
Beberapa bulan kemudian usia kehamilan Nindya sudah pada saatnya hari hari menjelang kelahirannya. Sehabis mandi Nindya duduk di kursi di depan kaca riasnya.
“Nin.. kita ke rumah sakit sekarang ya..dari pada kesakitan seperti waktu kelahiran Andru dulu.” ucap Bram sambil mencium puncak kepala Nindya dengan lembut, bau harum rambut Nindya semakin Bram mencium dengan mendalam.
“Tapi belum merasa mulas mulas tuh Mas..” ucap Nindya sambil melihat wajah suaminya di pantulan kaca riasnya.
“Tidak apa apa, aku sudah pesan kamar vip di rumah sakit.” jawab Bram sambil melihat wajah istrinya di pantulan kaca rias. Bram tersenyum lalu kembali mencium puncak kepala Nindya. Dia gemas karena melihat wajah Nindya semakin cantik dan segar.
“Meskipun kita belum tahu jenis kelamin anak kedua kita akan tetapi sudah kupastikan dia perempuan.” ucap Bram kemudian sambil tersenyum, kini tangannya membelai perut buncit Nindya.
“Jangan mendahului takdir Mas.” ucap Nindya sambil mengusap usap tangan Bram yang masih membelai perutnya. .
__ADS_1
Namun sesaat kemudian terdengar suara dering di hape Bram. Bram lalu segera berjalan menuju ke nakas tempat dia menaruh hapenya. Terlihat di layar kontak hapenya ada nama Farid.
“Ada apa anak itu pagi pagi menelpon.” gumam Bram sambil menggeser tombol hijau.
“Bram... huks... huks.. huks...” terdengar suara tangis Farid di sebarang sana saat Bram sudah menggeser tombol hijau. Bram terlihat kaget karena baru kali ini dia mendengar Farid menangis.
“Ada apa Rid ?” tanya Bram dengn nada kaget.
“Huks.. huks.. Rita ... Rita ..” jawab Farid namun kalimatnya tidak berlanjut, Farid masih terisak isak.
“Ada apa dengan Rita, Mas?” tanya Nindya yang kini matanya mulai berkaca kaca. Sebab terakhir dia mendengar kabar Rita positif terkena virus covid varian yang sangat membahayakan sepulang dari seminar di luar negeri. Air mata Nindya mulai meleleh memikirkan sesuatu hal buruk terjadi pada Rita.
__ADS_1
“Rita. Rita baru saja meninggalkan aku Bram.. huks...huks...” ucap Farid kemudian. Dan terlihat tubuh Bram pun melemas, mata Bram pun mulai memerah.
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" ucap Bram pelan sambil memeluk istrinya. Sedangkan Nindya yang mendengar ucapan Bram langsung lemas tubuhnya menangis dan bersandar di tubuh suaminya.
“Kapan dimakamkan?” tanya Bram.
“Nanti, tetapi dengan protokol covid, hanya aku yang bisa ikut ke pemakaman dengan pakaian apd lengkap.” jawab Farid.
“Yang tabah ya Rid, kita manusia hanya dititipi oleh yang Kuasa. Semua ciptaanNya akan kembali kepada Nya.” ucap Bram selain dia menghibur Farid juga menghibur Nindya yang masih menangis di pelukannya.
“Nanti kirim link zoom nya ya, kami akan mengikiti proses pemakaman Rita lewat zoom.” ucap Bram kemudian.
__ADS_1
“Bram tolong sampaikan kabar duka ini pada Nindya dan Lilian ya. Aku sudah tidak ada waktu untuk mengabari mereka secara pribadi. Mintakan maaf pada mereka sagala kesalahan Rita istriku saat masih hidup.” ucap Farid kemudian
“Iya iya Rid.. nanti aku sampaikan pada Lilian, Nindya sudah tahu ini dia sedang menangis di sampingku.” jawab Bram.. Dan selanjutnya sambungan telpon terputus.