Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
73. Calon istri


__ADS_3

"Apa pak Toni bapaknya Devina?" tanya ibu Murti lagi sebab Arum belum menjawab, terlihat Arum masih menatap Devina yang berjalan di samping pak Toni


"Bukan, papahnya bukan pak Toni" jawab Arum yang pandangan matanya masih melihat Devina.


"Iya Pak Toni kolega dekatnya Om Prabu, sepertinya dulu Prabu pernah ketemu Devina saat di rumah" ucap Ibu Murti sambil mengingat ngingat.


Terlihat pak Toni berjalan menuju ke tempat duduk Om Prabu yang tidak jauh dari tempat duduk bapak Bharata dan Bram.


"Selamat ya Bram" ucap Pak Toni menjabat tangan Bram sebelum menuju ke tempat Om Prabu


"Terimakasih Pak" jawab Bram menyambut jabatan tangan pak Toni. Devina yang berjalan di belakang pak Toni juga ikut menyalami Bram.


Terlihat Pak Toni kemudian menyalami pak Bharata, kemudian menyalami Om Prabu dan duduk di samping Om Prabu. Sedangkan Devina tertinggal duduk di samping Bram dan mengajak bercakap cakap, padahal Bram sebenarnya malas menanggapi, pandangan mata Bram malah tertuju pada tempat duduk Nindya.


"Kamu datang dengan siapa Ton?" tanya Om Prabu pada pak Toni yang usianya seumuran.


"Keponakan" jawab pak Toni dengan senyum menyeringai


"Keponakan dari hongkong" ucap Om Prabu


"Ha...Ha..." lalu mereka berdua tertawa


"Dev...sini" ucap Pak Toni dengan suara sedikit keras , dan Devina pun menoleh ke arah suara pak Toni, kemudian pamit dengan centilnya pada Bram lalu berjalan menuju ke pak Toni


"Kamu belum kasih salam pada pak Bharata dan pak Prabu, pak Prabu pengen kenalan denganmu" ucap Pak Toni dengan senyum dan merangkul pundak Devina yang sudah duduk di sampingnya. Devina lalu menyalami pak Bharata dan Om Prabu.


Nampak seorang pembawa acara berjalan dan berdiri di depan, kemudian menyampaikan kalau acara akan segera dimulai. Terlihat ibu Murti berjalan menuju ke tempat bapak Bharata dan Bram berada. Sedangkan Arum, Nindya dan Lilian masih di tempat duduknya.


Acarapun dimulai, terlihat Bram berdiri di depan di dampingi okeh orang tuanya. Pak Bharata menyampaikan ucapan terimakasih atas kehadiran tamu undangan dan atas kerja samanya selama ini. Kemudian menyampaikan rasa syukur atas kelulusan Bram dan Bram akan mengantikan posisinya di perusahaan. Kemudian undangan di persilakan menikmati hidangan.

__ADS_1


Disela sela acara, nampak Devina berjalan menuju ke tempat Arum berada.


"Sekarang kamu semua tidak bisa mengusir aku" ucap Devina dengan senyum liciknya.


"Kalau kalian mengusir aku, keluarga Bharata akan mempermalukan diri di depan koleganya" ucapnya lagi.


Arum, Nindya dan Lilian hanya diam saja enggan meladeni karena menjaga nama baik keluarga Bharata.


Saat para undangan sedang menikmati jamuan pembuka. Bapak Bharata terlihat berdiri lagi di depan lalu menepuk tangan tiga kali sebagai kode minta perhatian.


"Tidak mengurangi kenyamanan saudara saudara menikmati jamuan, saya butuh perhatiannya sebentar. ada sesuatu lagi yang ingin saya sampaikan" ucap Bapak Bharata dengan penuh wibawa. Nampak semua tamu undangan menatap bapak Bharata dan menajamkan pendengar an nya, menunggu informasi apa yang akan disampaikan.


"Anak saya Bram bisa lulus dengan waktu lebih cepat dan dengan nilai melebihi ekspektasi saya, karena dukungan dari seorang wanita spesial bagi Bram, dia adalah Nindya calon menantu saya" ucap Pak Bharata kemudian. Terlihat tamu undangan nampak bahagia mendengar informasi tersebut, namun tidak dengan Devina. Sedangkan Nindya menjadi gugup dan deg degan.


