklyn selanjutnya
"Jadi harus datang ke Jakarta?" tanya Bram
"Benar Tuan Bram" jawab Jecklyn
"Baik terimakasih informasinya, saya tunggu email resmi dari Alfa Company" ucap Bram selanjutnya. Mereka berdua terdiam Jecklyn tidak berbicara sedang Bram menunggu apa masih ada yang perlu disampaikan oleh Jecklyn.
"Apa masih ada yang perlu Nona Jecklyn sampaikan?" tanya Bram
"Hmmm tidak Tuan Bram, baiklah selamat malam" ucap Jecklyn
"Selamat..." ucap Bram belum selesai namun sambungan telpon sudah diputus oleh Jecklyn .
"Apa memberitahu bapak ya?" tanya Bram pada dirinya sendiri.
Lalu Bram bangkit berdiri berjalan menuju ke pintu kamarnya yang menghadap ke loby hotel. Bram membuka handel pintu dengan pelan pelan. Bram melangkahkan kaki ke luar kamarnya. Nampak di lobby hotel sudah sepi hanya ada beberapa karyawan hotel yang stand by untuk bertugas malam hari. Bram berjalan di kamar bapak Bharata dan ibu Murti yang berada di samping kamarnya.
Bram mengarahkan tangannya di pintu kamar akan mengetuk kamar, namun diurungkannya niat untuk mengetuk pintu. Karena kuatir menganggu jika orang tuanya sudah beristirahat. Bram lalu kembali berjalan menuju kamarnya.
"Besuk pagi saja" gumamnya dalam hati sambil menutup pintu kamarnya. Bram lalu menuju ke tempat tidurnya untuk beristirahat, namun mata susah terpejam. Bram bisa memejamkan matanya saat waktu sudah dini hari.
Pagi harinya bapak Bharata dan ibu Murti sudah siap untuk menjalankan rencana mereka dengan keluarga Mahendra untuk pergi ke beautiful hill melihat rumah orang tua mamah Indah, dan melihat sapi papah Mahendra. Sebab papah Mahendra menceritakan sapi nya dengan berapi api, membuat bapak Bharata ingin melihatnya. Sedangkan ibu Murti tertarik dengan cerita kebun bunga yang diceritakan oleh mamah Indah.
__ADS_1
"Bram kok belum keluar kamar ya Bu?" tanya Bapak Bharata pada ibu Murti saat sudah duduk di loby hotel sambil minum kopi.
"Coba Bapak lihat, siapa tahu masih tidur" ucap Ibu Murti
"Iya kebiasaan anak itu" ucap Bapak Bharata sambil bangkit berdiri menuju ke kamar Bram.
Bapak Bharata mengetuk pintu berkali kali namun tidak ada perubahan dari pintu tersebut masih tertutup rapat. Bapak Bharata mengetuk pintu lebih keras. Nampak pegawai hotel mendekati bapak Bharata menawarkan kunci cadangan karena kuatir jika terjadi sesuatu di kamar hotelnya. Saat pintu akan dibuka dengan kunci cadangan bersamaan pula pintu terbuka nampak sosok Bram dengan wajah baru terbangun. Pegawai hotel kemudian undur diri.
"Bram cepat siap siap kamu, jangan sampai keluarga Mahendra menunggu lama" ucap Bapak Bharata. Bram hanya menganggukkan kepala lalu masuk kamar dan bersiap siap.
Tidak lama kemudian Mereka bertiga sudah siap di dalam mobil untuk pergi menuju ke rumah keluarga Mahendra. Rencana acara adalah makan pagi bersama kemudian dilanjutkan perjalanan menuju ke beautiful hill.
Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di rumah keluarga Mahendra. Mereka selanjutnya makan pagi bersama dengan wajah wajah cerah mereka, kecuali Bram karena kurang tidur dan masih memikirkan kabar dari Jecklyn yang belum dia sampaikan pada bapak Bharata. Karena sejak di hotel sampai di meja makan, pembicaraan bapak Bharata tentang keinginantahuannya masalah ternak sapi. Papah Mahendra telah berhasil memprovokasi bapak Bharata mengatakan kalau ternak sapi usaha menjanjikan di masa pensiun.
Setelah selesai makan pagi mereka berenam siap siap berangkat ke beautiful hill. Bram ditugaskan menjadi sopir di sampingnya duduk Nindya menemani. Sedangkan ibu Murti dan mamah Indah duduk bersebelahan di belakang kemudi, selanjutnya papah Mahendra dan bapak Bharata duduk di jok belakang.
Mobil berjakan meninggalkan rumah dengan kecepatan sedang. Terlihat di dalam mobil mereka berbincang bincang dengan temanya masing masing dengan teman ngobrol sebelahnya. Nindya hanya diam karena melihat Bram sepertinya mood nya tidak begitu baik.
"Apa mas Bram masih kecewa dengan keputusan semalam" begitu gumam Nindya dalam hati mengira ngira.
Mobil terus berjalan dan mulai memasuki jalan tol, saat di jalan yang lurus dan rata dalam kilometer yang lumayan panjang, tiba tiba mobil melaju dengan kecepatan penuh. Semua penumpang di dalam mobil langsung berhenti dengan kegiatannya karena kaget..
"Masssss Brammmm!" teriak Nindya
Lalu...
Citttttt cit....cit... cittttt....suara rem mendadak
__ADS_1
***
bersambung