
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Nindya di dalam mobil berlatih duduk yang diajarkan Lilian, berkali kali dia mencoba menegakkan punggungnya, berkali kali juga Bram melirik ke arahnya.
"Punggungmu kenapa?" tanya Bram
"Pegel?" tanya Bram lagi sebelum mendapat jawaban dari Nindya
"Enggak" jawab Nindya
"Nervous?" tanya Bram sambil tangan kirinya memegang sebentar tangan Nindya
"Santai saja" ucap Bram kemudian, yang dijawab dengan senyuman dan anggukan kepala oleh Nindya.
Beberapa menit kemudian mobil sampai di depan rumah orang tua Bram. Terlihat pintu pagar sudah dibukakan oleh seorang laki laki penjaga rumah di malam hari. Bram menjalankan mobilnya memasuki halaman rumah.
Mobil berhenti di dekat pintu rumah, Bram membuka pintu mobilnya demikian juga Nindya.
"Aku tuh mau membukakan pintu buatmu" ucap Bram
"Bisa buka sendiri mas" jawab Nindya sambil tersenyum
"Ya sudah kamu tunggu sebentar, aku parkir dulu mobilnya" ucap Bram kembali menutup pintu dan menjalankan mobilnya untuk diparkir di tempatnya.
Nindya berdiri menunggu Bram degupan jantungnya semakin terasa lebih cepat telapak tangannya pun terasa dingin. Tidak berapa lama Bram sudah berada di dekatnya. Tangannya digandeng oleh Bram.
"Dingin tanganmu" ucap Bram
"Pengaruh ac mobil" jawab Nindya bohong
"Kuberi kehangatan" ucap Bram sambil mengeratkan genggaman tangannya sambil tersenyum menatap Nindya
Mereka berjalan menuju ke pintu rumah. Bram memencet tombol bel, dia tahu kalau malam hari pasti pintu sudah terkunci.
Tidak lama kemudian pintu terbuka nampak sosok Mak dibalik pintu. Terlihat ekspresi wajah Mak sedikit kaget
"Wah mbak Nindya cantik sekali" puji Mak dengan ekspresi wajah penuh kekaguman.
"Terimakasih Mak" jawab Nindya
"Mas, kue nya ini gimana?" tanya Nindya bingung gimana cara menyampaikan oleh oleh nya
"Oo kasih saja ke Mak" jawab Bram sambil mengajak Nindya melangkah masuk ke dalam rumahnya. Terlihat Nindya memberikan kue yang dibawa kepada Mak. Mak menerima nya lalu menutup pintu seterusnya berjalan masuk mengikuti mereka berdua.
"Weh ini kue kesukaan Ibu" gumam Mak sambil berjalan di belakang mereka
Bram membawa Nindya memasuki ruang tamu sedangkan Mak berlalu berjalan menuju ke belakang.
"Kamu duduk di sini sebentar, aku panggil bapak dan ibu" ucap Bram saat mereka sudah berada di dekat kursi ruang tamu.
Lalu Nindya duduk di salah satu kursi ruang tamu tersebut. Nindya matanya mengitari isi ruang tamu yang besar dengan satu set kursi ruang tamu terbuat dari kayu jati dengan model ukiran klasik, nampak di dinding terpampang hiasan dinding besar berisi deretan tulisan tinta emas tentang silsihan keluarga tertulis juga nama Bram di deretan bawah.
__ADS_1
"Ini mbak minumannya teh hangat" ucap Mak sambil menaruh satu cangkir teh. Kedatangan Mak menghentikan kegiatan mata Nindya yang mengitari ruangan
"Terimakasih Mak" jawab Nindya sambil menatap Mak
Tidak lama kemudian muncul sosok ibu Murti sedangkan di belakangnya ada Bram tidak jauh dari ibu Murti berjalan memasuki ruang tamu.
Sesaat Nindya bingung harus bagaimana mulai menyapanya. Terlihat Nindya berdiri sambil menganggukkan kepala
"Selamat malam" ucap Nindya dengan sedikit grogi
"Malam, Silahkan duduk" ucap Ibu Murti dengan tangan memberikan ibu jarinya sebagai simbul mempersilahkan. Nindya kemudian kembali duduk dengan hati hati mengingat pesan dari Lilian. Ibu Murti kemudian juga terlihat duduk dengan anggunnya, sedangkan Bram mengambil duduk tidak jauh dari Nindya. Mata Nindya mengamati bagaimana cara ibu Murti duduk.
"Siapa namamu?" tanya ibu Murti sambil mengamati Nindya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Nah loh mereka jadi saling mengamati satu sama lain.
"Nindya, Tante" jawab Nindya
"Panggil Ibu saja"
"Sapa nama lengkapmu?" tanya ibu Murti lagi
"Baik Bu" ucap Nindya
"Nindya Ending Putri Mahendra" ucap Bram dengan maksud membantu Nindya
"Bram" ucap Ibu Murti tanpa menatap Bram sebagai peringatan beliau tidak suka Bram menyaut. Bram kemudian diam.
"Nindya Ending Putri Mahendra, Bu" ucap Nindya memgulangi apa yang diucapkan Bram karena memahami situasi.