"Pasti saudara saudara penasaran dengan sosok wanita spesial Bram" ucap pak Bharata lagi. Tamu undangan mengiyakan. Kemudian Pak Bharata memberi kode pada Bram. Lalu Bram berjalan menuju ke tempat duduk Nindya dan menggandeng tangan Nindya untuk mengajaknya berjalannya menuju ke depan.


"Aku akan memberi selamat pada wanita spesial Bram itu" ucap Devina lalu bangkit berdiri. Arum dan Lilian mencium niat jahat Devina, lalu juga ikut berdiri dan berjalan menuju tempat Nindya berada. Sedangkan Devina justru berjalan menuju ke tempat minum, dia mengambil soft drink yang berwarna merah. Dia berniat akan menumpahkan soft drink tersebut di tubuh Nndya. Saat dia sudah membawa gelas berisi soft drink dia membalikkan tubuhnya dengan tidak hati hati, bersamaan dengan itu ada petugas wisma yang sedang membawa nampan berisi banyak gelas berisi minuman sisa, bermacam macam jenis minuman ada sisa kopi, teh, aneka soft drink.


Semua tumpah mengenai tubuh Devina termasuk soft drink yang dipegang Devina. Petugas wisma terlihat kaget dan memohon maaf. Sementara Devina bajunya sudah basah kuyup dengan aneka warna jenis minuman dan aneka aroma minuman. Terlihat Devina marah marah pada petugas wisma.


"Maaf masalahnya Tante tidak hati hati" ucap petugas wisma


"Panggil tante lagi" ucap Devina dengan geram. Mereka terlihat adu mulut, sedangkan tamu undangan yang lain fokus memperhatikan Nindya dan Bram yang berada di depan, terlihat Bram dengan bangga mengenalkan Nindya sebagai calon istrinya. Tamu undangan tidak mempedulikan yang terjadi di tempat minuman, mereka pikir hanya kesalahan petugas biasa.


Devina merasa malu, marah, sebel, mangkel menjadi satu lalu dia berjalan menuju ke tempat pak Toni berada lalu menarik tangan pak Toni untuk diajak ke luar dari ruangan pertemuan tersebut. Pak Toni terlihat kaget dan bingung dengan penampilan Devina mau tak mau dia ikut keluar karena tangannya ditarik dengan paksa oleh Devina.


Kejadian tarik menarik dan penampilan. Devina sedikit menarik perhatian tamu undangan, namun hanya sebentar mereka menoleh.


Setelah Bram mengenalkan Nindya, tamu undangan dipersilahkan menikmati jamuan lagi sepuasnya. Hingga acara selesai.

__ADS_1


Kini tinggal keluarga Bharata yang berada di ruang pertemuan. Mereka sudah siap siap akan pulang. Terlihat Ibu Murti mendekati Om Prabu


"Apanya pak Toni, si Devina itu?" tanya Ibu Murti


"Entahlah, katanya keponakan" jawab Om Prabu sambil mengangkat kedua bahunya


"Ora jelas" gumam ibu Murti.


Mereka lalu meninggalkan ruangan pertemuan. Bram mengantar Nindya dan Lilian pulang ke kostnya.


Setelah sampai di kost, Nindya dan Lilian turun dari mobil.


"Mas Bram pulang apa tidur di kost?" tanya Nindya saat sudah berada di luar mobil, melongok di jendela mobil yang terbuka.


"Di kost aja, capek, mau nginjak injak enggak" goda Bram


"Enggak..." jawab Nindya lalu Nindya berjalan menyusul langkah Lilian yang sudah lebih dulu melangkah. Sedangkan Bram tertawa lalu menjalankan mobil nya menuju ke kostnya.


"Li... Li..." teriak Nindya


"Apa sih, aku jalan duluan tuh ngasih kesempatan buat kalian siapa tahu mau kasih salam malam he...he..." ucap Lilian saat Nindya sudah berjalan di sampingnya.


"Eh Li ada sesuatu yang pengen kutanyakan ke kamu" ucap Nindya saat mereka sudah berada di depan kamar Nindya


"Apa?"


"Devina?" tanya Lilian lagi


"Bukan tapi Om Prabu, aku ga enak tanya ke mas Bram" ucap Nindya

__ADS_1


"Tapi besuk aja, aku capek banget mau tidur" ucap Nindya lalu membuka kunci pintu kamarnya


"Aku juga capek Nin, tapi capek bahagia ya " ucap Lilian sambil tersenyum lalu berjalan menuju ke kamarnya


__ADS_2