"Sejak saya semester satu mas Bram semester lima" jawab Nindya dengan hati hati
"Sudah lama juga" gumam ibu Murti yang terdengar di telinga Nindya dan Bram
"Orang tua masih lengkap?" tanya ibu Murti
"Masih Bu" jawab Nindya
"Apa pekerjaan orang tuamu?" tanya Ibu Murti
"O ya sambil diminum teh nya" ucap Ibu Murti kemudian sambil mempersilahkan Nindya minum teh. Tetapi Nindya bingung karena hanya ada satu cangkir teh di meja. Juga dia bingung bagaimana etika minum teh di keluarga ini. Nindya menoleh ke arah Bram, dan Bram menganggukkan kepala. Nindya lalu mengambil cangkir dan lepek /tatakannya pelan pelan, kemudian meminum sedikit lalu di taruh lagi cangkir dan tatakannya di meja. Semoga tidak salah begitu gumamnya
"Bapak guru Bu" jawab Nindya setelah selesai menaruh cangkir dan tatakannya. Terlihat Ibu Murti menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis sekali.
"Sama punya usaha bimbingan belajar, dan ternak sapi Bu" ucap Bram menambahkan
"Bukan ternak sapi Bu, hanya punya beberapa ekor saja" ucap Nindya mengoreksi ucapan Bram
"Eh maksudnya beberapa sapi utuh ada kepala badan kaki dan ekornya, bukan ekor nya saja" ucap Nindya memberi penjelasan namun terlihat Ibu Murti tersenyum tipis, sedang Bram terlihat langsung tertawa mendengar penjelasan Nindya.
"Lha iya sapi utuh sempurna mosok ekor saja, itu untuk sop buntut kalau ekor saja" ucap Bram sambil masih tertawa.
__ADS_1
Namun sesaat muncul sosok bapak Bharata sambil berkata
"Bram, Bu ayo ngobrol di ruang keluarga saja aku sudah selesai mandi" ucap Bapak Bharata sambil mengangguk menatap Nindya, Nindyapun juga membalas anggukan. kepala dan tersenyum.
"Ayo ke dalam" ajak Ibu Murti yang mendahului bangkit berdiri dengan anggun lalu berjalan menyusul suaminya
Di ruang tamu sesaat hanya ada Nindya dan Bram
"Mas, deg deg an kayak test wawancara" ucap Nindya setengah berbisik agar hanya Bram yang dengar
"Santai saja, ayok" ucap Bram sambil berdiri mengusap usap lembut punggung Nindya yang masih duduk. Rasanya tubuh Nindya lemas karena deg degan.
Bram lalu menggandeng tangan Nindya yang dingin dengan lembut memberi kehangatan dan kekuatan. Mereka kemudian berjalan masuk ke ruang keluarga, di dalam ruang keluarga terlihat bapak Bharata sudah duduk di sofa yang berada di ruang keluarga di dekatnya duduk Ibu Murti dengan anggunnya, tidak jauh dari situ juga ada Om Prabu yang juga duduk di sofa.
Bram lalu mengajak Nindya duduk dan diapun duduk di dekat Nindya. Nampak di meja ada beberapa minuman mineral dan makanan kecil tersaji termasuk kue dari Nindya sudah terpotong potong tersaji di atas piring elegan.
"Pak, Om ini Nindya teman spesial ku" ucap Bram mengenalkan Nindya sambil tersenyum bangga
"Makanya kuliah mu jadi bener, ada yang spesial di kampus" ucap om Prabu sambil menatap Nindya
"Sampai dibela belain kost di depannya" saut bapak Bharata
"Kok bapak tahu?" ucap Bram kaget
Tidak lama kemudian Mak muncul dari belakang
"Bu, makan malam sudah siap mau sekarang apa nanti?" ucap Mak saat sudah berada di dekat mereka
"Tunggu sebentar Mak" ucap Ibu Murti.
Selanjutnya mereka melanjutkan berbincang bincang sejenak. Percakapan di antara mereka terlihat lebih santai mereka lebih banyak membahas tentang perubahan diri Bram setelah kenal Nindya. Selanjutnya mereka pindah ke ruang makan untuk makan malam bersama. Nindya terlihat lebih rileks hingga acara makan malam selesai.
Setelah makan malam mereka melanjutkan bincang bincang lagi di ruang keluarga. Setelah merasa cukup Bram meminta ijin untuk mengantar Nindya pulang.
"Pak, Bu, Om pamit dulu ya ngantar Nindya pulang jam sepuluh harus sudah sampai kost" ucap Bram
"Iya baiklah" jawab bapak Bharata dan anggukan kepala oleh Ibu Murti
"Kamu bawa mobil ku lagi saja Bram" ucap Om Prabu
"Tapi Bram mau tidur di kost Om" jawab Bram
"Tapi besuk pagi masih jadwal trainingmu" ucap Om Prabu kemudian
"Baik Om, besuk pagi Bram pulang rumah" jawab Bram lagi.
Bram lalu bangkit berdiri begitupun Nindya. Nindya pamit sambil menjabat tangan satu persatu orang tua Bram dan Om Prabu, tidak lupa pamit pada Mak yang ikut masuk ke ruang tamu dan berjalan sampai depan mengantar kepulangan Nindya dan Bram ke kost.
Mobil lalu melaju di jalan raya menuju ke kost Nindya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mobil sampai di depan kost Nindya, saat mobil sudah berhenti Nindya akan membuka pintu mobil namun sesaat tangan Bram sudah memegang tangan Nindya yang akan membuka pintu mobil.
"Nin..."